Jateng Kejar Target Zero Sampah 2029, PSEL Semarang Raya Dibangun Mulai Desember 2026

TPA Jatibarang dilihat dari atas. PSEL Semarang Raya ditargetkan groundbreaking Desember 2026 dan mengolah 1.000 ton sampah per hari untuk mendukung Jateng zero sampah 2029. (Dok Pemkot Semarang)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) wilayah aglomerasi Semarang Raya memasuki tahap pemantapan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut mulai ditandai dengan groundbreaking pada Desember 2026.

PSEL yang akan dibangun di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah baru setiap hari yang berasal dari Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.

Target tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) Fadli Rahman seusai rapat perkembangan proyek PSEL Semarang Raya di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).

“Insyaallah dalam waktu dekat, sekitar empat bulan ke depan sudah ada groundbreaking (peletakan batu pertama),” kata Ahmad Luthfi.

Menurut Luthfi, pembangunan PSEL Semarang Raya ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada 2028. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu langkah strategis Pemprov Jateng dalam menangani persoalan sampah dari hulu hingga hilir.

1.000 Ton Sampah Diolah Setiap Hari

PSEL Semarang Raya akan memanfaatkan kawasan Jatibarang sebagai lokasi pengolahan sampah dalam skala regional.

Sampah baru dari Kota Semarang dan Kabupaten Kendal nantinya akan diproses melalui fasilitas tersebut sehingga diharapkan dapat mengurangi beban pengelolaan sampah di kedua wilayah.

Selain PSEL, kawasan Jatibarang juga direncanakan memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara solar atau waste to fuel.

Untuk proyek tersebut, Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Semarang akan bekerja sama dengan KSAD yang disebut memiliki praktik pengolahan sampah di Surabaya.

Lahan 6 Hektare Mulai Dimatangkan

CEO PT Denera sekaligus Direktur Investasi Danantara Investment Management, Fadli Rahman, mengatakan persiapan proyek PSEL Semarang Raya terus dipercepat bersama Pemprov Jawa Tengah, Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal.

Review terhadap lahan seluas 6 hektare yang disiapkan Pemkot Semarang di kawasan Jatibarang telah dilakukan.

Tahap berikutnya adalah pematangan lahan yang ditargetkan selesai dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Pematangan tersebut mencakup sejumlah kebutuhan, mulai dari akses jalan, penataan lahan yang memiliki kontur curam hingga analisis dampak lingkungan.

“Target kita groundbreaking di Desember 2026 sehingga di akhir 2028 itu pengelolaan sampah di Semarang Raya sudah bisa dimulai untuk seterusnya selama 30 tahun ke depan,” ujar Fadli.

PSEL Jadi Bagian dari Strategi Sampah Jawa Tengah

Pengembangan PSEL Semarang Raya bukan satu-satunya proyek pengolahan sampah yang disiapkan Pemprov Jawa Tengah.

Pemerintah juga mendorong pengembangan PSEL di sejumlah kawasan aglomerasi lainnya, antara lain Pekalongan Raya yang mencakup Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang dan Batang, serta Tegal Raya yang mencakup Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Brebes.

Kedua wilayah tersebut telah mencapai tahap penandatanganan kesepakatan bersama dan perjanjian kerja sama pada 13 April 2026.

Sementara itu, rencana PSEL untuk Muria Raya yang meliputi Kabupaten Pati, Kudus dan Blora masih dalam proses pengajuan serta pembahasan di Kementerian Lingkungan Hidup.

Jawa Tengah juga telah menyusun peta jalan pengelolaan sampah. Strategi tersebut mencakup pembentukan Satgas Penuntasan Sampah, pengelolaan sampah regional menggunakan model Refuse Derived Fuel (RDF), pengurangan sampah dari hulu hingga pengolahan di hilir, serta Gerakan Jawa Tengah ASRI.

Model RDF telah diterapkan di Cilacap, Banyumas dan Magelang. Sementara praktik PSEL telah dilakukan di TPA Putri Cempo, Surakarta.

Jateng Bidik Zero Sampah 2029

Ahmad Luthfi menegaskan penyelesaian persoalan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan fasilitas pengolahan di hilir.

Menurutnya, masyarakat di tingkat desa juga memiliki peran penting dalam mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Jawa Tengah saat ini telah memiliki lebih dari 2.000 Desa Mandiri Sampah yang dikembangkan dengan pendekatan dan kearifan lokal.

“Penyelesaian hulu-hilir juga dilakukan, di mana kami sudah punya 2000-an Desa Mandiri Sampah, penyelesaian sampah mandiri dengan kearifan lokal yang juga kami bina. Masalah sampah ini tanggung jawab kita bersama,” jelas Luthfi.

Dengan kombinasi pengurangan sampah dari sumber, pengolahan regional, RDF, PSEL hingga pengembangan waste to fuel, Pemprov Jawa Tengah menargetkan persoalan sampah dapat ditangani secara lebih sistematis.

Sesuai arahan Presiden, Jawa Tengah ditargetkan siap menuju zero sampah pada 2029.

PSEL Semarang Raya pun menjadi salah satu proyek penting untuk mengejar target tersebut, dengan pembangunan ditargetkan dimulai akhir 2026 dan pengolahan sampah regional mulai berjalan pada akhir 2028. (*)