Bau Bangkai Menyengat dari Dasar Bendung Karet Sungai Juana Pati yang Mengering Parah

Kondisi dasar Bendung Karet Sungai Juana, Pati yang mengering. Foto: Sorotjateng.id/ Pemprov Jateng

SOROTJATENG.ID, PATI– Kemarau panjang yang menerjang Jawa Tengah membuat kondisi Bendung Karet Sungai Juana di Kabupaten Pati kritis hingga mengering total. Tak hanya melumpuhkan pasokan air pertanian, fenomena kekeringan ekstrem ini memicu masalah baru: ribuan ikan sapu-sapu mati mendadak dan membusuk di dasar sungai yang mengering.

Bau menyengat dari bangkai ikan yang membentang di sepanjang alur sungai kini meresahkan warga pemukiman sekitar. Situasi darurat ini merespons langsung perhatian Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang memerintahkan pengerjaan alat berat untuk mengubur bangkai ikan tersebut.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin, membeberkan bahwa pengerukan dan penguburan bangkai ikan akan dipusatkan di lahan kosong sekitar bendung.

“Ada lahan kosong di sekitar lokasi. Bangkai ikan nanti diambil dan dikubur di sana menggunakan alat berat agar bau busuk tidak lagi mengganggu warga,” kata Urip usai meninjau lokasi di Pati, Selasa (8/9).

Proses pembersihan diprakirakan memakan waktu hingga satu pekan karena perlunya mobilisasi alat berat ke lokasi sungai yang mengering.

Ancaman Wabah Penyakit dan Krisis Air Pertanian

Mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana bukan sekadar persoalan bau tak sedap. Bagi warga dan petani di kawasan Jakenan, krisis air ini mengancam kesehatan dan mata pencaharian mereka.

Sekretaris Desa Bungasrejo, Luwito Kito, mengungkapkan bahwa fenomena mengeringnya bendung hingga memicu kematian massal ikan ini merupakan yang kedua kalinya terjadi setelah tahun 2024. Warga khawatir tumpukan bangkai yang dibiarkan terlalu lama akan memicu persebaran wabah penyakit.

Di sisi lain, para petani kini mendesak pemerintah segera membuka pintu air waduk untuk mengalirkan air ke alur Sungai Juana.

“Permintaan utama kami ada dua: bau bangkai ikan segera tertangani dan air waduk segera dialirkan lagi ke sungai untuk menyelamatkan lahan pertanian warga,” tegas Luwito.

Menanggapi tuntutan pembukaan pintu air waduk, Pemprov Jateng menyatakan masih harus berkoordinasi dengan instansi teknis pengelola sumber daya air. Langkah ini diperlukan agar pembagian debit air yang tersisa di tengah kemarau panjang tetap terhitung secara akurat dan efisien.