Nostalgia Dugderan Jadi Ruang Regenerasi Budaya Semarang di Alun-Alun Kauman

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Tradisi Dugderan di Kota Semarang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga perlu diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Nostalgia Dugderan dan Bazar Expo Kauman Kampung Qur’an di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman, Minggu (13/9/2026) kemarin.
Kegiatan itu menjadi salah satu side event Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan seni sebagai salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak tampil membawakan berbagai kesenian, salah satunya tari Gado-Gado Semarang. Bagi Agustina, pengalaman tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar tampil di atas panggung.
“Latihan menari bukan sekadar menggerakkan tubuh, melainkan harus menjiwai. Lewat wejangan para pelatih, anak-anak merasa tarian tersebut adalah bagian dari diri mereka,” ujar Agustina, dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, proses belajar di sanggar hingga tampil di hadapan masyarakat merupakan pengalaman yang dapat membentuk kedekatan emosional anak dengan budaya daerahnya.
Keterlibatan generasi muda juga dinilai penting agar tradisi seperti Dugderan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan.
Anak-anak perlu mendapatkan ruang untuk mengenal, mempraktikkan, sekaligus mengekspresikan budaya yang menjadi identitas Kota Semarang.
“Apa yang anak-anak lakukan hari ini akan tercatat dalam sejarah perjalanan hidup mereka. Kelak saat dewasa, mereka akan mengingat indahnya kenangan masa kecil ketika menjadi pusat perhatian di panggung budaya kota ini,” katanya.
Alun-Alun Kauman Jadi Ruang Budaya
Agustina berharap suasana budaya yang tercipta di Alun-Alun Kauman dapat terus berlanjut meski rangkaian MTQ Nasional XXXI telah selesai.
Menurutnya, kawasan yang lekat dengan sejarah dan tradisi Dugderan tersebut memiliki potensi menjadi ruang budaya yang digunakan masyarakat secara berkesinambungan.
“Saya berharap suatu hari kita sampai pada titik di mana ada perhelatan budaya yang berkesinambungan di Alun-Alun. Kehadiran pusat budaya ini tentunya membuat roda perekonomian warga terus berputar,” tuturnya.
Dengan kegiatan yang rutin, Alun-Alun Kauman diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan acara, tetapi berkembang sebagai ruang publik untuk mempertemukan berbagai generasi.
Pertunjukan seni anak-anak, misalnya, dapat menjadi bagian dari aktivitas yang mempertemukan seniman, pelatih, keluarga, masyarakat, hingga wisatawan yang ingin mengenal budaya Semarang.
Budaya Lokal Dikenalkan kepada Kafilah MTQ
Nostalgia Dugderan juga menjadi kesempatan bagi para kafilah MTQ Nasional XXXI dari berbagai daerah untuk mengenal lebih dekat budaya Kota Semarang.
Mereka dapat melihat langsung bagaimana tradisi lokal dipertahankan melalui pertunjukan seni dan aktivitas masyarakat di kawasan Kauman.
Di sisi lain, bazar UMKM membuat kegiatan tersebut tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya. Aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut bergerak ketika kawasan ramai dikunjungi.
Agustina berharap kondisi tersebut dapat dipertahankan hingga seluruh rangkaian side event MTQ Nasional XXXI berakhir pada 18 September 2026.
Ia pun membuka peluang adanya kolaborasi untuk menghadirkan kegiatan tambahan di kawasan Alun-Alun Kauman.
“Mari kita jaga bersama suasana ramai ini. Kita berikan ruang bagi anak-anak untuk menari, sekaligus menghadirkan kenyamanan bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota Semarang,” kata Agustina.
Bagi Agustina, menjaga budaya berarti memastikan adanya ruang bagi generasi berikutnya untuk mengalami dan mengenalnya secara langsung.
Karena itu, keberadaan Alun-Alun Kauman diharapkan dapat menjadi bagian dari proses panjang merawat tradisi Semarang sekaligus mempertemukan masyarakat dalam ruang budaya yang hidup. (*)