Cerita Warga Demak Terdampak Kekeringan, Terpaksa Keluar Rp 300 Ribu Sebulan untuk Beli Air

Jurnalis dari IJTI Korda Muria Raya menyalurkan tiga truk tangki air bersih ke warga terdampak kekeringan di Desa Ngaluran, Karanganyar, Demak.

SOROTJATENG.ID, DEMAK – Sumur yang mengering membuat warga Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Selama beberapa bulan terakhir, warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum. Pengeluaran tambahan itu bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per bulan.

Kondisi tersebut dirasakan langsung Rodiah, warga Desa Ngaluran. Ia mengatakan kesulitan air bersih semakin parah setelah sumur-sumur warga tidak lagi mampu menyediakan air.

“Senang sekali ada bantuan ini. Sudah tiga bulan di sini sulit air bersih, dan akhir-akhir ini makin parah. Biasanya kami terpaksa beli air galon isi ulang. Adanya bantuan ini tentu sangat meringankan beban kami,” kata Rodiah, Rabu (2/9/2026).

Bagi warga, bantuan air bersih menjadi sangat berarti karena kebutuhan air tidak bisa ditunda. Air diperlukan setiap hari, terutama untuk memasak dan minum.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih datang dari para jurnalis televisi yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya).

Melalui kegiatan “Jurnalis TV Peduli Kekeringan”, IJTI Korda Muria Raya menyalurkan tiga truk tangki air bersih ke Desa Ngaluran. Setiap tangki membawa 5.000 liter air sehingga total bantuan yang diberikan mencapai 15.000 liter.

Koordinator kegiatan, Ismail, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian para jurnalis terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian teman-teman jurnalis TV yang bertugas di Kabupaten Demak. Kami berharap bantuan ini mampu meringankan beban warga yang terdampak kekeringan,” ujar Ismail.

33.537 Warga Demak Terdampak

Kesulitan yang dialami warga Ngaluran bukan persoalan yang terjadi di satu desa saja. Data BPBD Kabupaten Demak menunjukkan krisis air bersih telah meluas ke 21 desa di delapan kecamatan.

Kabid Darlog BPBD Kabupaten Demak, Suprapto, menyebut jumlah warga yang terdampak mencapai 33.537 jiwa.

Menurutnya, kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan. Kondisi semakin sulit karena fasilitas Pamsimas dan sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air harian.

“Saat ini sudah 21 desa yang terdampak kesulitan air bersih. Hal ini terjadi karena fasilitas Pamsimas dan sumur warga sudah tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan harian,” jelas Suprapto.

Kondisi itu membuat warga harus mencari sumber air alternatif, termasuk membeli air dengan biaya yang tidak sedikit.

Bantuan Air Jadi Pelepas Dahaga Warga

Bantuan air bersih dari IJTI Korda Muria Raya disalurkan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Kodim 0716/Demak, dan BPBD Kabupaten Demak.

Dalam kegiatan tersebut, total terdapat delapan truk tangki yang mendistribusikan air bersih. Jika seluruh bantuan dihitung, sebanyak 40.000 liter air disalurkan kepada warga pada hari yang sama.

Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Miftakhudin, mengatakan aksi sosial tersebut dilakukan karena keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang menghadapi krisis air bersih akibat fenomena El Nino.

“Bakti sosial ini adalah wujud empati jurnalis terhadap kondisi masyarakat saat ini yang terdampak fenomena El Nino,” tutur Iwhan.

Bagi warga Ngaluran, air yang datang bukan sekadar bantuan. Di tengah sumur yang mengering dan biaya membeli air yang terus bertambah, distribusi air bersih setidaknya memberikan ruang bagi mereka untuk mengurangi beban pengeluaran.

Warga pun berharap bantuan serupa terus berdatangan selama sumber air belum kembali normal. Mereka juga mengajak masyarakat untuk menggunakan air secara hemat agar persediaan yang ada dapat mencukupi kebutuhan lebih banyak orang. (*)