Pemkot Semarang Perkuat Antisipasi Banjir Jelang Musim Hujan, 119 Pompa Disiapkan

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang memperkuat berbagai langkah antisipasi banjir menjelang musim hujan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemeliharaan sungai dan saluran air, penyiapan peralatan operasional, serta koordinasi lintas instansi untuk memastikan aliran air tetap lancar saat curah hujan meningkat.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi musim hujan perlu dilakukan sejak dini melalui perawatan infrastruktur pengendali air dan dukungan peralatan yang memadai.
Dari 38 lokasi yang menjadi sasaran pemeliharaan sungai dan saluran, pekerjaan telah dilakukan di 33 lokasi, sedangkan lima lokasi lainnya masih dalam proses pengerjaan.
“Pemeliharaan sungai dan saluran ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mengantisipasi musim hujan. Pengerukan dilakukan agar aliran air lebih lancar sekaligus membantu mengurangi risiko banjir dan genangan di berbagai wilayah Kota Semarang,” ujar Agustina, Selasa (13/10/2026).
Pemeliharaan tersebut mencakup kawasan Semarang bagian timur, utara, barat, tengah, dan selatan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Semarang untuk menjaga fungsi sungai dan saluran air agar dapat mengalirkan air hujan secara lebih optimal.
Pemkot Semarang Siapkan 119 Pompa dan Alat Berat
Selain merawat infrastruktur air, Pemkot Semarang memperkuat kesiapan peralatan untuk mendukung penanganan banjir dan genangan.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU), pemerintah kota memiliki 119 unit pompa dengan kapasitas gabungan mencapai 92.190 liter per detik atau sekitar 92,19 meter kubik per detik.
DPU juga menyiapkan 101 unit pompa portabel yang dapat mendukung penanganan genangan di lokasi yang membutuhkan.
Untuk menunjang pekerjaan pemeliharaan dan operasional di lapangan, tersedia 66 unit dump truck serta 57 unit alat berat.
Kepala DPU Kota Semarang Suwarto mengatakan, pemeliharaan dilakukan di sejumlah sungai dan saluran yang tersebar di berbagai wilayah kota.
Beberapa lokasi yang telah dikerjakan antara lain Saluran Jalan Gajah sepanjang 600 meter, Kali Bunggel di Pedurungan Tengah sepanjang 1,5 kilometer, Sungai Karanganyar sepanjang 1,4 kilometer, serta Sungai Jumbleng di Jerakah sepanjang 1,2 kilometer.
Pekerjaan juga mencakup Saluran Padi Raya, Sungai Tapak Tugurejo, Sungai Silandak ruas Purwoyoso, serta sejumlah saluran di kawasan Tembalang dan Semarang Tengah.
Sementara itu, lima lokasi yang masih dalam proses pemeliharaan meliputi Kali Sodor, Kali Sier, Kali Semarang ruas Kuningan, Kali Semarang ruas Lodan Raya, dan Saluran Buludrain.
Koordinasi dengan BBWS Tangani Sedimentasi Banjir Kanal Barat
Upaya antisipasi banjir juga dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk menangani sedimentasi di Banjir Kanal Barat.
Suwarto menjelaskan, pengerukan oleh BBWS telah dimulai dari bagian hilir, termasuk kawasan depan The Park. Penanganan tersebut dilakukan sesuai kewenangan BBWS dan saat ini masih berproses.
“Saat ini BBWS sudah mulai mengeruk dari bagian hilir terlebih dahulu, termasuk di depan The Park. Penanganannya masih berproses karena menjadi kewenangan BBWS,” jelas Suwarto.
Koordinasi antarlembaga tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan sungai secara terpadu.
Pemkot Semarang menjalankan pemeliharaan pada lokasi yang ditangani pemerintah kota, sementara pengerukan di Banjir Kanal Barat dilakukan BBWS sesuai kewenangannya.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya memastikan pemeliharaan saluran dan penanganan sedimentasi berjalan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.
Agustina Ajak Masyarakat Ikut Cegah Banjir
Agustina menegaskan, upaya pemerintah dalam mengurangi risiko banjir perlu didukung kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Warga diminta tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran air karena sampah yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan memperburuk genangan ketika hujan turun.
Menurutnya, kesiapan infrastruktur dan peralatan perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan masyarakat menjaga lingkungan.
Dengan demikian, upaya mengurangi risiko banjir tidak hanya bergantung pada penanganan teknis pemerintah, tetapi juga pada partisipasi warga.
“Langkah pemeliharaan sungai, kesiapan peralatan, dan kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan ini perlu berjalan beriringan agar risiko banjir selama musim hujan dapat kita tekan secara optimal,” pungkas Agustina.
Pemkot Semarang terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan melalui pemeliharaan sungai dan saluran, penyediaan peralatan penanganan banjir, serta koordinasi dengan instansi terkait.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi risiko banjir dan genangan di berbagai wilayah Kota Semarang. (*)
