Berawal dari Bawa Pentol ke Sekolah, Usaha Afidaah Kini Tembus Papua hingga Jepang

SOROTJATENG.ID, SRAGEN – Sebuah usaha kuliner tidak selalu lahir dari modal besar. Kisah Nur Afidaah (25), warga Dukuh Sokarejo, Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Sragen, menjadi salah satu contohnya.
Usaha Afidaah Pentol yang kini memiliki pelanggan hingga berbagai daerah di Indonesia bahkan dibawa sampai Jepang, ternyata berawal dari kebiasaan sederhana saat dirinya masih duduk di kelas X SMK.
Kala itu, Afidaah hanya membawa satu baskom pentol buatan ibunya ke sekolah. Niat awalnya sekadar membagikan makanan tersebut kepada teman-temannya.
Namun, di luar dugaan, pentol itu justru disukai. Teman-temannya mulai memesan dan dari situlah aktivitas yang awalnya hanya iseng perlahan berubah menjadi usaha.
“Awal mulanya saya sudah merintis sejak SMK kelas 10. Ibu saya memang sudah jualan sejak saya kecil. Waktu itu saya ingin membawa pentol ke sekolah untuk dibagi ke teman-teman. Saya bawa satu baskom, ternyata mereka suka dan akhirnya pesan,” ujar Afidaah, dikutip dari sragenkab.go.id, Sabtu (19/9/2026).
Dari Jualan di Sekolah hingga Dikenal Lewat Media Sosial
Hingga lulus SMK, pentol buatan Afidaah semakin dikenal di lingkungan pertemanannya. Bahkan, teman-temannya sendiri yang kemudian memberi nama usaha tersebut Afidaah Pentol.
Afidaah sempat berhenti berjualan setelah bekerja. Namun, sejumlah teman yang mengaku rindu dengan pentol buatannya membuatnya kembali menekuni usaha tersebut.
Pada 2018, ia mulai lebih serius memperkenalkan produknya melalui media sosial. Instagram, Facebook, dan TikTok menjadi sarana untuk mengenalkan produk sekaligus menjangkau pelanggan baru.
“Sebenarnya awalnya iseng, tidak sengaja. Setelah saya upload di Instagram, TikTok, dan Facebook, orang-orang mulai mengenal saya jualan pentol. Akhirnya menjadi pentol viral,” katanya.
Dari promosi sederhana di media sosial, jangkauan pelanggan Afidaah semakin luas. Cara berjualan pun ikut berubah mengikuti kebutuhan pelanggan.
Dari COD, Jastip hingga Berjualan OTR
Pada akhir 2022, Afidaah mulai menerapkan sistem cash on delivery (COD). Pesanan yang datang kemudian membuatnya harus berkeliling mengantarkan pentol kepada pelanggan.
Setelah itu, muncul pelanggan yang menawarkan konsep jasa titip atau jastip. Dari sinilah model penjualan Afidaah kembali berkembang hingga akhirnya muncul permintaan untuk berjualan on the road (OTR).
Berbeda dengan berjualan di satu tempat tetap, sistem OTR membuat Afidaah berpindah-pindah lokasi. Informasi mengenai lokasi berjualan kemudian disampaikan melalui media sosial.
“Awalnya 2022 akhir saya COD. Kemudian ada yang menawarkan untuk jastip. Setelah itu ada yang bertanya apakah boleh OTR. Akhirnya berkembang dari COD, jastip, sampai OTR,” jelasnya.
Saat ini, Afidaah memilih fokus menjalankan OTR sendiri. Ia belum kembali membuka layanan jastip maupun OTR yang dikelola pihak lain.
Menurutnya, sistem OTR cukup efektif karena dapat menjangkau pelanggan sekaligus memberikan hasil penjualan dalam waktu relatif singkat.
Dalam kondisi tertentu, omzet penjualan Afidaah Pentol bahkan bisa mencapai sekitar Rp4 juta dalam sehari, dengan keuntungan sekitar separuh dari omzet.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Afidaah menggunakan sekitar 15 kilogram tepung setiap hari, menyesuaikan jumlah pesanan.
