Lindungi Keluarga dari Bahaya Asap Rokok, Ini Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan di Rumah

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga. Namun, bagi keluarga yang memiliki anggota perokok, lingkungan rumah dapat menjadi salah satu tempat terjadinya paparan asap rokok.
Bahkan ketika asap rokok sudah tidak terlihat, residunya masih dapat tertinggal pada pakaian, rambut, furnitur, karpet, dinding dan berbagai benda lainnya.
Dokter Spesialis Paru Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Muhamad Aziz Rosidi, Sp.P, mengatakan orang yang merokok di rumah tidak hanya mempertaruhkan kesehatan dirinya sendiri.
“Ketika seseorang merokok di rumah, yang terpapar bukan hanya dirinya. Orang yang tinggal serumah juga dapat menghirup asap rokok, sementara residunya dapat tertinggal pada berbagai benda dan permukaan di lingkungan rumah,” ujarnya, dikutip dari keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 menunjukkan persoalan paparan rokok masih cukup besar. Sebanyak 34,5 persen orang dewasa atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan tembakau.
Selain itu, 59,3 persen orang dewasa dilaporkan terpapar asap rokok di dalam rumah. Paparan juga terjadi di ruang publik, dengan angka 74,2 persen di restoran dan 44,8 persen di tempat kerja.
Paparan rokok terbagi menjadi beberapa bentuk. Perokok aktif menghirup asap dari rokoknya sendiri, sementara perokok pasif menghirup asap rokok orang lain.
Ada pula thirdhand smoke, yakni residu asap rokok yang tertinggal pada berbagai benda dan permukaan setelah rokok dimatikan.
Menurut WHO, tidak ada tingkat paparan asap tembakau yang aman. Paparan asap rokok pasif dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, penyakit pernapasan dan kanker paru.
Risiko tersebut menjadi semakin penting diperhatikan pada anak-anak dan bayi yang banyak berinteraksi dengan lantai serta berbagai benda di sekitarnya.
Dokter Spesialis Paru Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Priyadi Wijanarko, Sp.P, mengatakan dampak rokok terhadap paru-paru tidak selalu langsung menimbulkan gejala.
“Seseorang dapat mengalami penurunan fungsi paru tanpa keluhan yang jelas, sehingga merasa dirinya baik-baik saja bukan berarti kondisi parunya pasti baik,” jelas Priyadi.
Untuk mengurangi risiko di rumah, masyarakat dapat menerapkan sejumlah kebiasaan sederhana.
Pertama, tidak merokok di dalam rumah maupun kendaraan. Kedua, menjauhkan anak-anak dan ibu hamil dari asap rokok.
Ketiga, bagi perokok yang belum berhenti, membersihkan diri dan mengganti pakaian setelah merokok dapat dilakukan untuk membantu mengurangi residu yang terbawa ke lingkungan.
Langkah yang paling penting tentu berhenti merokok. Bagi mereka yang membutuhkan bantuan, pendampingan tenaga profesional dapat membantu menentukan cara berhenti yang sesuai.
Selain mencegah paparan, masyarakat juga perlu mengenali tanda gangguan paru. Batuk yang menetap, sesak napas, nyeri dada, suara serak hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas merupakan keluhan yang sebaiknya tidak diabaikan.
“Jangan menunggu keluhan menjadi berat untuk mulai peduli terhadap kondisi paru. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengetahui kondisi paru dan menentukan langkah selanjutnya sesuai kebutuhan masing-masing orang,” kata dr. Jenny Wailan Kandowangko, Sp.P, FISR.
Columbia Asia Hospital Semarang menyediakan layanan kesehatan paru yang mencakup edukasi dan pendampingan berhenti merokok, pemeriksaan dan deteksi dini, diagnosis hingga penanganan berbagai penyakit paru.
Layanan tersebut didukung tim Dokter Spesialis Paru yang terdiri dari dr. Priyadi Wijanarko, Sp.P; dr. Jenny Wailan Kandowangko, Sp.P, FISR; dan dr. Muhamad Aziz Rosidi, Sp.P.
Menjaga kesehatan paru bukan hanya tanggung jawab perokok. Setiap anggota keluarga dapat berperan dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari asap rokok.
Sebab, menghilangkan asap yang terlihat saja belum cukup jika residunya masih tertinggal di lingkungan sekitar. (*)