Karhutla Gunung Sumbing Padam, 974 Hektare Lahan Terbakar dan Segera Direhabilitasi

Karhutla Gunung Sumbing dinyatakan padam setelah membakar 974,29 hektare di Wonosobo, Magelang, dan Temanggung. Pemprov Jateng menyiapkan patroli dan reboisasi. (Dok)

SOROTJATENG.ID, TEMANGGUNG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sumbing yang meliputi wilayah Kabupaten Wonosobo, Magelang, dan Temanggung dinyatakan telah padam.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini memfokuskan penanganan pada evaluasi dampak, patroli untuk memastikan tidak ada titik api baru, serta rehabilitasi kawasan pascakebakaran.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan hasil pemantauan menunjukkan titik api di sejumlah petak yang sebelumnya terbakar sudah tidak lagi muncul.

Luthfi menegaskan, setelah api berhasil dipadamkan, penanganan tidak boleh berhenti. Sejumlah kerusakan akibat kebakaran harus segera dipulihkan, termasuk jaringan pipa air bersih masyarakat yang terdampak.

“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery (pulihkan). Kemudian lakukan reboisasi terkait dengan pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk direboisasi kembali. Reboisasi kita lakukan bersama,” kata Luthfi usai meninjau kawasan Gunung Sumbing dan bertemu relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026).

Luas Karhutla Gunung Sumbing Capai 974 Hektare

Administratur Perum Perhutani KPH Kedu Utara, Dimyati, mengatakan kebakaran di kawasan Gunung Sumbing yang berada di tiga kabupaten telah padam sepenuhnya sejak Sabtu (24/10/2026).

Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan, kawasan Gunung Sumbing sudah tidak menunjukkan titik api maupun asap.

Meski demikian, petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa.

“Kita pantau hari ini dari Sipongi, Gunung Sumbing bersih dari titik api dan asap kebakaran,” ujar Dimyati.

Kebakaran tersebut berdampak pada kawasan seluas 974,29 hektare. Rinciannya, 362 hektare berada di wilayah Wonosobo, 213 hektare di Magelang, dan 398,89 hektare di Temanggung.

Total nilai kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp189,3 juta.

“Wilayah yang terbakar itu berupa savana yang dipenuhi ilalang dan rumput hutan, sebagian di wilayah Wonosobo memang ada tumbuhan keras,” katanya.

Evaluasi Dampak Kebakaran

Ahmad Luthfi meminta evaluasi dilakukan secara menyeluruh dengan mengutamakan data faktual dan akurat. Evaluasi tersebut mencakup dampak terhadap vegetasi, satwa liar, jaringan air bersih, hingga luasan kawasan yang terbakar.

Menurutnya, kebakaran di sejumlah titik bahkan telah merambah kawasan hutan dan membakar beberapa pohon keras.

Kerusakan saluran pipa air bersih masyarakat juga menjadi salah satu persoalan yang perlu segera ditangani.

Pemerintah bersama masyarakat akan melakukan pemulihan jaringan tersebut sekaligus menyiapkan program reboisasi di kawasan yang terdampak.

Jalur Pendakian Gunung di Jateng Masih Ditutup

Selain rehabilitasi, pemerintah juga memperkuat langkah pencegahan agar karhutla tidak kembali terjadi. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kawasan pegunungan.

Luthfi mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran di kawasan gunung.

“Penyebab kebakaran masih dilakukan penyelidikan, indikasi awal adalah human error. Jangan sampai nanti terulang lagi,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, imbauan penutupan sementara jalur pendakian di seluruh gunung di Jawa Tengah masih berlaku.

Pembukaan kembali jalur pendakian akan mempertimbangkan hasil evaluasi kondisi kawasan dan faktor keselamatan.

Luthfi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran Gunung Sumbing, mulai dari kelompok masyarakat, BPBD, hingga BNPB.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh kelompok masyarakat, BPBD Provinsi, Kabupaten/Kota, BNPB yang membantu memadamkan api,” ucapnya.

Dengan padamnya karhutla, pemerintah kini menghadapi tahap lanjutan yang tidak kalah penting, yakni memastikan kawasan Gunung Sumbing benar-benar aman dari bara api sekaligus memulihkan ekosistem dan fasilitas masyarakat yang rusak akibat kebakaran. (*)

Editor