Produksi Jagung Jateng Capai 2,68 Juta Ton hingga September 2026, Pemerintah Perkuat Irigasi dan Benih

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat acara Panen Raya Jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (1/10/2026). Produksi jagung Jawa Tengah mencapai 2,68 juta ton hingga September 2026. Pemerintah memperkuat irigasi, benih, alsintan, dan pascapanen. (Dok Humas Jateng)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Produksi jagung Jawa Tengah sepanjang Januari hingga September 2026 telah mencapai sekitar 2,68 juta ton.

Produksi tersebut diperkirakan masih bertambah hingga akhir tahun seiring meningkatnya luas tanam pada musim penghujan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan capaian tersebut menunjukkan peran jagung dalam memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah, selain komoditas padi.

Hal itu disampaikan Luthfi saat menghadiri Panen Raya Jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (1/10/2026).

“Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Luthfi.

Data BPS menunjukkan produksi jagung pipilan kering Jawa Tengah pada 2025 mencapai 2,75 juta ton dengan kadar air 14 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 2,43 juta ton pada 2024.

Air Jadi Kunci Produksi Jagung

Untuk menjaga peningkatan produksi jagung, Luthfi menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian agar tidak beralih fungsi serta memastikan ketersediaan air dan pupuk.

Menurutnya, persoalan air bukan hanya berkaitan dengan keberadaan sumber air, tetapi juga bagaimana air dapat dialirkan hingga benar-benar mencapai lahan pertanian.

“Yang paling penting adalah bagaimana air itu sampai ke lahan pertanian,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Luthfi, dapat memperkuat sumber air pertanian melalui pembangunan sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi hingga embung.

Ketersediaan pupuk juga menjadi perhatian agar petani tidak mengalami kendala ketika memasuki musim tanam.

Luthfi optimistis produksi pangan Jawa Tengah masih dapat ditingkatkan. Panen jagung yang tetap berlangsung di tengah musim kemarau menjadi salah satu indikator bahwa produksi masih bisa berjalan meski menghadapi keterbatasan air.

Lebih dari 300 Jaringan Irigasi Tersier Direhabilitasi

Kepala Dinas Pertanian Jawa Tengah De Fransisco Da Silva Tavares mengatakan produksi jagung hingga saat ini telah berada di kisaran 72 persen dari target produksi 3,7 juta ton yang digunakan pemerintah daerah.

Sukoharjo menjadi salah satu wilayah yang turut menopang produksi jagung Jawa Tengah.

Untuk mendukung produktivitas petani, Pemprov Jawa Tengah melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

Tahun ini, terdapat lebih dari 300 paket penanganan jaringan irigasi tersier di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Selain infrastruktur pengairan, pemerintah juga memberikan dukungan alat dan mesin pertanian untuk membantu petani mulai dari pengolahan lahan, panen hingga penanganan pascapanen.

Ribuan Hektare Dapat Dukungan Benih Jagung

Dukungan terhadap petani juga dilakukan melalui penyediaan benih jagung hibrida.

Pemprov Jawa Tengah memberikan stimulan benih melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare.

Sementara dukungan melalui APBN yang telah terealisasi melalui kontrak mencapai 87.867 hektare di 21 kabupaten dan dua kota.

Program tersebut diharapkan membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesinambungan produksi jagung di berbagai sentra pertanian.

Luthfi menyebut luas tanam berpotensi kembali meningkat ketika musim penghujan tiba. Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan produksi hingga akhir 2026.

Harga Jagung Rp7.000-Rp7.500 per Kilogram

Dari sisi ekonomi, harga jagung pipilan saat ini dinilai cukup baik bagi petani.

Frans menyebut harga jagung pipilan berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram. Namun, harga yang diterima petani dapat berbeda karena dipengaruhi tingkat kadar air jagung.

Menurutnya, jagung memiliki pasar yang relatif kuat karena menjadi salah satu bahan penting dalam industri pakan.

Karena itu, peningkatan produksi perlu diikuti dengan pengelolaan pascapanen dan penyerapan hasil yang baik.

Dengan demikian, tambahan produksi tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi petani.

Penguatan produksi jagung tersebut menjadi bagian dari upaya Jawa Tengah menjaga peran sektor pertanian sekaligus memperkuat ketersediaan pangan di tingkat nasional. (*)

Editor