Polines Perkuat Sertifikasi Kompetensi, Bekali Lulusan dengan Keahlian yang Relevan Dunia Kerja

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Politeknik Negeri Semarang (Polines) terus memperkuat upaya meningkatkan kualitas lulusan melalui pengembangan dan perluasan akses sertifikasi kompetensi.
Langkah tersebut dilakukan dengan membangun kolaborasi bersama perguruan tinggi, lembaga sertifikasi, pemerintah, dan dunia industri.
Komitmen itu ditandai dengan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Pembinaan Pelatihan dan Sertifikasi Mandiri dengan sejumlah perguruan tinggi di Aula Gedung Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES), beberapa waktu lalu.
Kerja sama tersebut melibatkan Pusat Pembinaan Pelatihan dan Sertifikasi Mandiri bersama UNNES, Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Semarang, dan Universitas Pekalongan.
Direktur Polines, Dr. Garup Lambang Goro, S.T., M.T., yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama. Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci untuk memastikan kompetensi lulusan tetap sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Menggandeng pemerintah, menggandeng industri, itu yang paling penting. Lalu juga menggandeng partner-partner, khususnya dalam bagaimana menjamin lulusan kami itu memang berkualitas,” ujarnya, dikutip dari keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Garup menjelaskan, Polines selama ini telah memberikan perhatian terhadap sertifikasi kompetensi mahasiswa maupun lulusan. Salah satunya melalui sertifikasi P1 yang telah diterapkan di lingkungan kampus.
Namun, perkembangan kebutuhan profesi dan industri membuat akses sertifikasi perlu terus diperluas melalui kerja sama dengan lembaga sertifikasi profesi.
“Alhamdulillah di Polines, lulusan kami itu sudah disertifikasi untuk P1 dari perbankan sendiri. Tetapi P1 itu punya keterbatasan, sehingga nantinya harus menggandeng P3 untuk sertifikasi dengan LSP-LSP,” jelasnya.
Menurutnya, sinergi dengan lembaga sertifikasi dan asosiasi profesi tidak hanya memberikan peluang bagi mahasiswa dan lulusan untuk memperoleh pengakuan kompetensi, tetapi juga membuka ruang bagi dosen untuk terus mengikuti perkembangan kebutuhan profesional.
Garup menilai sertifikasi kompetensi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar dokumen pendamping ijazah. Sertifikasi dapat menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi apakah pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan masih relevan dengan perubahan dunia kerja.
“Sertifikasi kompetensi memang bukan hanya sekadar pembuktian saja, tetapi juga untuk mengoreksi kami sendiri, seberapa update ilmu-ilmu yang kita berikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada pembelajaran di lingkungan kampus. Perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak cepat menuntut institusi pendidikan untuk terus melihat perubahan yang terjadi di dunia profesi.
“Sehingga kita akan menjadi lebih luas cara pandang kita, tidak hanya berada di kampus saja, tetapi melihat terus apa yang bergerak di luar,” lanjutnya.
Melalui kerja sama tersebut, Polines berharap hubungan antara perguruan tinggi dengan lembaga sertifikasi, asosiasi profesi, pemerintah, dan industri dapat semakin kuat.
Sinergi tersebut diharapkan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing lulusan Polines di tengah kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya bersama perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mengantongi kompetensi profesional yang diakui serta relevan dengan kebutuhan industri. (*)