Ujungan Banjarnegara, Tradisi Adu Rotan untuk Memohon Hujan yang Masih Lestari

SOROTJATENG.ID, BANJARNEGARA – Suara gamelan mengalun dari Lapangan Krida Manunggal, Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Di tengah lapangan, dua petarung berdiri berhadapan.
Sesaat kemudian, keduanya mulai meliukkan tubuh mengikuti irama. Gerakannya seperti tarian, tetapi suasana berubah tegang ketika sebilah rotan di tangan masing-masing mulai diayunkan.
Sabetan diarahkan ke kaki lawan.
Sorak-sorai penonton pun pecah mengiringi setiap gerakan. Namun, di balik atraksi yang sekilas terlihat keras itu, tersimpan sebuah tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Tradisi tersebut bernama Ujungan.
Ujungan merupakan kesenian tradisional masyarakat Desa Gumelem Wetan yang juga menjadi bagian dari ritual budaya sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan ketika musim kemarau panjang melanda.
Tradisi itu kembali digelar pada Jumat (25/9/2026) lalu, mempertemukan para pendekar Ujungan dari sejumlah wilayah.
Mereka datang dari Gumelem Wetan, Gumelem Kulon, desa-desa sekitar, hingga beberapa wilayah di Purbalingga dan Banyumas.
Sabetan Rotan, tetapi Tak Boleh Ada Dendam
Bagi masyarakat setempat, Ujungan bukan sekadar pertunjukan adu ketangkasan. Ada aturan dan nilai yang harus dijunjung oleh setiap peserta.
Tokoh adat setempat, Budi Sulistyo, mengatakan setiap petarung harus mengedepankan sportivitas. Pertarungan berlangsung di bawah pengawasan landhang atau wasit yang memastikan aturan dipatuhi.
“Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam, selesai bertarung mereka berdamai, bersalaman dan berpelukan,” ujar Budi, dikutip dari jatengprov.go.id, Selasa (29/9/2026).
Itulah salah satu keunikan Ujungan. Pertarungan boleh berlangsung keras, tetapi hubungan antarpeserta tidak boleh dibawa menjadi permusuhan.
Setelah saling berhadapan dan menunjukkan ketangkasan, para petarung kembali bersalaman. Bahkan, mereka berpelukan sebagai tanda bahwa pertarungan yang berlangsung hanyalah bagian dari ritual dan kesenian.
Aturan Diperketat demi Keselamatan
Meski identik dengan sabetan rotan, pelaksanaan Ujungan saat ini tidak berlangsung tanpa batas.
Budi menjelaskan, sejak 1980 aturan permainan diperketat untuk mengurangi risiko cedera. Sabetan rotan dibatasi hanya pada bagian paha hingga ke bawah.
Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi sebagai bentuk antisipasi apabila ada peserta yang mengalami cedera.
Menurut Budi, secara historis tradisi tersebut dikenal relatif aman.
Ia menyebut tidak terdapat catatan mengenai cedera parah maupun korban jiwa dalam pelaksanaan Ujungan yang mereka lakukan.
Aturan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga agar tradisi tetap dapat dilaksanakan tanpa menghilangkan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Warisan Leluhur yang Ingin Terus Hidup
Bagi Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Ujungan bukan sekadar kesenian yang dipertontonkan ketika kemarau.
Tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat yang perlu dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, menyebut Ujungan sebagai aset budaya leluhur yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
“Tentunya kami harapkan ini diuri-uri terus agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang,” kata Hendro.
Upaya pelestarian tersebut dilakukan tidak hanya melalui penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga dengan mendorong pengakuan terhadap Ujungan sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara telah mendaftarkan Ujungan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi Ujungan untuk dikenal masyarakat di luar Banjarnegara.
Ujungan hingga Batik Gumelem Dibidik Jadi WBTB
Kepala Disparbud Banjarnegara, Tursiman, mengatakan Ujungan bukan satu-satunya potensi budaya lokal yang tengah diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan.
Ada tiga warisan budaya lain yang juga diusulkan, yakni Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu.
“Kita sudah mengusulkan Ujungan, Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu untuk ditetapkan jadi WBTB. Harapannya dari potensi lokal ini akan ada multiplier effect menjadi daya tarik wisata dan menggerakan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Tursiman.
Bagi pemerintah daerah, pelestarian budaya memiliki peluang untuk berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
Jika dikelola secara berkelanjutan, tradisi seperti Ujungan bukan hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk wisatawan untuk mengenal sejarah, kesenian, dan kehidupan masyarakat Banjarnegara.
Ketika Rotan Menjadi Bahasa Tradisi
Menjelang akhir pertunjukan, suara gamelan masih terdengar. Dua petarung kembali bergerak mengikuti irama sebelum akhirnya saling berhadapan.
Rotan kembali terayun.
Namun, di balik setiap sabetan, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar adu keberanian.
Ada harapan masyarakat terhadap datangnya hujan. Ada penghormatan terhadap leluhur. Ada aturan yang mengajarkan sportivitas. Dan ada pesan bahwa pertarungan tidak selalu berujung permusuhan.
Di Gumelem Wetan, Ujungan terus dirawat sebagai warisan yang mempertemukan tradisi, spiritualitas, kesenian, dan kebersamaan.
Ketika musim kemarau datang dan hujan dinanti, masyarakat kembali menghidupkan warisan tersebut.
Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk memastikan sebuah tradisi tetap memiliki tempat di masa depan. (*)
