Kisah Inspiratif Nuhwanto, Warga Banjarnegara yang Sukses Sulap Limbah Kayu Jadi Produk Bernilai Ekonomi

SOROTJATENG.ID, BANJARNEGARA – Tumpukan kayu, suara mesin, dan aktivitas pengerjaan mebel menjadi pemandangan sehari-hari di tempat usaha Nuhwanto, warga Desa Kaliurip, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
Dari tempat sederhana tersebut, berbagai produk kerajinan kayu dibuat. Mulai dari meja makan, kusen, pintu, talenan, tatakan masak, kandang merpati, hingga kandang anak domba Batur.
Menariknya, sebagian produk yang dihasilkan Nuhwanto memanfaatkan limbah kayu yang masih memiliki nilai guna.
Usaha yang kini terus berkembang itu tidak dibangun dalam waktu singkat.
Nuhwanto mendapat bekal dari pelatihan ekonomi produktif yang diselenggarakan Baznas Kabupaten Banjarnegara, sekaligus bantuan peralatan untuk menunjang usaha.
Dari modal tersebut, ia perlahan mengembangkan produksi dan memperluas pemasaran.
Dari Banjarnegara, Produk Kayu Menjelajah Berbagai Kota
Nuhwanto mengatakan permintaan terhadap produknya terus berkembang. Jika sebelumnya pemasaran masih terbatas di sekitar Banjarnegara, kini barang buatannya mulai dikirim ke berbagai daerah.
“Alhamdulillah produk kami diminati pasar. Pemasaran semakin luas, tak lagi terbatas di Banjarnegara, tetapi menjangkau berbagai daerah seperti Sragen, Boyolali, Jakarta, Bekasi, hingga Tangerang,” ujarnya, dikutip dari jatengprov.go.id, Selasa (22/9/2026).
Perluasan pasar tersebut membuat kebutuhan produksi ikut meningkat.
Peralatan yang diperoleh melalui program Baznas pun tidak berhenti digunakan sebagaimana awalnya. Ketika pesanan bertambah, Nuhwanto kembali mengembangkan peralatan sesuai kebutuhan produksi.
Baginya, bantuan yang diterima bukan sekadar peralatan kerja. Bantuan tersebut menjadi modal awal untuk mengembangkan kemampuan yang kemudian menghasilkan pendapatan.
Limbah Kayu Disulap Jadi Produk Bernilai
Salah satu hal yang menarik dari usaha Nuhwanto adalah pemanfaatan limbah kayu.
Potongan kayu yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat kembali digunakan untuk menghasilkan berbagai produk kerajinan.
Meja, talenan, tatakan masak hingga berbagai kebutuhan lainnya dibuat sesuai permintaan dan kemampuan produksi.
Kreativitas dalam memanfaatkan bahan menjadi salah satu cara Nuhwanto menjaga usaha tetap berkembang sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kini Berbagi Ilmu kepada Peserta Pelatihan
Perjalanan usaha Nuhwanto ternyata tidak berhenti pada keberhasilannya memperluas pasar.
Ia kini dipercaya Baznas Kabupaten Banjarnegara menjadi instruktur pelatihan ekonomi produktif.
Pengalaman yang diperolehnya selama mengembangkan usaha dibagikan kepada peserta pelatihan. Mulai dari bagaimana memulai usaha, mengelola peralatan hingga menghadapi permintaan pasar.
“Semoga mereka juga bisa sukses dan mandiri,” katanya.
Posisi tersebut menjadi semacam perjalanan yang berputar. Jika sebelumnya Nuhwanto mendapatkan pengetahuan dan dukungan untuk mengembangkan usaha, kini ia ikut membagikan pengalaman kepada orang lain yang sedang memulai langkah serupa.
Baznas Ingin Mustahik Naik Kelas
Wakil Ketua Baznas Banjarnegara Bidang Pengumpulan, Nurul Aini, mengatakan perkembangan usaha Nuhwanto menjadi salah satu contoh bahwa program pemberdayaan ekonomi tidak berhenti pada pemberian pelatihan.
Menurutnya, keberhasilan penerima manfaat mengembangkan usaha hingga mampu membuka kesempatan kerja menjadi bagian penting dari tujuan program.
“Pak Nuhwanto bisa menjadi inspirasi. Beliau bisa membuka lapangan kerja, jadi selaras dengan misi Baznas yang semula mustahik menjadi muzaki,” ujar Nurul.
Konsep pemberdayaan tersebut diarahkan agar bantuan yang diberikan dapat menjadi modal untuk membangun kemandirian ekonomi.
Baznas Banjarnegara Kembali Gelar Pelatihan
Pada 2026, Baznas Kabupaten Banjarnegara kembali menyelenggarakan Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif.
Pelatihan tahun ini mencakup empat bidang keahlian, yakni pembuatan dawet ayu, fried chicken, roti kering dan barista kopi.
Masing-masing bidang diikuti 15 peserta sehingga total terdapat 60 peserta yang mendapatkan pelatihan.
Selain pelatihan dan bantuan peralatan, Baznas juga memberikan bantuan ternak kepada masyarakat penerima manfaat.
Sebanyak 20 mustahik mendapatkan bantuan ternak kambing. Masing-masing penerima memperoleh sepasang kambing yang terdiri dari satu jantan dan satu betina.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penerima manfaat memiliki sumber penghasilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Ketika Bantuan Berubah Menjadi Kemandirian
Kisah Nuhwanto menunjukkan bahwa bantuan ekonomi dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar ketika dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Dari peralatan yang diperoleh melalui program pemberdayaan, ia membangun usaha mebel, memperluas pasar hingga luar Jawa Tengah, memanfaatkan limbah kayu dan bahkan dipercaya untuk berbagi pengalaman kepada peserta pelatihan lainnya.
Kini, suara mesin dan aktivitas produksi di tempat usahanya bukan hanya menjadi tanda sebuah usaha sedang berjalan.
Di baliknya ada cerita tentang bagaimana sebuah kesempatan dimanfaatkan menjadi usaha, kemudian berkembang menjadi sumber penghasilan dan membuka peluang bagi orang lain.
Perjalanan Nuhwanto juga memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak hanya dapat dilihat dari bantuan yang diberikan, tetapi dari apa yang dilakukan penerima setelah bantuan tersebut berada di tangannya. (*)
