UNDIP dan University of Aberdeen Kembangkan Teknologi Recovery Lithium untuk Dukung Kemandirian Mineral Strategis

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama University of Aberdeen (UoA), Scotland, Inggris, mengembangkan teknologi membran dan material adsorben untuk recovery lithium dari subsurface brines atau air asin bawah permukaan.
Riset tersebut menjadi bagian dari kolaborasi internasional UNDIP dan University of Aberdeen yang telah terjalin sejak 2024.
Penelitian ini dinilai strategis di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis yang digunakan dalam industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, energi hijau hingga sektor pertahanan.
Dari UNDIP, penelitian melibatkan Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. dan Ir. Titik Istirokhatun, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU. Sementara dari University of Aberdeen, riset dilaksanakan oleh Dr. Amin Sharifi bersama tim.
Kolaborasi tersebut memperoleh pendanaan melalui skema International Science Partnerships Fund (ISPF) dalam proyek bertajuk Developing Membrane Technology and Adsorbents for Lithium Recovery from Subsurface Brines: Investigating Diffusion and Adsorption Process with Membrane.
Prof. Heru Susanto yang juga menjadi principal investigator dari UNDIP menjelaskan, penelitian difokuskan pada pengembangan teknologi membran dan material adsorben untuk mengambil kembali lithium dari subsurface brines.
“Kami mempelajari bagaimana proses difusi dan adsorpsi berlangsung sehingga dapat dikembangkan material yang semakin selektif dan efektif untuk mengambil unsur yang dibutuhkan,” jelas Prof. Heru, dikutip dari keterangannya, Jumat (28/8/2026).
Teknologi Recovery Jadi Kunci Mineral Kritis
Menurut Prof. Heru, pengembangan teknologi recovery semakin penting karena lithium, nikel, neodimium dan berbagai mineral strategis lainnya menjadi komponen penting dalam kehidupan modern.
Lithium dan nikel termasuk mineral kritis, sedangkan neodimium merupakan salah satu logam tanah jarang.
Material tersebut digunakan dalam berbagai produk dan teknologi, mulai dari telepon seluler, baterai kendaraan listrik, perangkat energi hijau hingga teknologi pertahanan.
Recovery mineral merupakan proses mengambil kembali unsur berharga melalui tahapan ekstraksi, pemisahan dan pemurnian.
Sumbernya tidak hanya berasal dari sumber primer, tetapi juga sumber sekunder, seperti tailing pertambangan dan sampah elektronik melalui pendekatan urban mining.
“Ke depan kita tidak bisa hanya berpikir mencari sumber mineral baru. Kita juga harus memiliki kemandirian teknologi untuk mengambil kembali unsur berharga dari sumber yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk sumber sekunder,” kata Prof. Heru.
Ia menilai penguasaan teknologi recovery, membran dan adsorben menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian teknologi Indonesia.
Setidaknya terdapat tiga alasan yang membuat teknologi recovery semakin diperlukan. Pertama, kebutuhan mineral terus meningkat seiring perkembangan teknologi tinggi dan energi hijau.
Kedua, sumber sekunder seperti sisa pengolahan tambang nikel, timah, bauksit, tailing dan sampah elektronik memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
Ketiga, proses pemisahan mineral juga menghadirkan tantangan lingkungan. Pengelolaan yang tidak tepat dapat menghasilkan limbah berbahaya dan pada sumber tertentu dapat berkaitan dengan material radioaktif.
UNDIP Kembangkan Membran yang Lebih Selektif
Titik Istirokhatun menjelaskan bahwa teknologi membran memiliki peluang besar untuk menghasilkan proses pemisahan yang lebih selektif.
“Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan material yang mempunyai kemampuan selektif terhadap lithium di antara berbagai ion lain yang terdapat di dalam sumbernya,” ujarnya.
Karena itu, penelitian tidak hanya mengkaji karakteristik membran dan adsorben, tetapi juga mempelajari mekanisme difusi dan adsorpsi yang berlangsung selama proses pemisahan.
Titik berharap hasil riset tersebut dapat dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti pada skala laboratorium.
“Pengetahuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan proses pemisahan dan recovery mineral yang lebih efektif, efisien, dan nantinya dapat diterapkan sesuai kebutuhan industri,” katanya.
Di UNDIP, penelitian dipusatkan di Pusat Unggulan IPTEK Membran, Laboratorium Membrane Research Center (MeRC), UPT Laboratorium Terpadu UNDIP.
Riset tersebut juga telah memberikan kontribusi pada pengembangan sumber daya manusia. Salah satu mahasiswa Program Magister Teknik Kimia, Istiqomah Muryaningsih, S.T., M.T., telah menyelesaikan studinya melalui program penelitian ini.
Sementara di University of Aberdeen, penelitian dilakukan di Center of Processes and Materials, School of Engineering, Fraser Nobel Building.
Kolaborasi UNDIP-Abderdeen Diperluas
Perhatian terhadap mineral kritis juga semakin kuat di tingkat nasional. Pemerintah Indonesia membentuk Badan Industri Mineral (BIM) pada 2025 untuk mempercepat riset dan pengembangan dalam rangka meningkatkan nilai tambah mineral strategis dan logam tanah jarang.
Prof. Heru menilai Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam.
“Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar, tetapi kekuatan kita ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada kepemilikan sumber daya alam. Kita harus memperkuat riset, sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi agar mineral tersebut memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa dan masyarakat dengan teknologi yang kita kuasai bukan yang kita beli,” tegasnya.
Dalam kunjungan pada 10-14 Agustus 2026, Prof. Heru Susanto dan Titik Istirokhatun bertukar keahlian dengan Dr. Amin Sharifi dan tim University of Aberdeen.
Pertemuan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi baru, khususnya dalam bidang smart material untuk adsorpsi dan teknologi membran.
Kerja sama juga diarahkan tidak hanya pada penelitian. Prof. Heru yang juga menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNDIP mendorong pengembangan program double degree antara UNDIP dan University of Aberdeen.
Skema yang dijajaki mencakup program magister 1+1 maupun sarjana 2+2.
“Kolaborasi internasional yang kuat idealnya tidak berhenti pada satu proyek penelitian, tetapi berkembang ke pertukaran peneliti, mahasiswa, penelitian bersama, hingga program double degree agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” pungkas Prof. Heru.
Melalui riset recovery lithium berbasis membran dan adsorben tersebut, UNDIP berupaya memperkuat penguasaan teknologi sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah mineral strategis Indonesia.
Kolaborasi dengan University of Aberdeen juga menjadi bagian dari langkah UNDIP memperluas jejaring riset internasional dan menghasilkan inovasi yang berpotensi mendukung kemandirian teknologi, industri, serta pembangunan nasional. (*)