Bukan Sekadar Pendampingan, Tim UNDIP Turun ke Sawah Bersama Warga Transmigrasi Senggi Papua

Tim Ekspedisi Patriot UNDIP ikut tanam padi bersama warga transmigrasi Senggi, Keerom, Papua, sambil menghidupkan tradisi royongan.

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) terjun langsung ke tengah masyarakat kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, untuk mendampingi aktivitas pertanian warga.

Tak sekadar melakukan pendampingan, tim tersebut ikut turun ke lahan bersama petani lokal dalam proses penanaman bibit padi.

Kegiatan itu sekaligus menjadi pengalaman langsung bagi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UNDIP untuk mengenal dan terlibat dalam tradisi royongan yang masih dijalankan masyarakat setempat.

Royongan merupakan bentuk gotong royong warga dalam menyelesaikan pekerjaan pertanian secara bersama-sama. Aktivitas tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari mengangkut bibit, menyiapkan lahan hingga menanam padi.

Tradisi itu tidak hanya membuat pekerjaan pertanian menjadi lebih ringan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan antarwarga.

Kehadiran Tim 14 Ekspedisi Patriot UNDIP di tengah aktivitas pertanian mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga mengapresiasi keterlibatan tim yang tidak hanya mempelajari kehidupan masyarakat secara teori, tetapi ikut merasakan langsung aktivitas mereka di lapangan.

“Kami senang tim datang ke sini dan ikut turun langsung menanam. Jadi, tidak hanya mendengar tentang kegiatan royongan, tetapi juga ikut merasakan langsung bagaimana budaya royongan yang selalu kami lakukan,” ujar Hatta, anggota Kelompok Tani Kotop, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Bagi warga, royongan memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas mengerjakan lahan secara bersama-sama. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang dibangun melalui semangat saling membantu.

Di tengah pekerjaan yang cukup menguras tenaga, suasana di lahan pertanian tetap berlangsung hangat. Warga bekerja secara sukarela tanpa menghitung besarnya kontribusi masing-masing. Percakapan dan canda gurau pun mewarnai aktivitas penanaman padi.

Keterlibatan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP dalam kegiatan tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan masyarakat dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.

Semangat saling membantu dan kebersamaan menjadi modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Di kawasan transmigrasi, keberlanjutan kehidupan masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor ekonomi dan pertanian. Modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan gotong royong juga menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi pembangunan.

Tradisi royongan menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang mampu menjaga hubungan antarwarga sekaligus mendukung aktivitas produktif masyarakat.

Melalui kegiatan penanaman padi bersama, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP juga melihat secara langsung bagaimana kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan upaya pembangunan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 atau Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan lokal, SDG 10 terkait pengurangan kesenjangan melalui inklusi dan solidaritas sosial, serta SDG 17 mengenai kemitraan melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.

Bagi Tim Ekspedisi Patriot UNDIP, pengalaman di lahan pertanian Senggi menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar.

Semangat gotong royong yang tumbuh dari masyarakat sendiri justru dapat menjadi kekuatan penting untuk membangun ketahanan pangan sekaligus memperkuat kehidupan sosial di kawasan transmigrasi. (*)

Editor