Kawah Ijen Masih Tutup, Ini Daftar 6 Wisata Banyuwangi Alternatif

SOROTJATENG.ID/ JAWA TIMUR – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memberlakukan penutupan kunjungan wisata Banyuwangi ke Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen sejak 4 September 2026. Penutupan dilakukan usai terjadi kebakaran hutan dan lahan yang merembet ke kawasan wisata Kawah Ijen.
Permasalahannya, penutupan untuk tujuan keamanan pengunjung itu berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan dan kawasan dianggap tidak beresiko bagi pengunjung.
Kondisi tersebut bukan berarti pilihan wisata di Banyuwangi ikut habis. Ada destinasi budaya, pantai, taman kota, hingga kawasan konservasi yang bisa menjadi alternatif. Mulai Desa Wisata Osing Kemiren yang menawarkan pengalaman budaya Suku Osing, sampai kawasan Alas Purwo dan destinasi pantai di selatan Banyuwangi.
Berikut Daftar 6 Destinasi Wisata Banyuwangi Selain Ijen
Penutupan Kawah Ijen kali ini bukan sekadar penutupan rutin kawasan wisata. Kebakaran pertama kali terpantau di kawasan Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup pada 3 September 2026. Sehari kemudian, api dilaporkan telah memasuki kawasan TWA Kawah Ijen dan mendekati Pondok Bunder yang merupakan jalur pendakian menuju kawah.
Karena itu, Anda sebaiknya tidak memaksakan diri mendatangi kawasan Ijen selama penutupan masih berlaku. Sebagai gantinya, perjalanan bisa dialihkan ke sejumlah destinasi lain yang menawarkan pengalaman berbeda. Berikut daftarnya!
- Desa Wisata Osing Kemiren
Kalau tujuan awal ke Banyuwangi adalah mencari pengalaman yang khas, Desa Wisata Adat Osing Kemiren bisa menjadi pilihan pertama. Desa ini berada di Kecamatan Glagah dan merupakan salah satu kawasan yang kuat dengan identitas budaya Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi.
Berdasarkan data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Kemiren memiliki beragam atraksi budaya, mulai dari kawasan rumah adat Osing, kesenian tradisional, hingga aktivitas edukasi seperti membatik, mengolah kopi, memasak makanan tradisional, dan belajar kesenian lokal. Desa ini juga masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024.
Rumah-rumah adat Osing menjadi salah satu daya tarik yang mudah ditemui saat berjalan di kawasan desa. Wisatawan juga bisa mengenal arsitektur tradisional sekaligus menyaksikan kesenian seperti gandrung, barong, dan gedhogan.
Kemiren juga dikenal melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Dalam agenda tahunan tersebut, warga menyuguhkan kopi kepada pengunjung dalam jumlah sekitar 10.000 cangkir. Pada pelaksanaan 2025, misalnya, sebanyak 1,5 kuintal bubuk kopi diseduh menjadi 10.000 cangkir dan dibagikan kepada pengunjung.
- Taman Nasional Baluran
Pilihan berikutnya berada di sebelah utara Banyuwangi, tepatnya di Kabupaten Situbondo. Meski secara administratif bukan bagian dari Banyuwangi, Taman Nasional Baluran sangat layak masuk daftar alternatif karena lokasinya masih berada di jalur wisata Banyuwangi-Situbondo.
Baluran terkenal dengan julukan Africa van Java berkat bentang savananya. Kawasan ini memiliki luas 25.000 hektare dan menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk banteng Jawa, rusa, kerbau liar, merak, serta monyet ekor panjang.
Salah satu kawasan yang paling dikenal adalah Savana Bekol. Dari sini, wisatawan bisa menikmati hamparan padang rumput dengan latar Gunung Baluran sekaligus berkesempatan melihat satwa liar dari jarak aman. Selain Bekol, terdapat Pantai Bama yang memiliki pasir putih dan kawasan mangrove.
Karena Baluran merupakan kawasan konservasi, pengalaman berwisata di sini tetap perlu mengikuti aturan pengelola. Wisatawan harus berada di jalur yang ditentukan dan tidak diperbolehkan memberi makan atau mengganggu satwa. Pengunjung juga perlu mengecek informasi terbaru sebelum berangkat karena kawasan dapat ditutup secara insidental akibat kondisi seperti kebakaran hutan atau cuaca tertentu.
- Pantai Plengkung atau G-Land
Kalau ingin mengganti suasana pegunungan dengan pantai, Pantai Plengkung atau G-Land bisa menjadi pilihan. Pantai ini berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan sudah lama dikenal sebagai salah satu lokasi selancar kelas dunia.
