Pemprov Jateng Perkuat Pelacakan TBC, 421 Desa dan Kelurahan Berstatus Siaga

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di Jawa Tengah mencapai 68.617 kasus hingga 9 Oktober 2026.
Jumlah tersebut setara dengan 65,08 persen dari target penemuan kasus yang menjadi acuan program penanggulangan TBC di provinsi ini.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya menemukan kasus TBC melalui skrining aktif, memperluas akses pemeriksaan, serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan.
Pemerintah juga mendorong keterlibatan masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan untuk membantu mendeteksi risiko penularan lebih dini.
Meski penemuan kasus telah mencapai puluhan ribu, data tersebut belum menggambarkan jumlah kasus TBC di setiap kabupaten/kota.
Rincian distribusi kasus berdasarkan wilayah belum disampaikan dalam data yang dipaparkan pada Deklarasi Desa Siaga TB di Pendopo Kabupaten Jepara, Selasa (13/10/2026).
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, percepatan penanggulangan TBC membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat.
“Penanggulangan TB tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dan dukungan seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota,” kata Sumarno.
Sebanyak 91,76 Persen Pasien Sudah Memulai Pengobatan
Selain penemuan kasus, data penanggulangan TBC di Jawa Tengah menunjukkan persentase pasien yang telah memulai pengobatan mencapai 91,76 persen.
Adapun keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat tercatat sebesar 84,07 persen, sedangkan keberhasilan pengobatan TBC resisten obat mencapai 79,54 persen.
Di sisi pencegahan, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru mencapai 23,31 persen dari target 326.038 kasus.
Capaian ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat untuk melindungi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC dan memenuhi indikasi medis untuk mendapatkan terapi pencegahan.
Sumarno menekankan bahwa upaya penanggulangan TBC tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang telah terdiagnosis.
Penemuan kasus secara dini, pemeriksaan diagnostik, pencegahan, dan tindak lanjut pengobatan perlu dilaksanakan secara terintegrasi.
Pemprov Jateng pun mendorong integrasi program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus aktif TBC dengan layanan kesehatan primer. Langkah tersebut diharapkan memperkuat skrining, rujukan, pencatatan, serta pemantauan pasien.
Jepara Perkuat Skrining Kontak Erat Pasien TBC
Upaya menemukan kasus dan mencegah penularan juga dilakukan melalui skrining terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Oktavianus mengapresiasi pelaksanaan skrining kontak erat di Kabupaten Jepara. Dari target 161 titik skrining, kegiatan tersebut telah terlaksana di 107 titik.
“Artinya, program ini sudah berjalan sangat baik. Jadi, tiap tahun kita evaluasi agar makin baik,” kata Benyamin.
Ia menegaskan, tantangan penanggulangan TBC tidak hanya memastikan pasien menjalani pengobatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dan melakukan pencegahan.
Menurutnya, kontak erat pasien yang memenuhi indikasi medis perlu mendapatkan obat pencegahan sesuai ketentuan pelayanan kesehatan.
Skrining kontak erat diharapkan membantu menemukan orang yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini.
421 Desa dan Kelurahan di Jateng Berstatus Siaga TB
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperluas keterlibatan masyarakat melalui pembentukan Desa/Kelurahan Siaga TB.
Hingga 9 Oktober 2026, sebanyak 421 dari total 8.563 desa dan kelurahan di Jawa Tengah telah berstatus Siaga TB.
Pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, organisasi masyarakat, dan warga diharapkan berperan aktif dalam edukasi, penemuan kasus, pendampingan pasien, serta pencegahan penularan TBC.
Di sisi lain, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Tengah telah melayani 18,8 juta orang hingga 12 Oktober 2026.
Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) juga telah dilaksanakan sebanyak 1.857 kali pelayanan dengan sasaran sekitar 131.500 orang.
Sumarno meminta dukungan Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, memperluas akses pemeriksaan diagnostik, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dan sistem informasi dalam penanggulangan TBC.
Ia juga mendorong pemerintah kabupaten/kota memperkuat perencanaan, penganggaran, dan koordinasi lintas perangkat daerah agar upaya pengendalian TBC dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Dengan memperkuat penemuan kasus, pengobatan, dan pencegahan hingga tingkat desa, Pemprov Jateng berharap penularan TBC dapat ditekan dan target eliminasi TBC dapat dicapai secara bertahap. (*)
