Bukan Sekadar Ikut Tren, Remaja Semarang Diajak Cerdas Pilah Informasi Kesehatan di Media Sosial

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Derasnya arus informasi di media sosial membuat remaja perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.
Tidak semua informasi yang viral di dunia digital dapat dijadikan rujukan dalam mengambil keputusan.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Fun Health Teens “Remaja Hebat” yang digelar Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama Immoderma di Oak Tree Emerald Semarang.
Mengusung tema “Smart Scrolling, Love Your Health”, kegiatan tersebut mengajak remaja tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang mereka temui setiap hari.
Sebanyak 30 siswa dan 15 guru pendamping dari 15 SMA/SMK di Kota Semarang mengikuti kegiatan tersebut. Materi yang diberikan mencakup kesehatan kulit, kesehatan mental, standar kecantikan, kecemasan, hingga cyberbullying.
Perwakilan Immoderma, Ina, mengatakan edukasi kepada remaja perlu dilakukan secara menyeluruh karena persoalan yang dihadapi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan penampilan.
“Kegiatan ini memang kami buat untuk memberikan edukasi kepada remaja, tidak hanya mengenai skincare dan bagaimana merawat kulit sesuai dengan kebutuhannya, tetapi juga mengenai pentingnya mental health,” ujarnya, dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Jangan Asal Ikut Tren Skincare
Salah satu persoalan yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah tren perawatan kulit yang berkembang pesat di media sosial.
Remaja diperkenalkan pada pentingnya mengenali kebutuhan kulit sebelum menentukan produk perawatan. Dengan demikian, keputusan menggunakan skincare tidak semata-mata karena produk tersebut sedang viral atau banyak digunakan oleh influencer.
Melalui sesi “Glow Up or Glow Down: Kenali Kulitmu Sebelum Menyesal”, dokter kecantikan Immoderma memberikan edukasi mengenai perawatan kulit sesuai kebutuhan.
Peserta juga mendapatkan kesempatan berkonsultasi dan berdiskusi mengenai persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Bagi Immoderma, edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya membantu remaja mengambil keputusan perawatan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Kesehatan Mental Jadi Perhatian
Selain persoalan skincare, kesehatan mental menjadi materi penting dalam kegiatan tersebut.
Peserta mendapatkan edukasi dari psikolog dan dokter spesialis kesehatan jiwa mengenai kecemasan, penerimaan diri, standar kecantikan, serta perundungan di dunia digital.
Persoalan tersebut dinilai semakin relevan karena media sosial tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh informasi, tetapi juga tempat remaja berinteraksi, membentuk citra diri, dan mendapatkan berbagai standar sosial.
Karena itu, kemampuan menyaring informasi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami diri sendiri.
Ina menuturkan, akses informasi yang semakin luas perlu diikuti dengan kemampuan remaja dalam memahami informasi yang mereka terima.
Edukasi kesehatan kulit dan kesehatan mental pun dinilai perlu berjalan bersama agar remaja memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai kesehatan dirinya.
Dari Penerima Informasi Menjadi Penyampai Pesan
Menariknya, Fun Health Teens tidak hanya menempatkan peserta sebagai penerima materi.
Dengan konsep “Learn – Experience – Create – Share”, peserta diajak berdiskusi, mengikuti permainan, berkonsultasi, hingga membuat gagasan kampanye kesehatan digital.
Melalui Creative Hackathon, para siswa bekerja dalam kelompok untuk menyusun ide kampanye kesehatan yang mudah dipahami dan dibagikan kepada teman sebaya.
Konsep ini mendorong siswa menjadi bagian dari ekosistem edukasi kesehatan. Informasi yang mereka dapatkan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat diteruskan ke lingkungan sekolah.
Maiya Arzaq, siswa SMA Negeri 3 Semarang, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pemahaman baru tentang kesehatan mental sekaligus cara memilih skincare.
“Kami mendapatkan pembekalan dan edukasi tentang mental health, serta belajar memilih skincare sesuai dengan kebutuhan kulit, bukan hanya mengikuti produk yang sedang tren,” ujar Maiya.
Sementara itu, guru SMK Negeri 7 Semarang, Siti Muzaroah, S.Pd., menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan siswa.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan skincare dan kesehatan mental dapat membantu siswa lebih sadar terhadap kesehatan diri di tengah banyaknya informasi yang beredar di media sosial.
Guru Diharapkan Jadi Penghubung Edukasi
Kehadiran guru pendamping dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas dampak edukasi.
Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan dapat dibagikan kepada teman-teman mereka, sementara guru dapat menjadi penghubung untuk melanjutkan pesan-pesan kesehatan di lingkungan sekolah.
Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Immoderma berharap kegiatan tersebut dapat mendorong terbentuknya kebiasaan baru di kalangan remaja, yakni lebih kritis terhadap informasi, lebih memahami kebutuhan tubuh dan mental, serta tidak mudah terbawa tren di media sosial.
Bagi Immoderma, keterlibatan dalam kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Karena bagi kami, Immoderma bukan hanya tentang kecantikan, tetapi juga tentang kepedulian. Sejalan dengan semangat kami, Immoderma Berbagi, Immoderma Peduli, karena Immoderma Cantik dari Hati,” tutur Ina.
Pada akhirnya, edukasi kesehatan bagi remaja tidak hanya tentang bagaimana terlihat baik, tetapi juga bagaimana memahami diri, membuat keputusan yang tepat, dan mampu menyebarkan informasi yang sehat kepada lingkungan sekitar. (*)