Wali Kota Ajak UMKM Sikat Peluang Emas di MTQ Nasional XXXI di Semarang,

Wali kota bersama pengusaha umkm jahe Semarang. Fto: Sorotjateng.id/ Humas Pemkot Semarang

SOROTJATENG.ID, SEMARANG — Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang terbukti membawa angin segar. Ajang bergengsi ini tak sekadar menjadi wadah syiar Islam semata, melainkan turut menjadi daya dorong kuat yang menggerakkan roda perekonomian lokal.

Sejak awal September 2026, kedatangan ribuan kafilah, tim pendamping, dewan hakim, hingga para tamu undangan dari 38 provinsi di tanah air telah memadati Kota Lunpia. Kehadiran massa dalam jumlah besar ini secara langsung mendongkrak sejumlah sektor usaha strategis, mulai dari industri perhotelan, sentra kuliner, jasa transportasi, hingga pusat oleh-oleh khas daerah.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng melihat momentum nasional ini sebagai peluang emas yang wajib dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha lokal, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“MTQ ini membawa berkah bagi Kota Semarang. Banyak saudara kita datang dari berbagai daerah, tinggal di sini beberapa hari, makan, menggunakan transportasi, membeli oleh-oleh, dan berbelanja kebutuhan lainnya. Pergerakan itu tentu membuka kesempatan bagi masyarakat dan pelaku usaha kita,” ujar Agustina di Semarang, Jumat (11/9/2026).

Pemerintah Kota Semarang berharap para pelaku usaha dapat sigkap menangkap peluang dari gelombang kunjungan ini, sehingga gaung MTQ Nasional 2026 tidak hanya meninggalkan kesan dari sisi syiar keagamaan, tetapi juga menghadirkan dampak kesejahteraan yang nyata bagi warga setempat.
Menurut Agustina, dampak ekonomi tidak hanya terpusat di lokasi utama MTQ. Kebutuhan para tamu juga dilayani oleh usaha di berbagai wilayah kota selama mereka beraktivitas di Semarang.

Untuk mewadahi hal itu, panitia MTQ Nasional XXXI menggelar pameran dan bazar yang diikuti 89 pelaku usaha. Beragam produk ditampilkan, mulai makanan, minuman, hingga oleh-oleh khas Semarang seperti lunpia, tahu petis, bandeng presto, wingko, ganjel rel, dan moaci. Beberapa produk juga berasal dari komunitas dan kelurahan di Kota Semarang.

Agustina mendorong para pelaku UMKM memanfaatkan momen tersebut untuk memperkenalkan produk mereka lebih luas.

“Mari kita manfaatkan kesempatan ini dengan memberikan produk yang baik dan pelayanan yang ramah. Harapannya, mereka pulang membawa cerita yang baik tentang Kota Semarang sekaligus mengenal produk-produk usaha masyarakat kita,” katanya.

Ia menambahkan, menjadi tuan rumah kegiatan nasional memberi manfaat lebih dari sekadar seremoni pembukaan.

“Menjadi tuan rumah itu bukan hanya soal menyelenggarakan acaranya. Ada masyarakat yang ikut menyambut, ada usaha yang ikut bergerak, dan ada produk lokal yang bisa dikenal oleh orang dari berbagai daerah. Kita ingin MTQ ini menjadi berkah yang dirasakan bersama,” pungkas Agustina