Manusia Harus Upgrade Kemampuan demi Reputasi. Sedang Artificial Intelligence

SOROTJATENG.ID, SALATIGA – Di era teknologi saat ini, Artificial Intelligence (AI) harus dimanfaatkan untuk menunjang
komunikasi dan public speaking.
Menurut pakar Awang Adjiewasita, seorang profesional di industri penyiaran, AI memang perlu dipelajari dan dimanfaatkan. “Tetapi jangan sampai kita menjadi asistennya AI. Kitalah yang harus mengoperasikannya, sambil tetap membangun kemampuan komunikasi, karakter, dan reputasi sebagai manusia,” ungkapnya, di Auditorium Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat acara PURE: Seminar dan Competition 2026, Jumat (18/9/2026), dalam keterangan tertulis.
“Karena ketika AI memiliki keterbatasan, kita akan kembali kepada manusia yang punya rasa dan reputasi. Jadi, jangan hanya upgrade kemampuan menggunakan AI, tetapi upgrade juga diri kita sebagai manusia,” kata Awang.
Sementara Fashionpreneur Adeline Natasha Kusumawardani menyampaikan berbusana casual itu bukan soal memakai pakaian yang mahal atau mengikuti tren. “Tetapi bagaimana kita memberikan yang terbaik untuk diri sendiri melalui pakaian yang rapi dan sesuai karakter,” ujarnya.
Dia menyarankan pilih pakaian yang sederhana dengan warna-warna basic, sesuaikan dengan bentuk tubuh, karakter, dan tempat yang akan didatangi. “Karena penampilan menjadi salah satu hal pertama yang dilihat dan dapat membentuk personal image. Untuk membangunnya, kita bisa mencari banyak referensi dari media sosial atau influencer fashion yang sesuai dengan karakter kita,” kata Adeline.
Ketua Panitia PURE 2026 Cahaya Arum Bunga Permata Putri menjelaskan selain kegiatan seminar, diadakan juga kompetisi Strategic Management Communication (SMC) bagi mahasiswa dan presenting untuk siswa-siswi SMA dan SMK di Salatiga.
“Kegiatan PURE ini bertujuan untuk mewadahi peserta dalam memahami pemanfaatan AI dalam komunikasi dan public speaking serta pentingnya berpenampilan menarik di era saat ini melalui kolaborasi bersama para praktisi di bidangnya,” ujarnya.
Arum berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman peserta terkait pemanfaatan AI, keterampilan komunikasi, serta cara membangun personal branding dan memulai karir di usia muda.
“Kegiatan ini juga diharapkan mengembangkan kemampuan public speaking melalui presenting dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah secara efisien di dalam perusahaan melalui metode SMC di era krisis AI,” ungkapnya.
Sementara Ketua Program Studi (Kaprodi) Hubungan Masyarakat George Nicholas Huwae, mengungkapkan tema yang diangkat dalam PURE 2026 ini sangat relevan dengan dunia digital saat ini. “Saat ini kita berada di era digitalisasi di mana perkembangan AI sangat pesat. Sebagai calon praktisi PR profesional, mahasiswa wajib melek teknologi agar seluruh strategi dan praktik komunikasi yang dijalankan tetap relevan dengan perkembangan zaman,” kata dia.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya sebatas untuk mengembangkan hard skill, melainkan juga soft skill mahasiswa.
“Melalui kegiatan dan workshop ini, mahasiswa diharapkan dapat terus mengasah keterampilan public speaking, tata cara berpenampilan profesional, hingga kemampuan teknis yang sangat dibutuhkan di industri saat ini,” kata Nicholas.
Pemenang lomba PURE pada kategori SMC, juara 1 diraih oleh tim The Bajigirls Who Can’t be Moved dari Universitas Airlangga (UNAIR), juara 2 tim Kelompok KKN dari Universitas Diponegoro (UNDIP) sedangkan juara 3 disabet HighSchool in Jekarda dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Kemudian kategori presenting, juara 1 direbut Project Mbappe dari SMKN 1 Salatiga, juara 2 diraih Kokekab dari SMA Kristen Satya Wacana, dan juara 3 Mam Choir Suka Americano SMKN 1 Salatiga