G-Land terkenal dengan karakter ombak kiri yang kuat dan panjang. Indonesia Travel menyebut musim terbaik untuk berselancar di kawasan ini berlangsung sekitar April hingga Oktober, sementara ketinggian gelombang dapat mencapai beberapa meter. Karena karakter ombak dan arusnya, lokasi ini lebih cocok untuk peselancar yang sudah berpengalaman.
Nama G-Land sendiri memiliki sejumlah versi asal-usul, salah satunya dikaitkan dengan bentuk garis pantai Plengkung yang melengkung menyerupai huruf G. Ada pula yang menghubungkannya dengan istilah Great, Green Land, atau Grajagan.
Namun, wisatawan yang tidak berselancar tetap bisa menikmati perjalanan menuju kawasan ini dan suasana pantainya. Karena Plengkung berada di kawasan taman nasional, aktivitas wisata tetap harus mengikuti aturan dan kondisi kunjungan yang ditetapkan pengelola.
- Pantai Teluk Hijau
Alternatif lain yang menawarkan suasana lebih tenang adalah Pantai Teluk Hijau atau Green Bay. Pantai ini berada di kawasan Desa Sarongan dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Daya tarik utamanya adalah warna air laut yang terlihat biru kehijauan, berpadu dengan pasir dan kawasan hutan di sekitarnya. Karakter pantainya membuat Teluk Hijau cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama alam tanpa harus mencari aktivitas yang terlalu ekstrem.
Di sekitar kawasan pantai juga terdapat air terjun yang menjadi daya tarik tambahan. Pengunjung dapat menikmati suasana pantai, bermain air sesuai kondisi dan aturan setempat, atau sekadar bersantai menikmati lanskap pesisir.
Karena Teluk Hijau berada di kawasan konservasi, wisatawan sebaiknya mengecek akses dan kondisi terbaru sebelum berangkat. Hal ini penting karena akses menuju destinasi alam di kawasan taman nasional dapat dipengaruhi kondisi cuaca maupun kebijakan pengelola.
- Taman Sritanjung
Tidak semua alternatif wisata harus berupa perjalanan jauh. Jika kamu menginap di pusat Kota Banyuwangi dan hanya memiliki waktu terbatas, Taman Sritanjung bisa menjadi pilihan yang lebih praktis.
Taman ini berada di kawasan perkotaan dan menjadi salah satu ruang publik yang digunakan masyarakat untuk berolahraga, bersantai, atau sekadar menikmati suasana kota. Keberadaannya juga berkaitan dengan kawasan penting di pusat Banyuwangi, sehingga kunjungan ke taman bisa sekaligus dilanjutkan dengan wisata kuliner atau menjelajahi kawasan kota.
Secara historis dan tata ruang, kawasan Taman Sritanjung termasuk bagian dari kawasan strategis sosial budaya Banyuwangi. Dokumen tata ruang Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menempatkan Taman Sritanjung bersama sejumlah bangunan dan ruang penting di pusat kota, seperti Pendapa Kabupaten, Masjid Agung Baiturrahman, dan kawasan Pasar Banyuwangi.
Pilihan ini cocok untuk wisatawan yang tidak ingin menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Setelah seharian menjelajahi Banyuwangi, Taman Sritanjung bisa menjadi tempat untuk beristirahat sebelum melanjutkan agenda berikutnya.
- Taman Nasional Alas Purwo
Kalau ingin perjalanan yang lebih panjang dan berorientasi pada alam, Taman Nasional Alas Purwo bisa menjadi alternatif utama selama Ijen ditutup. Kawasan ini berada di ujung timur Pulau Jawa dan memiliki bentang alam yang jauh lebih luas daripada sekadar satu destinasi pantai.
Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas sekitar 44.037,30 hektare dengan beragam ekosistem, mulai dari hutan dataran rendah, sabana, hutan pantai hingga mangrove. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa, termasuk banteng Jawa dan macan tutul Jawa.
Menariknya, pilihan aktivitas di Alas Purwo cukup beragam. Wisatawan bisa menikmati lanskap alam, mengamati satwa di Savana Sadengan, berkunjung ke pantai, bersepeda, melakukan fotografi, hingga mengunjungi kawasan yang memiliki nilai budaya dan spiritual seperti Pura Luhur Giri Salaka serta Situs Kawitan.
Untuk wisatawan yang ingin menikmati kawasan ini, Balai Taman Nasional Alas Purwo saat ini mencantumkan pintu masuk Rowobendo dan Kucur untuk kunjungan wisata alam. Jam layanan kunjungan wisata yang tercantum adalah pukul 08.00-16.00 WIB, tetapi kondisi lapangan dan ketentuan kunjungan tetap perlu diperiksa sebelum berangkat.