Jalan Amarta Mijen Semarang Ditutup Sejak 2022, Warga Tambangan-Sodong Protes dan Tuntut Akses Dibuka

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Penutupan Jalan Amarta yang menghubungkan Kelurahan Tambangan dan Kelurahan Sodong, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, memicu protes warga.
Akses jalan yang selama ini menjadi jalur penghubung antarkelurahan sekaligus menuju Situs Jatiombo tersebut diduga ditutup sejak pembangunan perumahan BSB Village pada 2022.
Penutupan jalan ini berdampak pada aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas sehari-hari, distribusi hasil pertanian, hingga akses peziarah menuju Situs Jatiombo. Warga kini terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh, sehingga waktu perjalanan dan biaya transportasi ikut meningkat.
Salah seorang warga, Mimit Kusmianto, mengatakan Jalan Amarta merupakan akses strategis bagi masyarakat Tambangan dan Sodong. Jalan tersebut juga menjadi jalur terdekat bagi peziarah yang hendak mengunjungi Situs Jatiombo, salah satu tujuan wisata religi di Kota Semarang.
Menurut Mimit, pengunjung Situs Jatiombo tidak hanya berasal dari wilayah Mijen, tetapi juga dari luar Kota Semarang, seperti Ungaran, Bawen, hingga Salatiga.
“Karena sudah menjadi salah satu lokasi wisata religi di Kota Semarang, banyak peziarah datang dari luar Semarang, seperti Ungaran, Bawen, dan Salatiga. Kalau dari arah selatan atau Ungaran, akses terdekat untuk sampai ke Situs Jatiombo memang melalui wilayah Tambangan,” ujarnya saat ditemui di Situs Jatiombo, kemarin.
Ia menilai penutupan Jalan Amarta berpotensi menyulitkan pengunjung, terutama mereka yang belum mengenal kawasan Mijen. Pengunjung yang hendak menuju lokasi petilasan harus mencari jalur alternatif dengan jarak perjalanan lebih panjang.
Aktivitas ziarah di Situs Jatiombo sendiri terbilang ramai, terutama pada malam Selasa dan malam Jumat. Para peziarah datang untuk menjalankan berbagai aktivitas spiritual.
Mimit juga menceritakan sejarah Situs Jatiombo berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat. Nama Jatiombo disebut berkaitan dengan keberadaan pohon jati berukuran sangat besar pada masa lampau. Konon, kayu pohon tersebut dibawa ke Demak untuk menjadi salah satu bagian tiang penyangga Masjid Demak.
Ia mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Semarang yang mulai melakukan penataan kawasan situs, termasuk perbaikan jalan masuk dan penambahan lampu penerangan.
“Pemkot sudah mulai turun tangan untuk penataan situs ini. Ada perbaikan jalan masuk dan penambahan lampu penerangan supaya pengunjung dan peziarah lebih nyaman. Harapan kami, akses jalan warga dan peziarah juga bisa dibuka kembali,” katanya.
Jalan Amarta Ditutup, Warga Harus Memutar hingga 7 Kilometer
Keluhan mengenai penutupan Jalan Amarta juga disampaikan warga lainnya, Saroso. Ia meminta akses penghubung Tambangan dan Sodong dikembalikan seperti semula agar masyarakat kedua wilayah dapat kembali beraktivitas tanpa harus memutar jauh.
Saroso menjelaskan, Jalan Amarta sebelumnya memiliki lebar sekitar lima hingga enam meter dengan panjang kurang lebih satu kilometer. Jalan tersebut telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, termasuk aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari.
“Karena dulunya memang untuk akses masyarakat dua wilayah, antara Sodong dan Tambangan, sekarang malah ditutup. Kami menuntut bagaimana caranya agar jalan tersebut kembali dibuka sehingga akses kedua wilayah bisa langsung terhubung lagi,” ungkapnya.
Di jalur tersebut terdapat jembatan yang dikenal masyarakat sebagai Jembatan Amarta. Namun, akses penghubung itu terputus sejak pembangunan perumahan BSB Village dimulai pada 2022.
Akibatnya, ribuan warga disebut harus menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Polaman. Perjalanan yang sebelumnya hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit kini menjadi kurang lebih 20 menit dengan jarak memutar mencapai tujuh kilometer.
“Dulu jalan ini bisa dilalui mobil, truk pengangkut pasir, batu, maupun kendaraan yang membawa hasil panen warga. Sekarang ditutup, warga harus memutar. Yang sebelumnya hanya lima menit, sekarang bisa sampai 20 menit,” jelas Saroso.
Penutupan Jalan Amarta Berdampak pada Ekonomi Warga
Bagi masyarakat Tambangan dan Sodong, penutupan Jalan Amarta tidak sekadar menambah jarak perjalanan. Terputusnya akses tersebut juga dinilai berdampak terhadap aktivitas ekonomi, khususnya distribusi hasil pertanian dan pengangkutan material.
Jalur yang sebelumnya memudahkan kendaraan mengangkut hasil panen kini tidak dapat dimanfaatkan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya angkut karena kendaraan harus melewati rute yang lebih jauh.
“Kalau dulu jalannya dekat, sekarang menjadi jauh sehingga biaya semakin mahal. Kami meminta agar akses tersebut dikembalikan seperti semula. Kami akan berupaya memperjuangkan hak masyarakat kepada Pemerintah Kota Semarang maupun pihak pengembang agar jalan bisa dibuka kembali untuk kepentingan umum,” tegas Saroso.
Warga berharap Pemerintah Kota Semarang dapat memfasilitasi penyelesaian persoalan Jalan Amarta dengan mempertemukan masyarakat dan pihak pengembang BSB Village.
Mereka juga meminta kejelasan mengenai status jalan serta dasar penutupan akses yang selama ini digunakan masyarakat.
Bagi warga Tambangan dan Sodong, pembukaan kembali Jalan Amarta menjadi kebutuhan penting untuk memulihkan konektivitas wilayah, memperlancar kegiatan ekonomi, serta memudahkan akses menuju Situs Jatiombo.
Masyarakat berharap penataan Situs Jatiombo sebagai destinasi wisata religi di Kota Semarang dapat berjalan seiring dengan pemulihan akses jalan. (*)
