Kios Pasar Sepi di Solo Bakal Jadi Ruang Uji Coba UMKM, Ini Syaratnya

Pasar Klewer Solo. Pemkot Solo menyiapkan kios pasar yang sepi untuk dimanfaatkan UMKM selama enam bulan sebagai ruang uji pasar. Pelaku usaha juga didorong memperkuat kualitas dan pemasaran digital. (Dok Wikipedia)

SOROTJATENG.ID, SOLO – Pemerintah Kota Surakarta menyiapkan skema baru untuk membantu pelaku UMKM Solo mendapatkan ruang usaha sekaligus menguji pasar.

Kios-kios pasar yang belum optimal dimanfaatkan direncanakan dapat digunakan pelaku UMKM selama enam bulan.

Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Surakarta Respati Ardi dalam kegiatan Waktunya Start Jualan Nyaman Special Collaboration Perayaan Beli Lokal yang mempertemukan pemerintah, Kementerian Perdagangan, platform perdagangan digital, kreator konten dan pelaku UMKM Solo Raya, beberapa waktu lalu.

Respati mengatakan pemanfaatan kios pasar dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk melihat respons konsumen secara langsung sebelum mengembangkan usahanya lebih jauh.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian dalam rencana tersebut adalah Pasar Jongke dan Pasar Klewer.

“Enam bulan pertama untuk melihat pasar. Kalau memang jalan, nanti bisa bayar. Kalau tidak jalan, ya sudah,” kata Respati, dikutip dari surakarta.go.id, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, penyediaan tempat usaha saja tidak cukup untuk membuat sebuah UMKM berkembang.

Pelaku usaha tetap perlu memiliki produk yang berkualitas serta kemampuan menarik konsumen.

Kios Bukan Jaminan Dagangan Laris

Respati mengingatkan pelaku usaha agar tidak menganggap keberadaan kios sebagai satu-satunya solusi untuk meningkatkan penjualan.

Menurutnya, kemampuan membuat konten, membangun merek, memperbaiki kemasan dan menentukan target konsumen menjadi faktor penting agar produk dapat bersaing.

Karena itu, fasilitas ruang usaha perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pelaku UMKM.

“Mulai beranilah berjualan mahal,” ujar Respati.

Ia menjelaskan, menjual produk dengan harga lebih tinggi bukan berarti sekadar menaikkan harga.

Kenaikan harga harus diikuti peningkatan kualitas sehingga konsumen memperoleh nilai yang sepadan.

Target Pasar UMKM Solo Jangan Hanya Warga Lokal

Respati juga meminta pelaku UMKM mengubah cara melihat pasar. Produk lokal Solo tidak harus hanya ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di Solo.

Menurutnya, teknologi digital memungkinkan UMKM menjangkau konsumen dari berbagai kota tanpa perlu membuka cabang di setiap daerah.

“Set target konsumen Anda bukan warga Solo, tapi set target konsumen Anda adalah warga Jakarta, warga Semarang, warga Bandung, warga Surabaya,” ujarnya.

Dengan target pasar yang lebih luas, pelaku UMKM dituntut semakin serius membangun identitas produk.

Kemasan, cerita, kualitas dan konten menjadi bagian dari strategi untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli.

Digitalisasi Jadi Pendukung UMKM

Perubahan perilaku konsumen juga menjadi perhatian dalam pengembangan UMKM.

Presiden Direktur Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo mengatakan konsumen kini dapat menemukan produk melalui video pendek, siaran langsung maupun konten kreatif.

Pola tersebut dikenal sebagai Discovery Commerce, ketika proses menemukan produk menjadi bagian dari pengalaman berbelanja.

Pelaku UMKM pun tidak hanya dituntut bisa mengunggah produk ke platform perdagangan digital. Kemampuan membuat konten dan memanfaatkan strategi seperti affiliate marketing juga semakin penting.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 200 pelaku usaha dari Solo dan sekitarnya mendapatkan pembekalan mengenai perdagangan digital.

Pemkot Solo Siapkan Ekosistem Ekonomi Kreatif

Pengembangan UMKM juga ditempatkan dalam ekosistem ekonomi kreatif Kota Solo. Pemkot Surakarta menyiapkan sejumlah kawasan yang memiliki karakter berbeda, di antaranya Kemlayan, Kauman dan Keprabon.

Potensi kawasan tersebut dapat dikembangkan berdasarkan karakter dan kekayaan lokal masing-masing. Kauman, misalnya, memiliki peluang untuk dikembangkan sejalan dengan potensi halal tourism.

Selain itu, Respati melihat sektor wellness sebagai peluang ekonomi baru bagi Solo.

Melalui konsep 2030 Wellness City, pengembangan kuliner, kesehatan, kebugaran, spa, perawatan hingga makanan sehat dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kota.

“Yang pertama, gastro-kuliner sudah pasti. Kedua, belanja batik. Tapi apa alasan untuk wisatawan lebih tinggal lama di Kota Solo? Yaitu spa and wellness, spa and treatment,” kata Respati.

Peluang tersebut dapat dimanfaatkan UMKM untuk menghadirkan produk maupun layanan yang berkaitan dengan gaya hidup sehat.

UMKM Diminta Berani Naik Kelas

Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam kegiatan tersebut turut menekankan pentingnya legalitas, kemasan dan pemasaran bagi produk UMKM.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bagian dari identitas dan legalitas usaha.

Sementara itu, Respati menilai Solo memiliki modal berupa talenta dan kreativitas masyarakat.

Modal tersebut perlu dipertemukan dengan akses pasar agar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Pada akhirnya, rencana pemanfaatan kios pasar sepi bukan hanya soal menyediakan tempat berjualan.

Program tersebut dapat menjadi ruang bagi UMKM untuk menguji produk, membaca respons konsumen dan mengembangkan strategi bisnis.

Jika dikombinasikan dengan kualitas produk, kemasan yang menarik dan pemasaran digital, pelaku UMKM Solo memiliki peluang untuk memperluas pasar hingga ke luar daerah. (*)

Editor