Ketika Cendekiawan Menanggalkan Menara Gading di Gerbang Nusantara

SOROTJATENG.ID, KALIMANTAN – Gelar akademis dan pengetahuan tinggi kerap kali terjebak dalam ruang kedap udara yang dingin, seolah asing dari kepedihan warga di sekitarnya. Berjarak tak jauh dari deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), seruan untuk merubuhkan “menara gading” itu mengemuka dari sudut Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dalam Musyawarah Nasional (Munas) XVII Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) yang dibuka di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (11/9/2026), ratusan sarjana berkumpul bukan sekadar untuk menggelar agenda rutin organisasi. Mereka menyatukan wacana dan gagasan di tengah dinamika besar bangsa yang sedang memindahkan pusat gravitasinya ke Nusantara.
Melalui tema “Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan bagi Semua”, perhelatan empat tahunan ini menjadi cermin perenungan bagi para kader intelektual. Kecerdasan dinilai tak boleh berhenti sebagai piala personal atau status sosial semata, melainkan wajib menjelma menjadi aksi nyata yang berakar pada Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan keberpihakan pada martabat manusia.
Spiritualitas dan Integritas Pelayanan
Perhelatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Hardjosusanto, MSF, bersama jajaran imam selebran. Ibadah pembuka ini menegaskan kembali pijakan dasar sarjana Katolik: bahwa keberadaan mereka di tengah masyarakat adalah sebuah bentuk pengabdian spiritual.
Pesan integritas kian menguat dalam Orasi Kebangsaan yang diselenggarakan usai misa. Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Dominique Nicky Fahrizal, membedah tantangan keadilan dan kesejahteraan melalui kacamata politik serta demokrasi. Sementara itu, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI, Agung Pambudi, menyoroti isu keberlanjutan jaminan kesehatan nasional sebagai hak mendasar warga.
Satu benang merah yang mengemuka dari diskusi tersebut: Indonesia sesungguhnya tak pernah kekurangan orang pintar. Permasalahan bangsa justru terletak pada krisis integritas dan keberanian untuk menjadikan pengetahuan sebagai instrumen pelayanan. Kadar intelektual diharapkan mampu bersikap saleh tanpa menjadi eksklusif, bersikap kritis tanpa terjebak dalam nada sinis, serta berani menyuarakan kebenaran dengan tetap menjaga kerendahan hati.
Estafet Kepemimpinan
Ketua Umum Presidium Pusat ISKA periode 2022–2026, Luky Yusgiantoro, menyampaikan bahwa Munas XVII merupakan forum tertinggi organisasi yang menaungi lebih dari 25 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 150 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di seluruh Indonesia.
Selain penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan perumusan garis besar kebijakan empat tahun ke depan, Munas kali ini difokuskan untuk memilih nahkoda baru kepengurusan.
Luky berharap, spirit keadilan dan kesejahteraan tak berhenti di atas kertas rumusan, melainkan menjadi ruh utama yang menuntun gerak langkah kepengurusan baru dalam menjawab tantangan zaman.
Respon Pemda: Akselerasi SDM dan Kunjungan Lapangan IKN
Pemerintah Kota Balikpapan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Munas ini. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyambut baik kontribusi pemikiran sarjana Katolik, khususnya dalam merespons pembangunan IKN di Kalimantan Timur.
“Pembangunan fisik yang megah harus berjalan selaras dengan keadilan sosial. Masyarakat tidak boleh sekadar menjadi penonton, melainkan aktor utama. Kami membutuhkan kolaborasi dan sumbangsih pemikiran strategis dari ISKA untuk memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah,” kata Bagus, seraya menekankan pentingnya menjaga kerukunan di Balikpapan yang dihuni oleh 131 etnis dan paguyuban.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (13/9/2026), para peserta Munas XVII ISKA dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan langsung ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Sabtu (12/9/2026) untuk melihat perkembangan pembangunan serta menjajaki peluang kolaborasi nyata.