Kota Semarang Makin Ambles, Tanah Turun 10-15 Cm Tiap Tahun, Industri Diminta Tinggalkan Air Tanah

Lanskap Kota Semarang bagian bawah. Penurunan tanah di Semarang mencapai 10-15 cm per tahun. PDAM mengimbau industri menghindari air bawah tanah dan menyiagakan enam tangki air. (Sorotjateng/Zainal Arifin Chepin)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Kota Semarang menghadapi persoalan serius yang bergerak perlahan tetapi terus berlangsung.

Permukaan tanah dilaporkan mengalami penurunan hingga 10-15 sentimeter setiap tahun. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat, khususnya pelaku industri, diminta tidak lagi bergantung pada penggunaan air bawah tanah.

Penurunan permukaan tanah atau land subsidence menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan sumber daya air di Kota Semarang.

Penggunaan air bawah tanah pun menjadi sorotan karena kebutuhan air dalam jumlah besar dapat menambah tekanan terhadap sumber daya air tanah.

Kepala Humas PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Charisma Mayangsari, mengingatkan masyarakat untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap air bawah tanah.

Land subsidence atau penurunan permukaan tanah sekarang semakin parah, setahun 10-15 cm. Sehingga warga diimbau menghindari penggunaan air bawah tanah, khususnya industri,” ujar Charisma, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, industri menjadi salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian karena aktivitas operasionalnya membutuhkan pasokan air dalam jumlah relatif besar.

Imbauan untuk meninggalkan air bawah tanah tersebut tidak berarti kebutuhan air masyarakat dapat diabaikan. Justru, ketersediaan sumber air alternatif menjadi bagian penting agar masyarakat dan pelaku usaha tetap dapat memenuhi kebutuhannya.

Enam Tangki Disiapkan

PDAM Tirta Moedal memastikan dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan air tetap dilakukan, termasuk ketika terjadi kekeringan atau gangguan pasokan kepada pelanggan.

Charisma mengatakan pihaknya menyiagakan enam mobil tangki air, dengan kapasitas masing-masing mencapai 5.000 liter. Armada tersebut siap digunakan apabila dibutuhkan dalam penanganan kekeringan.

“Untuk bencana kekeringan, ditangani BPBD. Kami dari Tirta Moedal support penuh jika BPBD membutuhkan tangki air. Kami sediakan enam tangki dengan kapasitas 5.000 liter yang terus standby,” jelasnya.

Selain membantu penanganan kekeringan, mobil tangki tersebut juga dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang belum mendapatkan aliran air sesuai jadwal maupun pelanggan yang berada dalam kondisi mendesak.

“Untuk memenuhi kebutuhan air pelanggan yang tidak mendapat jadwal giliran atau mendesak membutuhkan,” katanya.

Persoalan penurunan tanah dan kebutuhan air bersih akhirnya menjadi dua hal yang saling berkaitan dalam pengelolaan Kota Semarang.

Ketika penggunaan air bawah tanah perlu dikurangi, di sisi lain pasokan air bagi masyarakat harus tetap tersedia.

Karena itu, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Masyarakat dan pelaku industri didorong menggunakan sumber air secara bijak, sementara penyediaan layanan air perpipaan dan dukungan distribusi melalui tangki menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan air tetap terpenuhi.

Dengan laju penurunan tanah yang disebut mencapai 10-15 sentimeter per tahun, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan air bukan sekadar menyangkut kebutuhan hari ini, tetapi juga kondisi lingkungan Kota Semarang dalam jangka panjang. (*)