Unwahas Kembangkan Alat Peraga Sirkumsisi, Kurangi Ketergantungan Produk Impor

Unwahas mengembangkan alat peraga sirkumsisi untuk mahasiswa kedokteran sebagai alternatif produk impor dan mendorong hilirisasi hasil penelitian. (Dok Unwahas)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) terus mendorong hasil penelitian agar tidak berhenti di jurnal atau publikasi akademik.

Perguruan tinggi tersebut mulai mengarahkan riset menjadi produk yang bisa digunakan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah alat peraga praktikum sirkumsisi atau sunat untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Unwahas.

Produk tersebut dikembangkan sebagai alternatif alat peraga yang selama ini masih banyak didatangkan dari luar negeri.

Wakil Rektor III Unwahas Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Hilirisasi, Kewirausahaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Ratih Pratiwi, mengatakan ketergantungan terhadap produk impor menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk menghasilkan produk dalam negeri.

Menurut Ratih, Unwahas memiliki komitmen untuk mendorong hasil penelitian menuju tahap hilirisasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari program IDEA Unwahas, yang meliputi Internasionalisasi, Digitalisasi, Entrepreneurship, dan Leadership dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Aswaja.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unwahas, Dr. Imam Syafa’at, menjelaskan pengembangan alat peraga sirkumsisi dilakukan melalui kolaborasi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran.

Produk tersebut diperkenalkan saat Unwahas mengikuti Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo di Alun-Alun Masjid Agung Semarang, Kampung Kauman.

Dalam kegiatan itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti turut mengunjungi stan Unwahas dan melihat sejumlah hasil penelitian yang dipamerkan.

Imam menjelaskan, inovasi alat peraga sirkumsisi berangkat dari persoalan biaya praktikum yang relatif tinggi akibat penggunaan produk impor.

“Unwahas mengembangkan alat peraga untuk sirkumsisi karena saat ini alat peraga untuk praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran masih diimpor dari luar negeri. Akibatnya, biaya praktikum menjadi mahal,” tutur Imam, dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Tak hanya mengupayakan harga produksi yang lebih terjangkau, alat peraga tersebut juga dirancang dengan material yang memiliki karakteristik menyerupai kulit manusia.

“Keunggulannya, selain lebih murah, elastisitas bahannya menyerupai kulit manusia. Dengan demikian, saat digunakan untuk latihan tindakan sirkumsisi, alat peraga ini lebih mudah digunakan dan tidak mudah sobek,” jelasnya.

Pengembangan produk ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat diterapkan dalam proses hilirisasi penelitian di lingkungan kampus.

Fakultas Teknik berperan dalam rekayasa serta pengembangan produk, sedangkan Fakultas Kedokteran memberikan masukan berdasarkan kebutuhan pembelajaran dan praktik klinis mahasiswa.

Ke depan, kolaborasi tersebut akan terus diperluas agar lebih banyak hasil penelitian Unwahas yang dapat dikembangkan menjadi produk siap guna.

Langkah tersebut juga sejalan dengan dorongan peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui pengembangan industri dan hilirisasi.

Dengan mengembangkan alat yang sebelumnya masih bergantung pada produk impor, Unwahas berupaya mengambil bagian dalam membangun ekosistem inovasi berbasis hasil riset perguruan tinggi.

Selain alat peraga sirkumsisi, Unwahas juga memamerkan sejumlah inovasi lain dalam Bazaar Expo. Di antaranya alat sasaran tembak WahidArmor yang telah memiliki paten, aplikasi permainan (game), serta maket pabrik kimia interaktif.

Beragam produk tersebut menjadi bagian dari upaya Unwahas memperkenalkan hasil riset dan inovasi sivitas akademika kepada masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut menuju hilirisasi. (*)