Lukisan Tua Diduga Karya Raden Saleh di Semarang, Ditemukan Gratis dari Tumpukan di Belakang Bengkel

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Siapa sangka, sebuah lukisan tua bertema perburuan singa tersimpan di sebuah pondok pesantren di Kota Semarang.
Lukisan yang kini dirawat di Pondok Pesantren Al Islah, Tembalang, itu diyakini sebagai karya pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman.
Namun, kisah bagaimana lukisan tersebut sampai ke tangan pengasuh Ponpes Al Islah, Kiai Budi Harjono, justru tak kalah menarik dibandingkan lukisannya.
Tidak ada transaksi bernilai fantastis ketika lukisan itu berpindah tangan. Karya tersebut justru diperoleh secara cuma-cuma pada 1990, ketika Budi membeli dua bus tua di Magelang.
Saat itu, Budi melihat tumpukan lukisan yang berada di belakang sebuah bengkel. Kondisinya memprihatinkan. Lukisan-lukisan tersebut dibiarkan menumpuk dan tidak terawat.
Budi kemudian mendapat kesempatan membawa salah satu lukisan itu setelah membeli dua bus tua milik sang pemilik.
“Waktu itu saya melihat onggokan lukisan yang tidak terawat di belakang bengkel. Pemiliknya memberikan lukisan itu secara gratis karena saya memborong dua bus tua,” ungkap Budi Harjono, dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Sejak saat itu, lukisan tersebut berpindah dari Magelang ke Semarang. Puluhan tahun kemudian, karya yang semula hanya tampak sebagai lukisan tua dari sebuah bengkel itu justru menarik perhatian karena diduga memiliki kaitan dengan nama besar Raden Saleh.
Dari Tumpukan di Belakang Bengkel hingga Ponpes Al Islah
Menurut penuturan Budi, lukisan tersebut sebelumnya dirawat secara turun-temurun oleh keluarga pemiliknya.
Pemilik yang menyerahkan lukisan itu kepadanya disebut merupakan generasi keenam yang merawat karya tersebut sebelum akhirnya berpindah tangan pada 1990.
Kini, lukisan itu menjadi bagian dari cerita panjang di Ponpes Al Islah.
Karya tersebut menampilkan adegan perburuan dengan empat orang sayyid. Di tengah suasana perburuan, seekor singa terlihat sedang bertarung dengan seekor banteng.
Adegan pertarungan satwa tersebut memberikan kesan dramatis yang kuat. Gerakan tubuh hewan, suasana perburuan, serta komposisi tokoh di dalam lukisan menjadi bagian yang membuat karya tersebut menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Di bagian bawah lukisan terdapat tulisan yang terbaca sebagai “R. Saleh 1880”.
Tulisan itulah yang kemudian menjadi salah satu petunjuk penting dalam dugaan atribusi lukisan tersebut kepada Raden Saleh.
Namun, tanda tangan dan angka tahun pada sebuah lukisan belum cukup untuk memastikan siapa pembuatnya. Dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam untuk menguji keaslian dan atribusi karya tersebut.
Berbeda dengan Lukisan The Lion Hunt di Museum Latvia
Menariknya, komposisi lukisan yang tersimpan di Ponpes Al Islah berbeda dengan karya The Lion Hunt atau Die Löwenjagd yang tercatat sebagai koleksi Museum Seni Nasional Latvia.
Dalam versi yang berada di museum tersebut, adegan perburuan menampilkan kehadiran tentara kolonial.
Sementara itu, lukisan yang berada di Ponpes Al Islah menampilkan empat orang sayyid dengan adegan seekor singa yang bertarung melawan banteng.
Perbedaan komposisi tersebut justru membuka ruang penelitian yang menarik. Apakah lukisan di Semarang merupakan karya berbeda dari Raden Saleh? Apakah terdapat versi atau variasi lain dari tema perburuan yang pernah dibuat sang maestro? Atau justru atribusi kepada Raden Saleh perlu ditinjau kembali?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban pasti.
Karena itu, diperlukan penelitian dan dokumentasi yang dapat mempertemukan bukti visual, material, teknik pengerjaan, serta sejarah kepemilikan lukisan.
