UIN Walisongo Semarang Siapkan Strategi Baru Menuju World-Class University, Naming Rights Jadi Opsi Pembiayaan

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mulai menyiapkan strategi baru untuk memperkuat pembiayaan pengembangan kampus menuju perguruan tinggi berkelas dunia atau world-class university.
Langkah tersebut dibahas dalam Executive Meeting Pengembangan External Resources yang digelar di Ruang Rapat Senat, Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang, beberapa waktu lalu.
Pertemuan itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., jajaran pimpinan universitas, dekanat, serta pimpinan lembaga dan unit kerja di lingkungan UIN Walisongo.
Forum tersebut menjadi ruang strategis bagi kampus untuk merumuskan pendekatan baru dalam menggali sumber daya eksternal sekaligus mengoptimalkan berbagai peluang kemitraan untuk mendukung program-program pengembangan universitas.
Menko PMK Dorong Kampus Tak Terpaku Anggaran Internal
Dalam forum tersebut, Prof. Pratikno mendorong perguruan tinggi untuk mengubah pola pikir dalam menyusun perencanaan anggaran.
Menurutnya, kampus tidak seharusnya hanya menentukan program berdasarkan kemampuan anggaran internal yang tersedia.
Tantangan perguruan tinggi saat ini, kata dia, semakin kompleks karena tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan dan pelayanan terus meningkat, termasuk di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.
“Tata kelola perguruan tinggi itu pada dasarnya mengelola dilema mandat. Kita butuh mencari rel yang tepat, bukan sekadar mengerem. Tuntutan mutu dan pelayanan kampus terus meningkat di era media sosial ini, sementara ruang pembiayaan sering kali terbatas,” ujar Pratikno, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).
Karena itu, ia mendorong perubahan pendekatan perencanaan dari sekadar budget-driven menjadi perencanaan yang berorientasi pada nilai dan reputasi masa depan kampus.
Perguruan tinggi, lanjutnya, harus mampu menawarkan gagasan dan narasi keunggulan kepada calon mitra.
Dengan cara tersebut, kampus dapat membuka peluang memperoleh dukungan berupa dana tunai, bantuan fasilitas maupun barang (in-kind), hingga kerja sama melalui skema naming rights.
Skema naming rights memungkinkan mitra memberikan dukungan terhadap pengembangan fasilitas tertentu dengan hak penamaan sesuai kesepakatan kerja sama.
Bagi perguruan tinggi, skema tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas sumber pembiayaan di luar anggaran internal.
UIN Walisongo Siap Tinggalkan Pola Pembiayaan Konvensional
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti arahan tersebut melalui transformasi dalam perencanaan dan pengembangan sumber daya eksternal kampus.
Menurut Musahadi, perubahan paradigma menjadi kebutuhan agar UIN Walisongo mampu menghadapi tantangan pengembangan perguruan tinggi di tengah keterbatasan pembiayaan.
“Arahan dan pandangan dari Bapak Menko PMK Prof. Pratikno menjadi pemantik semangat sekaligus kompas strategis bagi UIN Walisongo Semarang. Tata kelola perguruan tinggi hari ini memang menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman perencanaan konvensional,” kata Musahadi.
Ia menegaskan UIN Walisongo akan mulai mengembangkan pola pembiayaan yang tidak hanya mengandalkan sumber internal.
Narasi keunggulan kampus, inovasi pembiayaan, kemitraan strategis, naming rights, hingga penggalangan endowment fund menjadi bagian dari strategi yang akan dikembangkan.
Hasil pertemuan tersebut juga akan ditindaklanjuti oleh berbagai unit kerja di lingkungan UIN Walisongo. Pimpinan universitas, fakultas, dan lembaga akan diarahkan untuk memetakan pembiayaan program strategis melalui tiga jalur.
Ketiganya meliputi dukungan anggaran internal, kontribusi fasilitas atau in-kind, serta penggalangan fresh money dari mitra eksternal.
“Dengan modal reputasi akademik, kapasitas SDM, dan posisi strategis yang kita miliki, UIN Walisongo optimistis mampu melompati keterbatasan anggaran internal untuk menghadirkan layanan pendidikan tinggi berkualitas internasional,” pungkas Musahadi.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya UIN Walisongo Semarang memperkuat tata kelola kelembagaan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia usaha, korporasi, filantropi, dan berbagai mitra strategis.
Dengan diversifikasi sumber pembiayaan, kampus berharap agenda peningkatan mutu, penguatan fasilitas, serta pengembangan reputasi internasional dapat berjalan lebih cepat menuju target sebagai perguruan tinggi berkelas dunia. (*)