UNDIP Gandeng Peneliti Belanda, Riset Pasukan Siber hingga Represi Digital Jadi Fokus Baru

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, melakukan pertemuan dengan peneliti Kris Ruijgrok di Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu. (Dok UNDIP)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat jejaring akademik internasional melalui kolaborasi riset dan publikasi bersama peneliti dunia.

Langkah terbaru dilakukan Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, yang bertemu peneliti Kris Ruijgrok di Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu.

Pertemuan tersebut membahas pengembangan kolaborasi riset dan penulisan artikel ilmiah bersama, sekaligus menjadi bagian dari strategi UNDIP memperkuat sejumlah indikator dalam QS World University Rankings (QS WUR).

Kolaborasi internasional dinilai penting untuk meningkatkan reputasi akademik, sitasi publikasi, serta memperluas International Research Network (IRN) UNDIP.

Kerja sama Wijayanto dan Kris Ruijgrok sendiri bukan hal baru. Keduanya telah menghasilkan tiga publikasi internasional sepanjang 2024-2026.

Publikasi pertama membahas infrastruktur operasi pengaruh domestik, pasukan siber, dan manipulasi opini publik melalui media sosial di Indonesia. Artikel tersebut terbit di The International Journal of Press/Politics pada 2024.

Kolaborasi kedua mengkaji operasi pengaruh domestik, pasukan siber, dan kompetisi elite politik di Indonesia, Filipina, serta Thailand. Artikel ini diterbitkan dalam Political Communication.

Sementara publikasi terbaru membahas perkembangan manipulasi media sosial dan operasi pengaruh di Asia Tenggara melalui artikel Influence Operations 2.0: The Evolution of Social Media Manipulation in Southeast Asia yang terbit pada 2026 di Information, Communication & Society.

Tiga publikasi bersama tersebut menjadi bukti bahwa jejaring internasional UNDIP tidak berhenti pada pertemuan atau kerja sama formal, tetapi telah menghasilkan joint research dan joint publication secara berkelanjutan.

Bahas Pasukan Siber dan Represi Digital

Dalam pertemuan di Amsterdam, kedua peneliti juga membahas agenda riset baru terkait peran pasukan siber dan operasi pengaruh digital dalam melemahkan kelompok oposisi politik.

Selain itu, mereka merancang penelitian mengenai represi digital terhadap masyarakat sipil, termasuk manipulasi informasi, serangan digital, intimidasi, pengawasan, dan pembatasan kebebasan sipil di ruang digital.

Wijayanto menegaskan, kolaborasi internasional harus menghasilkan riset dan publikasi yang memiliki dampak nyata.

“Kolaborasi internasional bukan sekadar pertemuan atau kerja sama formal. Yang paling penting adalah bagaimana jejaring tersebut menghasilkan riset bersama, publikasi bersama, dan dampak akademik yang nyata,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, kerja sama lintas negara diperlukan untuk memahami fenomena digital yang berkembang di berbagai kawasan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskursus akademik global.

Bagi UNDIP, kesinambungan publikasi bersama menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat jejaring riset internasional, memperluas peluang sitasi, meningkatkan visibilitas penelitian, serta mendukung penguatan reputasi akademik di tingkat dunia.

Pertemuan di Amsterdam pun menjadi momentum untuk melanjutkan kolaborasi tersebut melalui agenda riset baru yang lebih substantif dan berkelanjutan. (*)