Wayang Jadi Napas Kota Semarang: Hangatnya Malam Kota Lama


Wali KOta Agustina Wilujeng bersama wayang muda Semarang di Kota Lama. Foto: Sorotjateng.id/Humas Pemkot Semarang

SOROTJATENG.ID, SEMARANG — Malam di kawasan Kota Lama Semarang, terasa begitu syahdu. Di antara deretan bangunan kolonial yang berdiri megah, ribuan pasang mata tampak berkerumun tanpa sekat.

Mereka berdiri berdesakan, larut dalam kehangatan suasana, demi menyaksikan sebuah pertunjukan seni tradisi yang tak biasa: Wayang On The Street.

Bagi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, malam itu bukan sekadar perhelatan seni biasa dalam rangkaian Festival Kota Lama 2026. Kehadiran warga yang tumpah ruah memenuhi jalanan tanpa kursi mewah menjadi pemandangan mengharukan yang membuktikan satu hal: wayang telah menyatu dengan denyut nadi warga kota.

Dengan suara penuh penghayatan, Agustina menegaskan bahwa wayang bukan sekadar tontonan hiburan yang bisa dinikmati lalu dilupakan. Lebih dari itu, wayang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kota Semarang.

“Karena kita sebagai masyarakat sangat menghargai wayang, menjadikan wayang adalah bagian dari napas hidup kita,” ucap Agustina, dikutif dari rilis Rabu 16 September 2026.

Ada daya tarik magis ketika seni tradisi diboyong keluar dari gedung pertunjukan megah dan ber-AC, lalu dihamparkan langsung di ruang publik. Wayang On The Street berhasil meruntuhkan jarak antara panggung dan penonton.

Agustina melihat konsep terbuka ini memiliki kekuatan kultural yang luar biasa. Ketika tradisi didekatkan dengan keseharian warga, kecintaan itu tumbuh dengan sendirinya secara organik.

“Wayang On The Street ini menjadi ikonik dan jika ini menjadi sesuatu yang terus-menerus dilakukan di waktu tertentu maka akan menjadi momen yang ditunggu,” kata dia penuh optimisme.

Menjaga Akar di Tengah Arus Akulturasi
Sebagai kota pelabuhan yang bersejarah, Semarang dikenal sebagai kuali peleburan berbagai etnis dan kebudayaan. Kota ini sangat akrab dengan harmoni, mempertemukan budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab dalam balutan toleransi yang indah—seperti yang tergambar lewat simbol ikonik Warak Ngendog.

Namun, di balik keterbukaan itu, Agustina mengingatkan pentingnya sikap mawas diri. Proses akulturasi budaya yang berjalan dinamis tidak boleh membuat masyarakat, khususnya generasi muda, tercerabut dari akar budaya aslinya.

“Budaya asli kita tetap harus kita pelajari supaya proses harmoninya itu semakin lama tidak memudarkan budaya kita sebagai masyarakat Jawa di Kota Semarang,” tegasnya.

Lewat malam yang meriah di Kota Lama itu, Semarang kembali mengirimkan pesan kuat kepada dunia: modernitas boleh berjalan, zaman boleh berganti, namun napas budaya Jawa akan senantiasa hidup dan bersemayam di setiap sudut kota.

Ada bagian khusus dari suasana malam festival tersebut yang ingin Anda tonjolkan untuk memperkuat kesan mendalam bagi pembaca?.
Karena itu, menurut Agustina, pelestarian budaya harus dilakukan dengan memahami akar sekaligus memberi ruang bagi ekspresi budaya untuk berkembang.

Komitmen tersebut, lanjut dia, juga berkaitan dengan penguatan ekonomi kota. Festival Kota Lama yang menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, termasuk Wayang On The Street, dinilai mampu menarik wisatawan, menghidupkan aktivitas perdagangan, dan memperluas perputaran ekonomi masyarakat Kota Semarang.

Pengalaman Wayang Orang Ngesti Pandowo tampil di Rotterdam, Belanda, juga disebut sebagai bukti bahwa seni tradisi dari Kota Semarang memiliki daya jangkau luas. Agustina menilai capaian itu perlu diteruskan melalui kebijakan yang konsisten dan dukungan bersama untuk menjaga keberlanjutannya.

Agustina juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dan komunitas dalam pelestarian wayang. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan budaya membutuhkan regenerasi agar wayang tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

“Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang,” kata Agustina.

Melalui Wayang On The Street, Agustina ingin menjadikan budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman kota yang dapat dinikmati masyarakat sekaligus memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota yang terbuka, berbudaya, dan mampu mengharmonikan keberagaman