Melon Premium Pekalongan Disiapkan Tembus Pasar, 8 Kelompok Tani Didorong Produksi Bersama

SOROTJATENG.ID, PEKALONGAN – Delapan kelompok tani di Kota Pekalongan mulai disiapkan untuk mengembangkan melon premium sekaligus memperluas akses pasar.
Tak hanya mengejar hasil panen, para petani juga didorong membangun rantai usaha dari budidaya hingga pengolahan produk.
Pengembangan tersebut difasilitasi melalui program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia yang menyasar kelompok tani di tujuh kelurahan, yakni Degayu, Kandang Panjang, Krapyak, Padukuhan Kraton, Panjang Baru, Panjang Wetan, dan Pasirkraton Kramat.
Melalui program ini, kelompok tani tidak hanya mendapatkan dukungan untuk budidaya melon, tetapi juga diarahkan mengembangkan produk turunan dan membangun kemampuan memenuhi permintaan pasar secara kolektif.
Delapan Kelompok Tani Disiapkan Layani Permintaan Offtaker
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Eva S Nisa, mengatakan salah satu fokus program adalah memperkuat keterhubungan kelompok tani dengan pasar.
Delapan kelompok tani tersebut telah memiliki wadah perkumpulan yang dapat digunakan untuk memperkuat koordinasi, terutama ketika terdapat permintaan melon dalam jumlah besar dari pembeli atau offtaker.
“Ketika ada permintaan dari offtaker, harapannya delapan kelompok ini bisa saling terintegrasi. Jadi tidak hanya satu kelompok yang memenuhi permintaan, tetapi bisa bersama-sama,” ujar Eva, dikutip dari jatengprov.go.id, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, pola tersebut penting agar produksi tidak bergantung pada satu kelompok saja. Dengan bekerja bersama, kapasitas produksi dari delapan kelompok dapat dihimpun untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Melon Premium Dipilih karena Nilai Jual Lebih Tinggi
Pemilihan melon premium menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Salah satu kelompok yang mengikuti program adalah Kelompok Tani Urban Farming Perubahan Iklim (UFPI) Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara.
Perwakilan UFPI Krapyak, Farukha, mengatakan kelompoknya berencana membudidayakan melon varietas Kirana yang dikenal memiliki rasa manis dan tekstur renyah.
Budidaya dilakukan dengan pengembangan greenhouse yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan petani sekaligus membuka peluang diversifikasi usaha.
“Melalui pengembangan greenhouse, budidaya melon premium ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan keterampilan kelompok tani, membuka peluang diversifikasi usaha, sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat melalui produk pertanian bernilai tambah,” kata Farukha, kemarin.
Hasil Panen Tak Hanya Dijual sebagai Buah Segar
Peluang ekonomi melon premium juga dikembangkan melalui diversifikasi produk. Eva mengatakan, kelompok tani akan difasilitasi agar hasil budidaya dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Beberapa produk yang dikembangkan antara lain asinan kulit melon, selai melon, dan buah potong.
“Kelompok juga kami fasilitasi untuk melakukan diversifikasi produk, misalnya asinan kulit melon, selai melon, maupun buah potong,” jelas Eva.
Dengan pengembangan produk olahan, kelompok tani memiliki alternatif pemasaran ketika hasil panen tidak hanya dipasarkan sebagai buah segar.
Budidaya Menggunakan Hidroponik DFT
Dari sisi produksi, melon premium dikembangkan menggunakan sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT).
Eva menjelaskan, sistem tersebut memiliki keunggulan karena air tetap dapat mengalir ketika listrik mati. Kondisi itu berbeda dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) yang membutuhkan listrik secara terus-menerus.
“Untuk sistemnya menggunakan hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Sistem ini memiliki keunggulan, ketika listrik mati air masih bisa tetap mengalir, berbeda dengan NFT yang membutuhkan listrik secara terus-menerus,” terangnya.
Teknologi tersebut diharapkan mendukung budidaya melon di lahan perkotaan sekaligus meningkatkan kemampuan kelompok tani dalam menerapkan metode pertanian yang lebih adaptif.
Pemkot Dorong Melon Premium Jadi Penggerak Ekonomi
Kepala Dinperpa Kota Pekalongan Lili Sulistyawati mengatakan pengembangan melon premium sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertanian perkotaan yang inovatif dan produktif.
Menurutnya, program tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas karena kelompok tani tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga belajar mengembangkan produk dan membuka akses pemasaran.
“Kami sangat mendukung pengembangan melon premium ini, karena tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga mendorong kelompok tani untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan produk olahan, dan memperluas peluang pemasaran,” ungkap Lili.
Dengan penguatan produksi, diversifikasi olahan, dan pemasaran bersama, pengembangan melon premium diharapkan dapat menjadi salah satu peluang usaha baru bagi kelompok tani di Kota Pekalongan. (*)
