Hari Santri 2026, Ahmad Luthfi Ajak 555 Ribu Santri Jateng Jadi Penggerak Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi saat memimpin Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pancasila, Kota Tegal, Kamis (22/10/2026). Ahmad Luthfi mengajak 555 ribu santri berperan dalam pembangunan daerah melalui kewirausahaan, pengentasan kemiskinan, dan menjaga stabilitas masyarakat. (Dok)

SOROTJATENG.ID, TEGAL — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak 555 ribu santri di Jawa Tengah mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.

Para santri didorong tidak hanya menjadi penggerak di bidang keagamaan, tetapi juga ikut mengembangkan kewirausahaan dan membantu mengentaskan kemiskinan.

Ajakan tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat memimpin Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pancasila, Kota Tegal, Kamis (22/10/2026).

Menurut Luthfi, semangat Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 harus terus diteruskan dengan menyesuaikan tantangan zaman.

Jika dahulu para santri berjuang melawan penjajahan, kini perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan,” ujar Luthfi.

555 Ribu Santri Jadi Potensi Ekonomi Jateng

Luthfi menyebut kemiskinan di Jawa Tengah saat ini berada di angka 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menjalankan berbagai program untuk menekan angka tersebut.

Namun, menurut dia, persoalan kemiskinan tidak dapat diselesaikan pemerintah sendirian. Diperlukan kolaborasi berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas pesantren dan para santri.

Keberadaan 555 ribu santri yang tersebar di berbagai pondok pesantren di Jawa Tengah dinilai menjadi potensi besar untuk memperkuat pembangunan ekonomi daerah.

Karena itu, Luthfi mendorong lahirnya lebih banyak santri yang mandiri, produktif, serta memiliki jiwa kewirausahaan.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui program Pesantren Obah yang dinahkodai Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Program ini melibatkan Kementerian Agama serta berbagai pihak terkait.

Pesantren Obah mencakup sejumlah program, mulai dari beasiswa pendidikan, bantuan pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga pemberian insentif bagi guru madrasah diniyah.

“Provinsi Jawa Tengah telah memberikan beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak. Kita juga memberikan beasiswa kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan negara lainnya, sebanyak 58 santri,” kata Luthfi.

Insentif Guru Agama Capai Rp277 Miliar

Selain mendorong kemandirian santri, Pemprov Jawa Tengah juga memberikan perhatian terhadap para pengajar keagamaan.

Program insentif guru agama yang telah berjalan pada 2025 menjangkau 230.830 penerima dengan total anggaran sekitar Rp277 miliar.

Dalam rangkaian peringatan Hari Santri di Kota Tegal, Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen juga menyerahkan bantuan renovasi kepada empat pondok pesantren.

Masing-masing pesantren menerima bantuan sebesar Rp25 juta. Bantuan tersebut diberikan kepada Ponpes Al Munawarroh Margadana, Nurul Ma’arif, Insan Tebuireng, dan Mambaul Ulum.

Selain bantuan renovasi, Pemprov Jateng menyerahkan insentif kepada 1.390 pengajar keagamaan dengan total nilai Rp834 juta serta 300 paket sembako.

Jika digabungkan, nilai bantuan renovasi pondok pesantren dan insentif pengajar keagamaan mencapai Rp934 juta, belum termasuk nilai bantuan sembako.

Santri Diminta Jadi Penyejuk di Tengah Masyarakat

Dalam kesempatan tersebut, Luthfi juga meminta para santri turut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurutnya, stabilitas daerah menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan. Hal itu semakin diperlukan di tengah situasi geopolitik global yang dinilai penuh ketidakpastian.

“Potensi ini harus kita kelola dan kita gandeng untuk menjadi cooling system, atau penyejuk di tengah masyarakat,” ujarnya.

Luthfi berharap para santri Jawa Tengah tidak hanya memiliki kemampuan di bidang agama. Mereka juga didorong menguasai ilmu pengetahuan, keterampilan, serta memiliki kepedulian sosial.

Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan zaman sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Para santri harus mempunyai kebanggaan dalam dirinya untuk ikut membangun bangsa,” tandasnya. (*)

Editor