Warga Wonobodro Batang Lega Sungai Tinap Ditata, Tak Lagi Cemas Banjir Bandang

Warga Wonobodro, Batang, lega setelah Sungai Tinap dinormalisasi sepanjang 800 meter. Penataan ini diharapkan mengurangi ancaman banjir bandang yang menghantui masyarakat sejak 2025. (Dok/Humas Pemprov Jateng)

SOROTJATENG.ID, BATANG – Warga Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, kini bisa sedikit bernapas lega setelah alur Sungai Tinap ditata kembali.

Normalisasi sungai sepanjang kurang lebih 800 meter tersebut menjadi harapan masyarakat untuk mengurangi risiko banjir bandang yang selama ini mengancam permukiman mereka.

Bagi warga Wonobodro, penataan Sungai Tinap bukan sekadar pekerjaan pengerukan sungai.

Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi jawaban atas kekhawatiran yang muncul sejak banjir bandang pada Januari 2025, ketika bebatuan berukuran besar dan material kayu dari kawasan hulu menutup salah satu aliran sungai.

Akibatnya, aliran air berpotensi berubah arah menuju jalur yang lebih dekat dengan permukiman warga.

Kondisi tersebut membuat masyarakat terus dihantui ketakutan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Gunung Kemulan.

Roslani, warga Desa Wonobodro yang tinggal di sekitar sungai, mengaku senang dengan penataan alur Sungai Tinap.

Dia masih mengingat betul banjir bandang yang membawa bebatuan dan kayu hingga meluber ke area persawahan.

Saat kejadian, rumah dan ternaknya berada tidak jauh dari sungai. Bahkan, dua ekor kambing miliknya mati akibat banjir tersebut.

“Alhamdulillah, saya senang sungainya dikeruk. Biar tidak banjir lagi. Kalau banjir, warga di sini takut dan kesusahan,” tandas Roslani, Senin (2/11/2026) kemarin.

Dua Tahun Warga Wonobodro Khawatir Banjir Bandang

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Arifin Untung, warga setempat yang menjabat Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Menurut Arifin, banjir bandang pada 2025 menyebabkan material longsoran menumpuk di percabangan Sungai Ngasinan.

Tumpukan bebatuan dan kayu tersebut mengubah aliran sungai sehingga memunculkan ancaman baru bagi warga.

Jika banjir besar kembali terjadi, air dikhawatirkan mengarah ke sungai di samping kampung. Terlebih, kawasan hulu Gunung Kemulan masih memiliki potensi longsor.

“Kami takutnya ketika banjir besar lagi, justru alirannya mengarah ke sungai yang di samping kampung. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten hingga provinsi, untuk mencari solusi,” ujar Arifin.

Warga bersama pemerintah desa sebelumnya telah mengusulkan normalisasi agar aliran sungai kembali terbagi menjadi dua jalur.

Harapannya, ketika banjir bandang terjadi, aliran air tidak terkonsentrasi pada satu jalur yang berdekatan dengan permukiman.

Arifin mengapresiasi keterlibatan Pemerintah Kabupaten Batang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang turun langsung meninjau kondisi sungai serta menentukan langkah penanganan.

“Kami mengapresiasi upaya Pak Gubernur Ahmad Luthfi dan Pemerintah Kabupaten Batang, untuk menata sungai ini lagi,” tuturnya.

Sungai Tinap Ditata Sepanjang 800 Meter

Menjawab kekhawatiran masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Batang dan Balai PSDA Pemali Comal melakukan penataan darurat alur Sungai Tinap.

Kepala Bidang Pengairan DPU PR Kabupaten Batang, Muhammad Luthfi, mengatakan material yang menutup aliran sungai memiliki ukuran cukup besar, bahkan mencapai sekitar dua meter.

Karena itu, pekerjaan membutuhkan ekskavator berukuran besar yang didukung melalui kolaborasi pemerintah provinsi dan kabupaten.

Penataan dilakukan sepanjang kurang lebih 800 meter, mulai dari lokasi pekerjaan hingga pertemuan dua aliran sungai. Proses pengerjaan berlangsung sekitar 17 hari dan telah selesai pada awal November 2026.

“Harapan warga memang agar dilakukan normalisasi, sehingga apabila terjadi banjir bandang lagi, aliran air bisa terbagi menjadi dua,” ujarnya, Senin (2/11/2026).

Muhammad Luthfi menyebut selesainya penataan sungai menjadi kabar baik bagi masyarakat yang selama ini dihantui ancaman banjir bandang.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah provinsi yang telah memfasilitasi pelaksanaan normalisasi tersebut.

Warga Berharap Tak Lagi Dihantui Banjir Saat Musim Hujan

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mengatakan penataan Sungai Tinap merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadapi musim hujan.

Sesuai instruksi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, sejumlah infrastruktur terus dibenahi untuk meminimalkan risiko bencana akibat hujan, mulai dari penanganan tanggul sungai, penataan alur sungai hingga perbaikan jalan rusak.

“Ada sejumlah titik kami lakukan. Misalnya di Brebes kita bangun bronjong tanggul sungai, di Batang penataan sungai dan juga ruas jalan yang rusak kami perbaiki,” terangnya.

Henggar memastikan pekerjaan penataan sungai di Batang telah selesai. Pemerintah juga mengupayakan pekerjaan infrastruktur lainnya rampung sesuai target sebelum puncak musim hujan. (*)

Editor