Wisatawan Jerman Terpesona Desa Wisata Candirejo Magelang, Omzet Tembus Rp2,25 Miliar

SOROTJATENG.ID, MAGELANG – Desa Wisata Candirejo, Kabupaten Magelang, menawarkan pengalaman wisata berbasis kehidupan masyarakat yang memikat wisatawan mancanegara.
Sekitar 10 wisatawan asal Jerman menikmati perjalanan menyusuri desa menggunakan delman, menyaksikan proses pembuatan tempe dan keripik tempe, hingga mencoba memainkan gamelan bersama warga.
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bagaimana Desa Wisata Candirejo mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan panorama alam, tetapi juga mengangkat aktivitas sehari-hari, budaya, serta potensi ekonomi masyarakat lokal.
Dalam perjalanan menggunakan delman, wisatawan diajak mengenal kehidupan masyarakat desa. Rombongan kemudian mengunjungi industri rumahan pembuatan tempe untuk melihat langsung proses produksi hingga pengolahan tempe menjadi keripik.
Pengalaman semakin berkesan ketika wisatawan mencoba memainkan gamelan bersama masyarakat setempat. Kunjungan ditutup dengan menikmati teh hangat dan makanan ringan dalam suasana penuh keakraban.
Salah seorang wisatawan asal Jerman, Ina, mengaku terkesan dengan pengalaman yang diperolehnya selama berkunjung ke Candirejo. Ia bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat desa sekaligus mengenal proses produksi makanan yang selama ini hanya dinikmatinya dalam bentuk jadi.
“Hari ini sungguh luar biasa. Ada banyak hal berbeda yang bisa kami lihat, mulai dari pengalaman naik kuda, proses pembuatan berbagai produk, hingga melihat bagaimana masyarakat di sini menjalani kehidupan sehari-hari. Semua orang menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah,” ungkap Ina, Kamis (5/11/2026).
Menurut Ina, pengalaman melihat pembuatan keripik tempe menjadi salah satu hal paling menarik. Ia baru pertama kali mengetahui proses produksi makanan ringan tersebut dan menyadari besarnya usaha yang dibutuhkan untuk menghasilkan camilan sederhana.
Ia juga menikmati kesempatan memainkan gamelan. Karakter musik tradisional Indonesia yang berbeda dengan musik di Jerman membuat pengalaman tersebut terasa unik dan menyenangkan.
Kesan serupa disampaikan Anke, wisatawan Jerman lainnya. Kunjungan pertamanya ke Candirejo memberikan pengalaman menyenangkan, terutama karena keramahan masyarakat yang menyambut rombongan.
“Saya juga berasal dari Jerman, tepatnya dari wilayah utara dekat Hamburg. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini, dan saya benar-benar menikmatinya. Semuanya sangat menyenangkan,” kata Anke.
Desa Wisata Candirejo Magelang Berawal dari Keprihatinan Masyarakat
Pengalaman wisata yang dinikmati wisatawan mancanegara tersebut merupakan bagian dari konsep pariwisata yang dikembangkan Desa Wisata Candirejo sejak puluhan tahun lalu.
Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo, Ahmad Mudhofar Ersyidik, menjelaskan, pengembangan desa wisata mulai dirintis pada 1996. Gagasan tersebut muncul dari keprihatinan pemerintah desa karena Candirejo berada dekat dengan Candi Borobudur, tetapi masyarakat belum merasakan manfaat ekonomi secara optimal dari aktivitas pariwisata.
Pemerintah desa kemudian membentuk kelompok kerja untuk mengidentifikasi dan memetakan potensi wilayah. Setelah mendapat pendampingan lembaga swadaya masyarakat pada 1999, Candirejo ditetapkan sebagai proyek percontohan desa wisata Kabupaten Magelang.
Desa Wisata Candirejo akhirnya resmi diresmikan pada 2003. Pengelolaan pariwisata selanjutnya dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo yang menjadi penghubung pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha.
” Dalam perkembangannya, pengelolaan pariwisata dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo. Lembaga ini menjadi penghubung antara pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha dalam mengelola paket wisata,” tuturnya.
Ersyidik mengatakan, paket wisata Candirejo dirancang berbasis aktivitas masyarakat. Berbagai potensi lokal dilibatkan, mulai dari kelompok dokar, katering, kesenian tradisional, homestay, hingga industri rumahan.
Wisatawan yang mengunjungi industri rumahan tidak sekadar diarahkan untuk membeli produk. Mereka juga mendapatkan kesempatan melihat dan mempelajari proses pembuatannya secara langsung.
Omzet Desa Wisata Candirejo Capai Rp2,25 Miliar
Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat tersebut turut memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Pada 2025, omzet pengelolaan Desa Wisata Candirejo tercatat mencapai sekitar Rp2,25 miliar dalam satu tahun. Pendapatan tersebut menjadi salah satu indikator berkembangnya aktivitas pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal.
Manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan warga yang terlibat langsung dalam pelayanan wisata. Koperasi juga menyalurkan donasi dusun dan pembagian sisa hasil usaha (SHU) agar manfaat pariwisata menjangkau masyarakat di 15 dusun.
“Kurang lebih 80 persen masyarakat bisa tersentuh, baik secara langsung maupun tidak langsung,” jelas Ersyidik.
Selain meningkatkan pendapatan, keberadaan desa wisata turut membuka lapangan kerja dan mendorong generasi muda untuk mengenal serta mencintai kesenian tradisional. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan juga semakin meningkat seiring berkembangnya kunjungan wisatawan.
“Dulunya Candirejo merupakan desa miskin, sekarang sudah berubah dan naik kelas. Setelah jadi Desa Wisata, kami banyak dibantu oleh Pemprov Jateng untuk promosi,” terangnya.
Jawa Tengah Siapkan 1.000 Desa Wisata Baru
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, mengatakan pengembangan desa wisata menjadi strategi pemerintah untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan, khususnya di kawasan sekitar Borobudur.
Menurutnya, Candi Borobudur tetap menjadi magnet utama pariwisata. Namun, desa-desa di sekitarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai destinasi tambahan, mulai dari kerajinan, kuliner, kebudayaan, hingga ekonomi kreatif.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam mendorong pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Borobudur hanya menjadi magnetnya, tetapi wisatawan kita bawa untuk melihat berbagai potensi yang tersebar di desa-desa wisata,” ujarnya.
Untuk memperluas pengembangan pariwisata berbasis desa, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan peluncuran 1.000 desa wisata baru pada 23–25 November 2026 di Taman Budaya Jawa Tengah.
Hanung menyebut, saat ini Jawa Tengah memiliki 899 desa wisata yang telah berjalan. Dengan tambahan 1.000 desa wisata baru, jumlahnya ditargetkan meningkat menjadi 1.899 desa wisata.
Peluncuran tersebut akan dikemas melalui Festival Desa Wisata sekaligus pemilihan Mas dan Mbak Jawa Tengah.
Pengembangan Desa Wisata Candirejo menjadi salah satu contoh bagaimana pariwisata berbasis masyarakat mampu mengangkat potensi lokal, memperkuat budaya tradisional, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga desa. (*)