Saus Cabai dan Daun Jeruk Jadi Ciri Khas
Persaingan bisnis pentol membuat Afidaah harus memiliki pembeda. Ia memilih mengandalkan racikan saus sebagai salah satu ciri khas produknya.
Pentol yang dibuat menggunakan bahan gandum dan tepung kanji seperti produk sejenis. Namun, sausnya diracik menggunakan cabai dan rempah-rempah dengan tambahan daun jeruk.
“Yang menjadi ciri khas pentol kita sebenarnya terletak di sausnya. Sausnya full cabai, rempah-rempah dan daun jeruk. Tidak ada tambahan kacang dan merica. Ciri khasnya ada di daun jeruknya,” ujarnya.
Kini TikTok menjadi salah satu media utama untuk mempromosikan Afidaah Pentol. Selain memperkenalkan produk, media sosial digunakan untuk menginformasikan lokasi OTR sehingga pelanggan dapat mengetahui tempat Afidaah berjualan.
Kembangkan Pentol Frozen, Kirim ke Berbagai Daerah
Perjalanan usaha Afidaah tidak berhenti pada penjualan pentol matang. Ia juga mengembangkan produk frozen food untuk menjangkau pelanggan yang berada jauh dari Sragen.
Ide tersebut muncul setelah sejumlah pelanggan dari luar daerah meminta agar pentol Afidaah dapat dikirim.
Afidaah kemudian melakukan berbagai percobaan pengemasan dan pengiriman. Setelah melalui beberapa kali uji coba, ia menggunakan plastik vakum untuk pentol dan plastik aluminium foil untuk saus.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pesanan frozen food kini datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, Kalimantan hingga Papua.
Bahkan, produk Afidaah Pentol pernah dibawa hingga Jepang oleh pelanggan.
“Frozen food ini berawal dari permintaan pelanggan. Kami trial berkali-kali sampai menemukan cara agar aman sampai tujuan. Alhamdulillah sekarang sudah bisa. Ada yang pesan dari luar Sragen, Pulau Jawa, Kalimantan, Papua, bahkan ada yang sampai Jepang, tetapi mereka sendiri yang mengirim,” ungkapnya.
Untuk produk frozen, Afidaah menyediakan paket hemat isi 25 dengan harga sekitar Rp29.500 dan paket puas isi 35 seharga Rp39.900.
Berat masing-masing paket sekitar 600 gram dan 800 gram. Pesanan frozen food dilayani melalui TikTok Shop dan Shopee.
Saat permintaan tinggi, pengiriman frozen food pernah mencapai sekitar 70 porsi dalam sehari. Namun, produksi kini disesuaikan karena Afidaah juga fokus mengembangkan penjualan OTR.
Tak Berencana Buka Kios, Pilih Terus Berkeliling
Dalam menjalankan bisnisnya, Afidaah masih melibatkan anggota keluarga. Produksi hingga berbagai aktivitas usaha dilakukan bersama keluarga di rumah.
Untuk saat ini, ia belum memiliki rencana membuka kios permanen. Fokusnya masih mengembangkan konsep OTR dengan berpindah-pindah lokasi.
Menurut Afidaah, model tersebut membuat pelanggan mendapatkan pengalaman berbeda sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Untuk target sekarang masih mengembangkan OTR. Pelanggan tentunya tidak akan bosan karena kami berpindah-pindah, mengikuti daerah satu kemudian daerah lainnya,” tuturnya.
Perjalanan Afidaah membangun usaha kuliner tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Namun, ia memilih untuk terus bertahan dan menjadikan usaha sebagai salah satu cara membantu orang tua.
Baginya, modal utama dalam menjalankan bisnis bukan hanya soal uang, tetapi juga niat, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar dari kegagalan.
“Yang penting niat dan tujuannya berbakti kepada orang tua, membantu. Apa yang kita usahakan harus konsisten dan tetap semangat. Kalau ada kegagalan jangan menyerah, tetap dijalani sampai di titik yang kita impikan,” pungkasnya.
Kisah Afidaah Pentol menunjukkan bahwa usaha dapat tumbuh dari sesuatu yang sederhana. Dari satu baskom pentol yang dibawa ke sekolah, bisnis tersebut berkembang menjadi usaha dengan beragam pola penjualan dan pelanggan dari berbagai wilayah. (*)
