Kurangi Sampah ke TPA, Kota Pekalongan Mulai Tanamkan Kebiasaan Pilah Sampah dari Pesantren

Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab saat sosialisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat Secara Mandiri di Aula Ponpes MTs Al Maliki Cendekia, beberapa waktu lalu. Kota Pekalongan mulai mendorong pemilahan sampah dari lingkungan pesantren untuk mengurangi sampah yang masuk TPA. (Dok Dinkominfo Kota Pekalongan)

SOROTJATENG.ID, PEKALONGAN – Upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mulai diarahkan dari sumbernya.

Di Kota Pekalongan, lingkungan pesantren menjadi salah satu tempat yang dipilih untuk menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Ponpes MTs Al Maliki Cendekia menjadi lokasi sosialisasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Para santri tidak hanya mendapatkan edukasi, tetapi mulai menerapkan pemilahan sampah di lingkungan asrama.

Sampah dipisahkan menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik dan residu.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengubah cara santri memperlakukan sampah, dari sekadar membuang menjadi mengenali dan memilah sebelum sampah masuk ke tempat pembuangan.

Sampah Dipilah Sebelum Berakhir di TPA

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan Joko Purnomo mengatakan pemilahan dari sumber menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah.

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kepedulian ketika melihat sampah di lingkungan sekitar.

“Ketika melihat sampah, peduli, ambil, kemudian lihat tempat sampah dan buang pada tempatnya,” kata Joko, dikutip dari jatengprov.go.id, Selasa (22/9/2026).

Ia menjelaskan sampah yang dihasilkan masyarakat memiliki karakter berbeda. Selain organik dan anorganik, terdapat pula residu serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Pemilahan sejak awal akan membuat pengelolaan sampah berikutnya lebih mudah dan diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA.

Pesantren Jadi Tempat Membentuk Kebiasaan

Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab mengatakan perubahan perilaku tidak dapat dibangun hanya melalui sosialisasi satu kali.

Karena itu, edukasi di pesantren diarahkan agar pemilahan sampah menjadi bagian dari kebiasaan santri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Harapannya, anak-anak santriwan dan santriwati setelah dibekali bisa melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah, sehingga tidak hanya menjadi tindakan tetapi menjadi bagian dari budaya dan perilaku di pondok pesantren,” ujar Balgis.

Menurutnya, pembiasaan dapat dimulai dari tempat yang paling dekat dengan santri, seperti kamar asrama dan tempat makan.

Para santri juga diajak membuang sampah sesuai jenis dan tempat yang telah disediakan serta menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.

Siswa Mulai Membuat Tempat Sampah

Kepala MTs Al Maliki Cendekia, Ustadzah Lulu’ Arifatul Chofiah, mengatakan pemilahan sampah telah mulai diterapkan khususnya di lingkungan asrama.

Sampah organik, anorganik dan residu dipisahkan untuk memudahkan pengelolaan.

Tidak berhenti pada pemilahan, para siswa juga mengembangkan tempat sampah sebagai bagian dari kegiatan yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan kreativitas.

Menurutnya, keterlibatan langsung siswa membuat edukasi mengenai sampah lebih mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Dari Pesantren ke Lingkungan Keluarga

Pembentukan kebiasaan memilah sampah di lingkungan pesantren diharapkan tidak berhenti di asrama.

Santri dapat membawa pengetahuan tersebut ketika berada di rumah dan menerapkannya bersama keluarga.

Dengan cara tersebut, edukasi pemilahan sampah memiliki potensi menjangkau lingkungan yang lebih luas.

Pengelolaan sampah pun tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi menjadi kebiasaan bersama yang dimulai dari sumber sampah.

Kota Pekalongan berharap pembiasaan tersebut dapat membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA sekaligus membangun generasi yang lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. (*)

Editor