UNDIP-Unwahas Kenalkan Teknologi Pengering Rumput Laut di Brebes, Lebih Cepat dan Higienis

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) memperkenalkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup kepada pelaku UMKM di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.

SOROTJATENG.ID, BREBES – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) memperkenalkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup kepada pelaku UMKM di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.

Teknologi tersebut memanfaatkan energi hibrida surya dan biomassa untuk mempercepat pengeringan sekaligus menjaga kebersihan dan kualitas rumput laut kering.

Penerapan teknologi dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis-SINERGI, skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktaisaintek.

UNDIP dan Unwahas menggandeng PT Mutiara Global Industry melalui kolaborasi co-funding, co-contribution, dan co-creation. Desa Randusanga Kulon dipilih karena memiliki potensi budi daya rumput laut yang cukup besar.

Sebelumnya, sebagian warga masih menjemur rumput laut di pinggir jalan tambak atau jalan desa. Metode tersebut membuat proses pengeringan bergantung pada cuaca serta berisiko terpapar debu dan kotoran.

Pengeringan Rumput Laut Lebih Cepat

Melalui teknologi baru, rumput laut dikeringkan di bangunan tertutup menggunakan panas dari energi surya sebagai sumber utama dan biomassa sebagai pendukung.

Sistem blower dan fan exhaust membantu mengatur sirkulasi udara panas, sementara rumput laut ditempatkan di rak agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun lantai.

Ketua Tim SINERGI, Prof. Dr. Moh. Djaeni, mengatakan teknologi tersebut dirancang sesuai kebutuhan pelaku usaha.

“Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk mempercepat proses pengeringan yang semula 18 jam menjadi 8 jam, tetapi juga membantu pelaku usaha menjaga kebersihan serta meningkatkan konsistensi kualitas produk rumput laut kering,” jelasnya, dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (30/8/2026).

Dukungan energi biomassa juga membuat proses pengeringan tetap dapat berlangsung ketika intensitas matahari menurun. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki sistem produksi yang lebih efisien dan tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca.

Program ini sekaligus melibatkan mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor Teknik Kimia. Mereka mendampingi penerapan teknologi sekaligus belajar menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Penerapan teknologi pengering rumput laut tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas, daya saing, dan nilai jual produk rumput laut kering warga Randusanga Kulon.

Kini, hasil panen rumput laut warga tidak lagi harus dijemur di pinggir jalan, tetapi dapat dikeringkan dengan proses yang lebih bersih, terkendali, cepat, dan konsisten. (*)