Sumur Mengering, Warga Setrokalangan Kudus Kini Andalkan Toren Bantuan untuk Kebutuhan Sehari-hari

SOROTJATENG.ID, KUDUS – Dua pekan terakhir menjadi masa yang tidak mudah bagi Aziz dan warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Sumur yang selama ini menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari mulai mengering akibat kemarau panjang.
Pompa air atau sanyo yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pun tak lagi bisa diandalkan.
Air hanya bisa keluar pada waktu tertentu, sementara pagi dan sore hari warga harus mencari sumber air lain.
“Kekurangan sudah ada dua mingguan. Sehari-hari kalau ada sanyo malam, kalau pagi dan sore mati. Jadi sumur-sumur pada kering semua,” ujar Aziz, warga RT 04/RW 01 Desa Setrokalangan, Rabu (23/9/2026).
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur penggunaan air sehemat mungkin.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aziz dan keluarganya kini mengandalkan air dari toren atau penampungan yang berada di sekitar permukiman.
Setiap hari, keluarganya mengambil sekitar 12 ember air dari toren. Pengambilan dilakukan dua kali, yakni pada pagi dan sore hari.
Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari mandi hingga memasak.
“Kebutuhan sehari-hari nunggu bantuan. Alhamdulillah ada bantuan untuk mandi, untuk masak alhamdulillah bisa lancar. Setiap hari sekitar 12 ember, pagi dan sore ambil di toren,” katanya.
Bagi warga Setrokalangan, keberadaan toren menjadi sangat penting ketika sumber air dari sumur mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan.
Kepala Desa Setrokalangan, Didik Handono, mengatakan dampak kekeringan di wilayahnya semakin meluas seiring belum turunnya hujan.
Menurutnya, sumber air warga yang mengandalkan sumur dalam mulai mengering.
Akibatnya, sebagian masyarakat harus bergantung pada pasokan air dari pemerintah desa maupun bantuan pihak luar.
“Kondisi kekeringan di desa ini memang belum ada hujan atau kemarau yang panjang. Intinya yang terdampak ini bertambah dari hari ke hari. Itu dikarenakan sumber air warga dari sumur dalam memang sudah tidak ada,” ungkap Didik.
Kekeringan di Desa Setrokalangan mulai dirasakan warga sejak awal Agustus.
Hingga kini, sedikitnya terdapat sekitar 16 titik toren atau penampungan air yang tersebar di desa tersebut.
Kapasitas toren bervariasi, mulai dari sekitar 2.000 hingga 5.200 liter. Sebagian besar memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter.
Kondisi tersebut membuat bantuan air bersih menjadi salah satu tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Terbaru, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya menyalurkan 20 ribu liter air bersih ke Desa Setrokalangan, Selasa (22/9) sore.
Air didistribusikan dengan mengisi toren-toren yang telah tersedia di sejumlah titik desa.
Warga kemudian bisa mengambil air dari penampungan terdekat sesuai kebutuhan.
Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Mifthakhudin, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari bakti sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak krisis air bersih.
Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah di Demak, Grobogan, dan Pati.
“Alhamdulillah untuk hari ini kami dari IJTI Korda Muria Raya kembali melaksanakan kegiatan bakti sosial membagikan air bersih. Sebelumnya kita membagikan di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini kita di Kabupaten Kudus dengan total membawa 20 ribu liter air,” ujar Iwhan.
Bantuan tersebut turut melibatkan PT Pura dan PT Djarum serta menjadi bagian dari momentum memperingati Hari Jadi Kudus ke-477.
Di tengah sumur yang semakin mengering, bagi warga seperti Aziz, setiap pasokan air menjadi sangat berarti.
Untuk sementara, warga hanya bisa berharap hujan segera turun agar sumber air kembali terisi dan aktivitas sehari-hari dapat berjalan normal.
“Kami berharap kemarau ini segera berakhir, sehingga tidak terus bergantung pada bantuan air,” menjadi harapan warga yang kini harus berhemat dengan setiap ember air yang mereka dapatkan. (*)