Tulisan “R. Saleh 1880” juga menarik perhatian karena tahun tersebut merupakan tahun wafat Raden Saleh. Sang pelukis meninggal dunia pada 23 April 1880 di Bogor.
Kesamaan tahun tersebut tentu menarik secara historis, tetapi belum dapat menjadi bukti tunggal mengenai keaslian karya.
Pernah Diteliti, tetapi Bukti Autentikasi Masih Perlu Ditelusuri
Budi Harjono mengatakan, sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pecinta lukisan pernah melihat dan meneliti karya tersebut.
Menurut keterangannya, mereka menyatakan lukisan itu asli.
Meski demikian, dokumentasi mengenai penelitian tersebut, termasuk identitas para peneliti, metode pemeriksaan, maupun hasil analisisnya, masih perlu dihimpun agar klaim atribusi dapat diverifikasi secara lebih kuat.
Dalam dunia seni rupa, proses autentikasi sebuah lukisan tidak cukup hanya dengan melihat tanda tangan yang tercantum di permukaan karya.
Sejumlah aspek perlu diperiksa, mulai dari material yang digunakan, teknik melukis, karakteristik cat, kanvas, usia material, kondisi fisik, hingga provenans atau riwayat kepemilikan.
Semakin lengkap bukti tersebut, semakin kuat pula dasar untuk menentukan apakah sebuah karya benar-benar berasal dari tangan seorang seniman tertentu.
Karena itu, lukisan di Ponpes Al Islah masih menjadi sebuah cerita yang menarik sekaligus menyisakan pertanyaan.
Pernah Ditawarkan Rp1 Miliar
Nilai historis yang diduga melekat pada lukisan tersebut juga membuat karya itu pernah ditawarkan untuk dijual.
Budi Harjono menyebut lukisan itu pernah ditawarkan melalui perantara dengan nilai mahar mencapai Rp1 miliar.
Namun, tawaran tersebut tidak berujung pada transaksi.
Budi memilih tidak melepas lukisan itu melalui skema tersebut. Ia mempersilakan calon pembeli yang benar-benar serius untuk datang langsung ke lokasi dan melakukan transaksi secara tunai.
Di balik tawaran bernilai besar itu, Budi memiliki alasan tersendiri untuk mempertahankan cerita lukisan tersebut.
Sebab, bagi dirinya, nilai lukisan itu tidak hanya terletak pada harga jual. Ada perjalanan panjang yang mengiringinya—dari tumpukan lukisan tak terawat di belakang sebuah bengkel di Magelang, kemudian dibawa ke Semarang, hingga akhirnya dirawat di lingkungan pesantren.
Jika Terbukti, Bisa Menambah Jejak Karya Raden Saleh
Raden Saleh merupakan salah satu pelukis Indonesia abad ke-19 yang memiliki reputasi internasional. Karya-karyanya menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mencerminkan perjumpaan tradisi seni Nusantara dengan tradisi seni Eropa.
Karena itu, jika atribusi lukisan di Ponpes Al Islah kepada Raden Saleh kelak dapat dibuktikan melalui penelitian yang terdokumentasi dan terverifikasi, keberadaan karya tersebut berpotensi menambah bahan kajian mengenai sejarah, persebaran, serta perkembangan karya sang maestro.
Lebih dari sekadar sebuah lukisan tua, karya itu menyimpan jejak perjalanan yang panjang.
Pada 1990, ia hanyalah bagian dari tumpukan lukisan yang nyaris tak terurus di belakang sebuah bengkel di Magelang.
Kini, puluhan tahun kemudian, lukisan tersebut berada di sebuah pesantren di Tembalang, Semarang, membawa sebuah pertanyaan besar: benarkah tangan Raden Saleh pernah menggoreskan warna di atas kanvas itu?
Jawabannya masih menunggu pembuktian.
Dan mungkin, justru di situlah daya tarik terbesar lukisan tua tersebut—bukan hanya karena siapa yang diduga melukisnya, tetapi karena perjalanan panjang yang membuatnya tetap bertahan hingga hari ini. (*)
