Mahasiswa PPG UPGRIS Kenalkan AI kepada Guru SDN Gemah, Bikin Kuis Interaktif untuk Pembelajaran

Mahasiswa PPG PGSD UPGRIS melatih guru SDN Gemah membuat kuis interaktif berbasis AI untuk mendukung pembelajaran di sekolah dasar.

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah dasar.

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berbagi pengetahuan tentang pemanfaatan AI kepada guru SD Negeri Gemah, Kota Semarang.

Kegiatan tersebut dikemas melalui mata kuliah Projek Kepemimpinan dengan menggelar pelatihan bertajuk “Pembuatan Kuis Interaktif Digital bagi Guru Sekolah Dasar” pada 8 September 2026 lalu.

Pelatihan yang berlangsung di SDN Gemah, Jalan Sendang Utara, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, Semarang, itu menjadi ruang bagi mahasiswa dan guru untuk bersama-sama mengenal penggunaan teknologi AI dalam mendukung proses pembelajaran.

Ketua kelompok PPG Prajabatan Prodi PGSD UPGRIS, Hidayah Adwi Susanti, mengatakan AI saat ini semakin mudah diakses sehingga berpotensi membantu guru menyelesaikan berbagai pekerjaan, termasuk dalam menyiapkan asesmen dan perangkat pembelajaran.

“Atas dasar itu, kami menggelar Projek Kepemimpinan bertajuk ‘Pembuatan Kuis Interaktif Digital bagi Guru Sekolah Dasar’,” kata Hidayah, dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa PPG PGSD UPGRIS Tri Agusta Ilmiawan memberikan materi mengenai pembuatan kuis berbasis AI. Sementara Muhammad Zumamudin menyampaikan materi pembuatan modul ajar dengan memanfaatkan AI.

Menurut Hidayah, pemanfaatan AI dapat membantu guru membuat asesmen dengan lebih cepat sekaligus menghadirkan bentuk evaluasi yang lebih menarik bagi siswa.

“AI memiliki potensi besar untuk membantu guru membuat asesmen yang lebih cepat, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Guru SD membutuhkan alternatif kuis yang tidak hanya berupa soal tertulis, tetapi juga dapat memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kuis interaktif berbasis AI dapat digunakan sebagai asesmen formatif. Melalui metode tersebut, guru dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa selama proses pembelajaran.

“Dengan kuis interaktif berbasis AI, guru dapat memperoleh gambaran mengenai materi yang sudah dikuasai siswa maupun materi yang masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Namun, Hidayah menyadari penerapan teknologi baru tidak selalu mudah. Sejumlah kendala teknis masih dapat ditemui guru ketika membuat kuis interaktif menggunakan AI. Karena itu, pelatihan dirancang tidak hanya untuk mengenalkan teknologi, tetapi juga memberikan panduan praktis agar guru dapat menggunakannya secara tepat.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa PPG PGSD UPGRIS juga akan menyusun Buku Saku Integrasi Kuis dengan AI untuk diberikan kepada guru.

Buku tersebut akan memuat langkah-langkah penggunaan AI, contoh prompt, tahapan membuat kuis, serta tips penerapan teknologi tersebut dalam kegiatan pembelajaran.

“Nilai utama buku saku ini adalah sebagai panduan praktis yang dapat digunakan guru kapan saja setelah pelatihan selesai,” ungkap Hidayah.

Pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari bimbingan Dosen Projek Kepemimpinan PPG PGSD UPGRIS, Dr. Mei Fita Asri Untari, S.Pd., M.Pd., yang memberikan arahan dan pendampingan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.

Pelatihan juga mendapat respons positif dari guru SDN Gemah. Yani, salah seorang guru, mengaku semula merasa bingung dan ragu menggunakan AI karena terbiasa mengajar dengan alat peraga dan metode manual.

“Awalnya memang bingung dan ragu karena belum memahami AI. Tetapi setelah memahami, ternyata AI sangat membantu dan memang dibutuhkan dalam dunia pendidikan,” ujar Yani.

Guru lainnya, Nora, menilai AI dapat menyederhanakan pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan secara manual. Ia mengaku sudah mengenal sejumlah platform seperti ChatGPT, Gemini, dan Canva, tetapi pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru dalam membuat kuis interaktif dan modul ajar.

Nora sempat mengalami kesulitan ketika mempraktikkan scripting HTML dan Google Apps Script. Namun, kesulitan tersebut terbayar ketika kuis yang dibuat mampu berjalan secara otomatis dan hasilnya langsung terekap.

“Awalnya memang membingungkan saat praktik teknis. Tetapi ketika melihat hasilnya bisa berjalan otomatis dan rekapnya langsung muncul, rasanya sangat puas,” katanya.

Antusiasme guru bahkan membuat pelatihan yang berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 WIB terasa singkat. Guru yang semula berharap kegiatan segera selesai justru ingin mencoba lebih banyak fitur AI.

Bagi guru, salah satu manfaat terbesar teknologi tersebut adalah efisiensi waktu. Nora menyebut pembuatan satu modul ajar yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari secara manual kini dapat dipercepat dengan penggunaan prompt yang tepat.

“Dulu membuat satu modul bisa dua sampai tiga hari karena diketik manual. Dengan AI, modul dan soal bisa dibuat jauh lebih cepat hanya dengan beberapa prompt,” jelasnya.

Meski demikian, para guru sepakat AI tidak boleh menggantikan peran guru. Teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat bantu, terutama untuk mendukung pekerjaan administrasi dan persiapan pembelajaran.

Pembentukan karakter, nilai religius, pendekatan psikologis, serta pendampingan langsung terhadap siswa tetap menjadi tanggung jawab guru.

“AI hanyalah pendamping. Guru tetap memegang kendali utama karena siswa membutuhkan pembentukan karakter, nilai religius, tausiyah, dan pendekatan psikologis yang tidak bisa diberikan oleh AI,” tutur Nora.

Setelah mengikuti pelatihan, para guru mengaku lebih percaya diri menggunakan teknologi AI. Yani berharap kegiatan tersebut memiliki tindak lanjut sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat langsung diterapkan di kelas.

“Harapannya ada tindak lanjut. Ilmu yang sudah didapat bisa langsung dipraktikkan di kelas agar siswa juga mengenal teknologi seperti Gemini yang terhubung dengan Google Sheets dan Claude,” pungkasnya.

Pelatihan mahasiswa PPG UPGRIS tersebut menjadi salah satu contoh kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan.

AI tidak hanya dikenalkan sebagai teknologi baru, tetapi diarahkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan efisiensi kerja guru sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif. (*)