Inovasi UNDIP Percepat Pengeringan Rumput Laut Brebes, dari 18 Jam Jadi 8 Jam

UNDIP bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan Brebes, dalam melaksanakan kegiatan “Peresmian Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara” di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. (Dok UNDIP)

SOROTJATENG.ID, BREBES – Petani rumput laut di Kabupaten Brebes kini memiliki alternatif teknologi untuk mempercepat proses pengeringan sekaligus menjaga kualitas hasil budidaya.

Tim peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara berkapasitas hingga 2.000 kilogram.

Teknologi tersebut diresmikan di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, melalui kolaborasi UNDIP bersama Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta Pemerintah Kabupaten Brebes.

Inovasi yang dikembangkan tim peneliti UNDIP dipimpin Prof. Dr. Moh Djaeni, S.T., M.Eng., dosen Fakultas Teknik UNDIP. Teknologi tersebut dirancang untuk menjawab persoalan pengeringan rumput laut yang selama ini masih bergantung pada panas matahari dan kondisi cuaca.

Dengan unit pengering tersebut, proses pengeringan rumput laut yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 18 jam melalui penjemuran manual dapat dipersingkat menjadi sekitar 8 jam.

Selain mempercepat proses, penggunaan ruang pengering tertutup juga ditujukan untuk menghasilkan rumput laut yang lebih higienis karena dapat mengurangi risiko kontaminasi debu, kotoran hewan, air, maupun sumber pencemaran lainnya.

Teknologi Surya dan Biomassa

Unit pengering tersebut memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas utama dan biomassa sebagai sumber panas pendukung. Teknologi dehumidifikasi menggunakan adsorber zeolit untuk menurunkan kelembapan udara sebelum udara dipanaskan dan dialirkan ke ruang pengering.

Sirkulasi udara di dalam ruang pengering dibantu blower dan fan exhaust agar aliran udara panas lebih merata. Sistem tersebut juga dilengkapi RH meter untuk mengukur kelembapan serta anemometer untuk mengukur laju aliran udara.

Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap kondisi cuaca sekaligus membantu meningkatkan kualitas hasil rumput laut.

Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengatakan pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat, khususnya melalui hilirisasi hasil riset.

“Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, kalau bisa kami berikan inovasi yang terbaik dan gratis, melalui kolaborasi dan pengabdian masyarakat. Bersama-sama kita dukung budidaya rumput laut di Brebes,” jelasnya, dikutip dari keterangannya, Jumat (18/9/2026).

Ia berharap inovasi yang dikembangkan UNDIP bersama mitra dapat mendorong pengolahan rumput laut menjadi produk bernilai tambah sehingga Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Kami berharap apa yang dikembangkan Prof. Djaeni serta tim dari UNDIP dan Unwahas, bisa menjadi produk yang biasa diimpor agar bisa kita buat sendiri dan memiliki nilai tambah yang tinggi,” ujarnya.

Pengeringan Rumput Laut Masih Jadi Tantangan

Kabupaten Brebes merupakan salah satu wilayah yang mengembangkan komoditas rumput laut. Namun, keterbatasan teknologi membuat sebagian masyarakat masih mengandalkan metode penjemuran terbuka di pinggir jalan maupun kawasan tambak.

Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, mengatakan kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas rumput laut karena terbuka terhadap berbagai sumber kontaminasi.

“Dengan unit pengering rumput laut ini diharapkan meningkatkan kualitas produk olahan rumput laut. Ke depannya, kami juga meminta agar program ini berlanjut dengan pendampingan dan pelatihan oleh kampus kepada petani dan pelaku UMKM rumput laut,” katanya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dinilai dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Ibu yang telah menciptakan inovasi yang ekonomis dan berdampak bagi masyarakat,” ucap Ineke dalam menyampaikan pidato Bupati Brebes.

Pengembangan budidaya rumput laut di Desa Randusanga Kulon dilakukan bersama masyarakat dan pelaku UMKM di bawah binaan Kepala Desa Randusanga Kulon, H. Afan Setiono, S.E., M.Si.

UNDIP Dorong Hilirisasi Riset

Unit pengering rumput laut tersebut merupakan bagian dari hilirisasi hasil riset yang diperkenalkan kepada masyarakat melalui kerja sama tim peneliti UNDIP dengan tim peneliti Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) dan mitra PT Mutiara Global Industry dalam Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI.

Rektor Unwahas, Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., turut menyampaikan dukungan terhadap penerapan hasil penelitian perguruan tinggi di tengah masyarakat.

“Sekecil apapun hasil inovasi, kita berikan agar bermanfaat untuk masyarakat,” tuturnya.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jawa Tengah, Urip Sihabudin, S.H., M.H., yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, juga mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia berharap teknologi pengering rumput laut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan di wilayah lain di Jawa Tengah.

Peresmian unit dilakukan Rektor UNDIP bersama Direktur Pengolahan PDSPKP Budi Yuwono, S.STPi., M.P., yang mewakili Direktur Jenderal PDSPKP, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Brebes.

Setelah peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lokasi dan demonstrasi teknologi pengeringan rumput laut oleh tim peneliti Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP di Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Cahaya Mulia.

Selain inovasi pengering rumput laut, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) bersama Ditjen PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta DPD Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Jawa Tengah.

Program GEMARIKAN menjadi bagian dari edukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat tersebut diharapkan membuat hasil riset tidak berhenti di laboratorium.

Inovasi pengering rumput laut UNDIP ditargetkan menjadi teknologi yang dapat membantu masyarakat pesisir meningkatkan kualitas hasil budidaya sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi produk rumput laut. (*)

Editor