Makram Pekalongan Tembus Pasar Jepang, Perajin Lokal Didorong Garap Produk Fesyen

Kerajinan makram Pekalongan mulai menembus pasar Jepang sebagai produk fesyen. Perajin lokal dilatih memenuhi standar dan membuka peluang kerja. (Dok Dinkominfo Kota Pekalongan)

SOROTJATENG.ID, PEKALONGAN – Kerajinan makram dari Kota Pekalongan mulai merambah pasar Jepang.

Tak sekadar menjadi produk dekorasi rumah, makram karya perajin lokal kini dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen, mulai dari clutch, dompet koin, aplikasi pakaian hingga kantong kosmetik.

Peluang pasar tersebut menjadi angin segar bagi para perajin makram di Kota Pekalongan.

Pemerintah melalui Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan turut memfasilitasi perajin lokal agar mampu memenuhi permintaan pasar internasional.

Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan Wismo Aditiyo mengatakan, fasilitasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pemasaran produk UMKM, termasuk membuka peluang menuju pasar ekspor.

“Tidak hanya dari sisi pemasaran produk, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat. Kami akan terus mendorong dan memfasilitasi pelaku UMKM agar semakin mampu memenuhi kebutuhan pasar, termasuk pasar ekspor,” ujar Wismo, dikutip dari jatengprov.go.id, Kamis (24/9/2026).

Standar Produk Jepang Jadi Tantangan Perajin Makram

Menurut Wismo, pasar Jepang memiliki standar produk yang cukup spesifik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi perajin untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas produksinya.

Para perajin dituntut mampu menghasilkan produk sesuai spesifikasi yang ditentukan mitra, sehingga keterampilan dalam membaca pola dan ketelitian menjadi hal penting.

Salah satu perajin yang terlibat dalam produksi untuk pasar Jepang adalah Fenty dari Fenty Handmade.

Ia bersama empat perajin lainnya dipercaya menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan pesanan tersebut.

Fenty mengatakan, keterlibatan mereka bermula setelah Dindagkop-UKM mempertemukan para perajin dengan pihak Batik Tobal yang sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan mitra dari Jepang.

“Awalnya kami dipanggil Dindagkop-UKM, kemudian dipertemukan dengan pihak Batik Tobal yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan pihak Jepang. Kami berlima kemudian menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan produk tersebut,” ujar Fenty.

Menurutnya, pembuatan makram untuk pasar Jepang memiliki tingkat ketelitian yang berbeda dibandingkan produk yang biasa dibuat untuk pasar lokal.

Jika biasanya perajin cukup memastikan simpul makram kuat dan rapi, produk pesanan Jepang harus mengikuti pola yang telah ditentukan secara presisi.

“Kalau biasanya membuat makram yang penting ikatannya kuat, tetapi untuk pesanan Jepang harus mengikuti gambar pola secara tepat. Dari situ kami juga belajar membaca pola makram,” jelasnya.

Makram Tak Lagi Sekadar Hiasan Rumah

Masuknya produk makram Pekalongan ke pasar Jepang juga membawa perubahan dari sisi jenis produk yang dibuat.

Selama ini, makram lebih banyak dikenal masyarakat sebagai produk dekorasi, seperti hiasan dinding, gantungan pot maupun ornamen interior rumah.

Namun, permintaan dari Jepang justru mengarah pada produk fesyen dan aksesori.

Beberapa di antaranya berupa clutch, aplikasi pada pakaian, dompet koin dan kantong kosmetik.

Untuk memastikan perajin mampu memenuhi spesifikasi tersebut, pihak Batik Tobal bahkan mendatangkan pengajar dari Jepang.

Para perajin mendapatkan pelatihan dasar selama tiga hari sebelum mulai mengerjakan pesanan.

Buka Peluang Kerja bagi Warga Pekalongan

Peluang pasar Jepang tersebut kini turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Fenty menyebut dirinya telah melibatkan sekitar empat orang tenaga pekerja dan masih membutuhkan tambahan perajin.

Menariknya, masyarakat yang ingin bergabung tidak perlu menyediakan alat maupun bahan sendiri karena seluruh kebutuhan produksi telah disiapkan.

“Siapa saja boleh bergabung, tidak ada syarat usia, gender atau pendidikan. Yang penting mau dan bisa. Alat dan bahan kami yang menyediakan,” kata Fenty.

Syarat utama yang diberikan adalah kemauan dan kemampuan mengikuti pola makram yang telah ditentukan.

Bagi perajin pemula, Fenty menetapkan upah sebesar Rp10 ribu untuk setiap ukuran 10×10 sentimeter jalinan makram.

Sementara perajin yang hasil pekerjaannya sudah lebih rapi dapat memperoleh Rp15 ribu.

Pola pengerjaannya pun relatif fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan aktivitas masing-masing.

Bagi ibu rumah tangga, misalnya, pengerjaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai waktu yang tersedia.

“Kalau hasilnya sudah mulai rapi, Rp15 ribu. Untuk ibu rumah tangga pengerjaannya fleksibel, bisa sehari satu atau dua hari satu,” ungkapnya.

Fenty berharap permintaan produk makram untuk pasar Jepang dapat terus berkembang.

Dengan kebutuhan produksi yang masih cukup besar, peluang tersebut dinilai dapat menjadi sumber penghasilan baru sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat Pekalongan menekuni kerajinan makram.

Bagi para perajin lokal, pasar Jepang bukan hanya membuka akses pemasaran baru, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan menghasilkan produk kerajinan yang memiliki nilai tambah di pasar internasional. (*)

Editor