Jawa Tengah Satukan Jejak Batik dari Pesisir hingga Pedalaman, Diusulkan Masuk Memori Kolektif Bangsa 2026

Foto foto koleksi arsip yang terkumpul dari 17 lembaga dan individu di Jawa Tengah yang akan diajukan sebagai Memori Kolektif Bangsa 2026. (Istimewa)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Jawa Tengah bukan hanya dikenal sebagai salah satu pusat batik Indonesia. Di balik denyut industri dan tradisi batiknya, provinsi ini menyimpan jejak panjang perdagangan, perjumpaan budaya hingga nilai spiritual yang terekam dalam berbagai dokumen bersejarah.

Kini, jejak tersebut dihimpun dalam satu nominasi besar. Sebanyak 17 lembaga dan individu pemilik arsip dari berbagai wilayah Jawa Tengah berkolaborasi mengajukan khazanah “Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023” dalam program Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026 yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Nominasi tersebut mempertemukan berbagai arsip dari kawasan pesisir utara Jawa hingga wilayah pedalaman Jawa Tengah. Pekalongan, Batang, Lasem di Kabupaten Rembang, Banyumas hingga Boyolali menjadi bagian dari mozaik sejarah batik yang kini berusaha diabadikan melalui dokumen.

Koordinator Jaringan Lintas Daerah, Atik Fara dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, mengatakan kekuatan utama nominasi tersebut terletak pada kolaborasi lintas daerah dan komunitas.

“Kolaborasi lintas daerah dan lintas komunitas ini menjadi salah satu kekuatan utama nominasi. Tujuan dari bergotong royong adalah mengumpulkan arsip batik yang sangat jarang,” kata Atik, dikutip dari keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Pekalongan Jadi Salah Satu Titik Penting

Sebagai salah satu daerah yang identik dengan batik, Pekalongan memiliki posisi penting dalam jaringan arsip tersebut.

Berbagai koleksi arsip batik dari Pekalongan turut melengkapi pengajuan, berdampingan dengan arsip dari daerah lain yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan batik Jawa Tengah.

Dokumen yang dihimpun tidak hanya berupa kain atau motif. Justru dokumen pendukung seperti bon, nota perdagangan, catatan pesanan dan surat permintaan barang menjadi bagian penting karena mampu merekam aktivitas ekonomi yang berlangsung di balik produksi batik.

Arsip tekstual tersebut berasal dari rentang 1920 hingga 1990.

Kumpulan dokumen itu kemudian diperkuat dengan sketsa batik karya tangan sejak 1930, foto-foto penggunaan batik dalam kehidupan masyarakat pada periode 1900 hingga 1980-an, serta berbagai arsip perdagangan.

Menurut Atik, arsip semacam ini relatif sulit ditemukan dibandingkan kain batik.

“Kain batik dengan berbagai motif sepanjang sejarah perkembangannya masih mudah ditemukan di museum, kolektor atau diperjualbelikan. Namun arsip tekstual, video, foto terkait rantai nilai batik ini cukup langka,” ujarnya.

Dari Batang hingga Lasem, Ada Cerita yang Berbeda

Kekuatan nominasi Jawa Tengah tidak hanya terletak pada banyaknya arsip, tetapi juga keberagaman cerita di dalamnya.

Dari Kabupaten Batang, terdapat arsip klowongan atau pola gambar batik Rifaiyah. Arsip ini memperlihatkan sisi lain batik yang tidak hanya berkaitan dengan seni dan ekonomi.

Motif-motif batik Rifaiyah memiliki makna doa dan harapan serta menjadi bagian dari pewarisan nilai keagamaan di lingkungan keluarga.

Sementara dari Lasem, Kabupaten Rembang, terdapat arsip perdagangan dari Museum Batik Tiga Negeri Lasem dan Yayasan Lasem Heritage.

Yayasan Lasem Heritage juga menyimpan 259 lembar arsip statis yang merekam perjalanan Lasem pada kurun 1900–1950.

Perwakilan Yayasan Lasem Heritage Baskoro mengatakan arsip tersebut menjadi bukti kuat mengenai jejaring ekonomi dan perjumpaan budaya di Lasem.

“Kami memiliki 259 lembar arsip statis. Ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan rekaman yang membuktikan betapa kuatnya jejaring ekonomi dan perjumpaan budaya di Lasem dan jaringan budaya batik Indonesia pada kurun 1900–1950,” ujar Baskoro.

Menurut dia, penominasian tersebut juga menjadi upaya untuk memastikan kontribusi Lasem terhadap kebudayaan batik Indonesia tetap tercatat dan dilestarikan sebagai kontribusi komunal.

Banyumas dan Boyolali Ikut Menyusun Mozaik Sejarah

Jejak batik dalam nominasi tersebut juga bergerak ke wilayah Banyumas dan Boyolali.

Rumah Arsip Banjoemas menjadi salah satu sumber arsip foto mengenai penggunaan batik dalam kehidupan masyarakat pada periode 1900 hingga 1980-an.

Sementara arsip Tjipto Rahardjo dari Boyolali turut melengkapi koleksi yang diajukan.

Kehadiran arsip dari wilayah pesisir dan pedalaman memperlihatkan bahwa perkembangan batik di Jawa Tengah tidak berdiri dalam ruang yang terpisah.

Ada hubungan perdagangan, mobilitas masyarakat dan pertukaran budaya yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya.

Batik Jawa Tengah Tumbuh dari Banyak Komunitas

Arsip-arsip tersebut juga memperlihatkan bahwa perjalanan batik Jawa Tengah dibangun oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Pelaku usaha dan pengguna batik berasal dari masyarakat Jawa, komunitas Islam Jawa, keturunan Tionghoa, India dan Arab.

Jaringan tersebut bahkan berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah Nusantara dan pasar mancanegara.

Karena itu, sejarah batik Jawa Tengah sekaligus menjadi cerita tentang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dalam sebuah jaringan ekonomi dan budaya.

Mata rantai tersebut melibatkan penyedia bahan baku, pembatik, pengusaha, pedagang hingga konsumen.

Menjadikan Arsip Jawa Tengah sebagai Memori Bangsa

Pengajuan bersama ini diharapkan dapat membawa cerita batik Jawa Tengah ke dalam ruang memori nasional.

Jika ditetapkan dalam Memori Kolektif Bangsa 2026, khazanah tersebut akan menghadirkan gambaran yang lebih lengkap tentang batik Indonesia, mulai dari motif, proses, perdagangan hingga nilai sosial dan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.

Bagi Jawa Tengah, nominasi ini juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa kekayaan batik daerah tidak hanya terletak pada kain yang masih diproduksi hingga sekarang, tetapi juga pada dokumen yang merekam perjalanan panjangnya.

Program Memori Kolektif Bangsa merupakan inisiatif ANRI untuk menemukan, menjaga dan memperkenalkan arsip yang memiliki nilai penting bagi sejarah serta pembentukan identitas Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan program Memory of the World UNESCO dalam menjaga warisan dokumenter dunia.

Dari Pekalongan hingga Batang, dari Lasem hingga Banyumas dan Boyolali, arsip-arsip yang selama ini tersebar kini disatukan dalam satu cerita.

Sebuah cerita tentang Jawa Tengah sebagai salah satu simpul penting perjalanan batik Indonesia—bukan hanya sebagai sentra produksi, tetapi juga sebagai ruang pertemuan perdagangan, budaya dan tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad. (*)