Grebeg Subali 2026, Cara Warga Krapyak Semarang Menyelamatkan Cerita Kampung dari Gerusan Zaman

Warga Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, saat menggelar Grebeg Subali.

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Sebuah nama jalan mungkin terdengar biasa bagi orang yang melintas. Namun bagi warga yang tinggal di sekitarnya, nama itu bisa menyimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah kampung pernah tumbuh.

Begitu pula sebuah pohon yang kini sudah tidak ada. Atau sebuah jalur yang telah berubah menjadi jalan raya.

Di Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, jejak-jejak semacam itu kembali dicari dan diceritakan melalui Grebeg Subali 2026.

Festival budaya yang berlangsung 25-27 September 2026 tersebut mencoba menjawab satu persoalan sederhana: bagaimana menjaga cerita kampung agar tidak ikut hilang ketika ruang dan zaman terus berubah?

Mengusung tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk”, Grebeg Subali tahun ini mengajak masyarakat melihat Krapyak melalui tiga perspektif: mengingat masa lalu, berkaca pada kondisi hari ini, dan menatap masa depan.

Bukan sekadar pertunjukan seni, festival ini mempertemukan warga, seniman, komunitas budaya, generasi muda, tokoh masyarakat, dan para sesepuh kampung untuk menggali kembali memori kolektif Krapyak.

Ketua Panitia Grebeg Subali 2026, Adam Adjie Kurniawan, mengatakan gagasan tersebut lahir dari keinginan untuk menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dalam menjaga identitas kampung.

“Grebeg Subali bukan sekadar kegiatan pertunjukan atau perayaan budaya. Kami ingin menjadikannya ruang bersama untuk mengingat kembali cerita dan sejarah Krapyak, melihat perubahan yang terjadi hari ini, sekaligus memikirkan apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Adam di Semarang, Rabu (9/9/2026).

Ketika Nama Jalan Menjadi Penanda Sejarah

Perubahan sebuah kampung sering kali berjalan tanpa disadari.

Sawah berubah menjadi permukiman. Jalur yang dahulu digunakan untuk membawa kerbau berubah menjadi jalan. Pohon besar yang pernah menjadi penanda sebuah kawasan perlahan menghilang.

Namun, bagi masyarakat Krapyak, perubahan itu meninggalkan cerita.

Salah satunya adalah Randu Alas, pohon randu berukuran besar yang dahulu menjadi bagian dari lanskap kampung.

Ada pula Dalan Kebo, jalur yang dahulu digunakan sebagai lintasan kerbau untuk menggarap sawah. Kini, jalur tersebut telah berubah menjadi Jalan Subali Raya.

Bentuk fisiknya memang berubah.

Tetapi ingatan masyarakat terhadap tempat-tempat tersebut tetap hidup.

Jejak itulah yang coba diangkat kembali dalam Grebeg Subali 2026. Sejarah tidak dicari hanya melalui dokumen, tetapi juga melalui cerita warga dan pengalaman yang diwariskan lintas generasi.

Kurator Grebeg Subali 2026, Tri Subekso, mengatakan Krapyak memiliki banyak cerita yang penting untuk terus diingat.

“Tema Ngeling, Ngilo, Nginguk kami pilih karena Krapyak memiliki banyak cerita dan jejak masa lalu yang penting untuk diingat. Ada ruang, nama tempat, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang mungkin secara fisik sudah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” kata Tri.

Bagi Tri, mengingat masa lalu bukan berarti mengajak masyarakat terjebak dalam nostalgia.

Sebaliknya, masa lalu perlu dibaca sebagai cara memahami perubahan yang sedang berlangsung.

“Grebeg Subali kami rancang bukan untuk membawa masyarakat sekadar bernostalgia. Masa lalu perlu dilihat sebagai cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menjadi pijakan untuk menentukan masa depan,” ujarnya.

Anak Muda dan Tantangan Menjaga Ingatan

Di tengah perubahan kota yang semakin cepat, tantangan berikutnya adalah memastikan cerita tersebut sampai kepada generasi muda.

Sebab, sebuah tradisi akan kehilangan masa depannya jika hanya dikenal oleh generasi yang lebih tua.

Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dari Grebeg Subali.

Masyarakat tidak diposisikan sebagai penonton. Mereka dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan seni, sejarah, tradisi, dan kehidupan kampung.

Adam berharap keterlibatan tersebut dapat membuat Grebeg Subali tumbuh sebagai tradisi yang semakin dekat dengan masyarakat.

“Melalui Grebeg Subali, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam merawat ingatan, kebudayaan, dan identitas kampung. Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi tradisi yang terus tumbuh dan melibatkan semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.

Dari Lentera hingga Kirab Budaya

Upaya menghidupkan memori Krapyak kemudian diterjemahkan dalam berbagai kegiatan selama tiga hari.

Pada Jumat, 25 September, rangkaian acara diawali dengan prosesi Kalangwan Ibu Pertiwi.

Warga akan berjalan mengelilingi kampung sambil membawa lentera dan menembangkan Ketawang Ibu Pertiwi karya Ki Nartosabdo.

Suasana kampung kemudian akan semakin semarak dengan pemasangan Lampu Teng-Teng di sejumlah titik.

Hari pertama juga diisi pembukaan pameran, pertunjukan Teater GEMA, serta diskusi budaya “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan, hingga Lahirnya Perumnas.”

Diskusi tersebut menghadirkan Tri Subekso dan Dina Prasetyawan sebagai pemantik, bersama Sutanto, Rendra Agusta, dan Johanes Christiono sebagai narasumber.

Pada Sabtu, 26 September, masyarakat dapat mengikuti workshop Wayang Suket dan berbagai pertunjukan kesenian.

Sedangkan pada Minggu, 27 September, kegiatan ditutup dengan workshop Lampu Teng-Teng dan Kirab Budaya.

Kirab berlangsung pukul 15.00-17.30 WIB dengan rute Jalan Subali Raya hingga Jalan Hanoman Raya.

Pataka Grebeg Subali, tokoh wayang wanara, kesenian rakyat, gunungan, serta representasi sejarah dan memori kampung akan menjadi bagian dari kirab tersebut.

Krapyak dan Cerita yang Belum Selesai

Grebeg Subali 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang merayakan apa yang masih dimiliki Krapyak.

Festival ini juga menjadi cara untuk menyadari apa saja yang telah berubah.

Sebab, identitas sebuah kampung tidak selalu melekat pada bangunan atau bentuk ruangnya. Ia juga hidup dalam cerita, kebiasaan, nama tempat, pengalaman warga, dan ingatan yang diwariskan.

Ketika sebuah pohon hilang, ceritanya masih dapat diselamatkan.

Ketika sebuah jalur berubah menjadi jalan raya, sejarahnya masih dapat diceritakan.

Dan ketika generasi berganti, ingatan itu masih dapat diteruskan.

Itulah pesan yang ingin dibangun melalui Grebeg Subali 2026.

“Ngeling” mengajak warga tidak melupakan dari mana Krapyak berasal.

“Ngilo” mengajak melihat perubahan yang sedang terjadi.

Sedangkan “Nginguk” menjadi ajakan untuk membayangkan Krapyak yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan begitu, Grebeg Subali bukan hanya festival budaya selama tiga hari.

Ia menjadi sebuah upaya untuk memastikan bahwa ketika Krapyak terus berubah, cerita tentang Krapyak tidak ikut menghilang. (*)

Editor