Warga Rangimulya Curhat ke Bupati Tegal: Bendung Rusak, Jalan Rawan Kecelakaan hingga Sampah

SOROTJATENG.ID, TEGAL – Sejumlah persoalan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat mencuat dalam kegiatan Dialog Interaktif dan Diseminasi Informasi Bupati Tilik Desa di Desa Rangimulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu.
Warga menyampaikan berbagai aspirasi kepada Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, mulai dari kepastian pengairan sawah, kerusakan Bendung Cipero, pengelolaan sampah, hingga kebutuhan lampu lalu lintas di ruas jalan yang dinilai rawan kecelakaan.
Persoalan Bendung Cipero menjadi salah satu aspirasi yang paling mendapat perhatian. Bendung tersebut mengalami kerusakan akibat banjir yang terjadi pada awal Maret 2026 setelah Sungai Rambut meluap. Dampaknya, distribusi air ke saluran irigasi pertanian terganggu.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi warga Rangimulya karena sebagian besar masyarakat menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.
Salah seorang warga, Sairin, meminta pemerintah memastikan kebutuhan air untuk lahan pertanian tetap terpenuhi menjelang musim tanam Oktober hingga Desember. Ia berharap kebutuhan pengairan tidak terganggu sembari menunggu pembangunan Bendung Cipero secara permanen.
Selain perbaikan bendung, Sairin mengusulkan bantuan mesin pompa air (mersible) di setiap blok pertanian. Menurutnya, keberadaan pompa dapat membantu petani yang belum mendapatkan aliran air secara merata, terutama saat memasuki musim tanam kedua atau MT II.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman mengatakan pemerintah masih melakukan penanganan darurat terhadap Bendung Cipero.
Menurut Ischak, penanganan darurat telah dilakukan sebanyak lima kali. Upaya pertama dilakukan dengan menumpuk pasir, tetapi kembali jebol. Pemerintah kemudian menggunakan pancang besi sebagai penguatan sementara.
“Penanganan yang pertama dilakukan dengan menumpuk pasir, tetapi tetap jebol. Akhirnya, penanganan yang terakhir menggunakan pancang besi,” jelas Ischak, dikutip dari tegalkab.go.id, Selasa (15/9/2026).
Pemerintah Kabupaten Tegal juga akan mendorong agar perbaikan Bendung Cipero mendapat prioritas di tingkat provinsi.
“Minggu depan akan kami sampaikan dalam rapat tingkat provinsi agar Bendung Cipero diprioritaskan untuk segera dibetulkan, karena bendung ini mengairi kurang lebih 7.000 hektare,” kata Ischak.
Sementara pembangunan permanen masih menunggu proses lebih lanjut, pemerintah memastikan penanganan darurat akan terus dilakukan.
Berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum, pembangunan Bendung Cipero ditargetkan selesai sebelum pertengahan 2027.
Warga Minta Sampah Tak Sekadar Dipindahkan
Aspirasi warga Rangimulya juga menyentuh persoalan lingkungan. Afif, warga setempat, meminta pemerintah mengubah pola pengelolaan sampah agar tidak berhenti pada aktivitas memindahkan sampah dari TPS menuju TPA.
Ia mengusulkan agar setiap desa memiliki mesin pengolahan sampah yang dapat dikelola pemerintah desa. Dengan demikian, sampah dapat ditangani sejak dari sumbernya dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Bupati Tegal menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Tegal dan Kabupaten Brebes melalui program Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Melalui kerja sama tersebut, sampah dari tiga daerah akan diolah di Marga Ayu dengan kebutuhan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Di sektor pertanian, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tegal juga menyampaikan alternatif yang dapat dimanfaatkan petani melalui program Irigasi Perpompaan (ERPOM) dari pemerintah pusat.
Pengajuan program tersebut dapat dilakukan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Warureja. Sebelum pengajuan, akan dilakukan pengecekan ketersediaan air menggunakan alat geolistrik.
Jalan Rawan Kecelakaan Diminta Segera Dipasang Lampu Merah
Persoalan keselamatan lalu lintas juga menjadi perhatian warga. Nurohman meminta pemerintah segera memasang lampu lalu lintas di pertigaan Jalan Raya Babadan-Kedungjati.
Menurutnya, lokasi tersebut memiliki risiko kecelakaan yang tinggi. Bahkan, kecelakaan di kawasan tersebut telah menyebabkan dua warga Desa Rangimulya meninggal dunia.
“Besar harapan kami agar segera dibuatkan lampu merah, supaya tidak ada korban lagi,” ujar Nurohman.
Aspirasi tersebut mendapat respons dari Bupati Tegal. Ischak memastikan pemasangan lampu lalu lintas di lokasi tersebut ditargetkan dapat direalisasikan pada akhir 2026.
“Minimal bulan 12 sudah dipasang, karena sudah masuk laporan dan anggaran perubahan. Syukur-syukur bulan 11 sudah selesai,” ungkapnya.
Warga Juga Soroti Ketidaksesuaian Data Desil
Selain persoalan infrastruktur dan lingkungan, warga turut mempertanyakan data desil yang menjadi salah satu dasar penentuan penerima program bantuan sosial.
Kepala Desa Banjar Agung menyampaikan adanya ketidaksesuaian antara kondisi rumah warga dengan data desil yang diterima. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kesalahpahaman antara pemerintah desa dan masyarakat.
Bupati Tegal mengakui persoalan data desil masih menjadi keluhan di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tegal menjelaskan, Kabupaten Tegal menjadi salah satu daerah piloting dalam proses verifikasi dan validasi data penerima bantuan sosial. Masyarakat dapat menyampaikan usulan maupun sanggahan melalui aplikasi Cek Bansos.
Dialog Bupati Tilik Desa tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan secara langsung kepada pemerintah daerah.
Berbagai aspirasi yang muncul tidak hanya terkait pertanian dan infrastruktur, tetapi juga mencakup kesehatan, pendidikan, kependudukan dan pencatatan sipil, serta persoalan sosial.
Hadirnya jajaran perangkat daerah dalam dialog diharapkan membuat aspirasi warga dapat langsung ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan program yang tersedia.
Menutup kegiatan, Bupati Tegal bersama Baznas menyerahkan bantuan kepada 10 penerima manfaat dari Desa Rangimulya. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan. (*)