250 Mahasiswa UIN Walisongo Belajar Dakwah Moderat dari Akademisi Mesir dan Malaysia

Sebanyak 250 mahasiswa UIN Walisongo mengikuti seminar internasional bersama akademisi Mesir dan Malaysia untuk memperkuat wawasan dakwah Islam moderat. (Dok)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Sebanyak 250 mahasiswa UIN Walisongo Semarang mendapat kesempatan memperluas wawasan mengenai dakwah Islam moderat melalui seminar internasional yang menghadirkan akademisi dari Mesir dan Malaysia.

Seminar bertema Preaching Moderate Islam in Southeast Asia and the Middle East for Global Peace itu digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo di Theater Teatrikal Lantai 4 Gedung KH Shaleh Darat, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana dakwah Islam dapat berkontribusi terhadap perdamaian global.

Seminar dibuka Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. Dua akademisi internasional hadir sebagai pembicara, yakni Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri dari Al-Azhar University, Mesir, dan Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono, Dekan Academy of Contemporary Islamic Studies Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. H. Nasihun Amin, M.Ag., mengatakan keterlibatan akademisi dari dua negara tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif mahasiswa tentang dakwah Islam.

Menurutnya, tantangan dakwah saat ini semakin kompleks karena berhadapan dengan konflik, polarisasi, serta berbagai persoalan kemanusiaan.

Karena itu, dakwah perlu dikembangkan sebagai pendekatan yang mampu merangkul perbedaan.

“Islam moderat bukan Islam yang garang. Islam itu merangkul, bukan memukul; Islam itu memeluk, bukan menendang,” ujar Nasihun, dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).

Belajar Memahami Al-Qur’an Secara Kontekstual

Dalam seminar tersebut, Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri memberikan perspektif mengenai pentingnya memahami Al-Qur’an secara menyeluruh.

Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari asbabun nuzul, tafsir para ulama, dan konteks penerapannya.

Pendekatan tersebut diperlukan untuk mencegah pemahaman keagamaan yang parsial, termasuk penggunaan dalil untuk membenarkan ekstremisme.

Sementara itu, Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono menyoroti pentingnya cara penyampaian pesan dakwah.

Menurutnya, dakwah perlu menggunakan bahasa yang santun, mengedepankan toleransi, dan mendorong terciptanya keharmonisan dalam masyarakat.

Mahasiswa juga didorong memanfaatkan perkembangan teknologi, khususnya media sosial, sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan.

Cetak Pendakwah Berwawasan Global

Rektor UIN Walisongo, Musahadi, mengatakan momentum Hari Santri dapat menjadi ruang untuk memperkuat akhlakul karimah, moderasi beragama, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Kolaborasi dengan akademisi internasional juga dinilai penting untuk memperkenalkan mahasiswa pada perspektif dakwah dari berbagai negara.

Dengan wawasan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami dakwah dari sisi keilmuan, tetapi juga mampu melihat tantangan dakwah dalam konteks masyarakat global.

FDK UIN Walisongo berharap seminar internasional tersebut dapat berkontribusi dalam mencetak generasi pendakwah yang memiliki wawasan internasional, menjunjung tinggi akhlak dan toleransi, serta mampu membawa pesan perdamaian.

Dakwah yang dikembangkan para generasi muda diharapkan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman. (*)

Editor