Prof Kurnianingsih Dikukuhkan Jadi Guru Besar Polines, Bawa Gagasan AI yang Tetap Berpusat pada Manusia

Prof. Kurnianingsih (tengah) resmi dikukuhkan sebagai guru besar ketujuh Polines. Dalam orasinya, ia menekankan pentingnya Edge AI yang berpusat pada manusia untuk kesehatan dan kemandirian bangsa. (Sorot Jateng/M Zainal Arifin)

SOROTJATENG.ID, SEMARANG – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan manusia. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, manusia tetap harus menjadi pusat dalam setiap pemanfaatannya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan utama Prof. Dr. Ir. Kurnianingsih, S.T., M.T., yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kecerdasan buatan Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang (Polines).

Pengukuhan dilakukan dalam Rapat Terbuka Senat Polines di Gedung Serba Guna (GSG) Polines, Kamis (24/9/2026).

Prof. Kurnianingsih menjadi guru besar ketujuh Polines. Profesor kelahiran Semarang, 26 April 1979, tersebut saat ini juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi Polines.

Dalam pengukuhannya, Prof. Kurnianingsih tidak sekadar berbicara mengenai kecanggihan teknologi. Ia justru mengingatkan bahwa AI harus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan manusia dan persoalan nyata di masyarakat.

Bawa Riset Lebih dari Satu Dekade ke Panggung Guru Besar

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Kurnianingsih mengangkat tema “Kecerdasan Buatan Tepi yang Berpusat pada Manusia untuk Kesehatan dan Kemandirian Hayati Bangsa.”

Orasi tersebut merangkum perjalanan risetnya selama lebih dari satu dekade di bidang kecerdasan buatan.

Riset itu kemudian berkembang ke sejumlah bidang, mulai dari edge AI, human-centered AI, hingga sistem siber-fisik-sosial.

Menurut Prof. Kurnianingsih, perkembangan tersebut menjadi bagian dari arah teknologi global sekaligus sejalan dengan kebijakan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Ia mendorong agar pengembangan AI di Indonesia tidak berhenti pada kemampuan teknologi, tetapi menghasilkan sistem yang dekat dengan manusia, memberikan manfaat nyata, dan mendukung kemandirian bangsa.

Tak Harus Selalu Bergantung pada Cloud

Salah satu gagasan yang disoroti Prof. Kurnianingsih adalah pengembangan edge AI.

Berbeda dengan sistem yang sepenuhnya bergantung pada pusat data atau cloud, teknologi edge AI memungkinkan proses kecerdasan buatan dilakukan langsung pada perangkat yang berada dekat dengan sumber data.

Konsep tersebut dinilai penting untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari perangkat di ruang bersalin, rumah lansia, mesin ekstraksi, hingga perkebunan sawit.

Dengan pemrosesan di perangkat, sistem tetap dapat menjalankan fungsi tertentu meskipun koneksi jaringan mengalami gangguan.

Bagi Prof. Kurnianingsih, kemampuan tersebut menjadi penting ketika AI diterapkan pada sektor yang membutuhkan respons cepat dan keberlanjutan layanan.

AI Harus Dirancang untuk Manusia

Prof. Kurnianingsih menekankan sedikitnya empat prinsip dalam pengembangan AI.

Pertama, AI perlu mampu berjalan pada perangkat edge tanpa selalu bergantung pada cloud.

Kedua, AI harus berpusat pada manusia. Artinya, sistem tidak semata-mata dirancang berdasarkan kemampuan teknologi, tetapi juga kebutuhan dan kondisi pengguna.

Ketiga, pengembangan edge AI membutuhkan pola riset yang berbeda. Kemampuan model untuk berjalan pada perangkat sasaran harus diuji sejak awal, bersamaan dengan tingkat akurasinya.

Keempat, kesehatan dan kemandirian hayati menjadi dua bidang yang dinilai membutuhkan penerapan prinsip-prinsip tersebut.

Indonesia, menurutnya, memiliki modal alam dan sumber daya manusia yang dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan AI pada kedua bidang tersebut.

Kecerdasan Hanyalah Alat

Di balik kecanggihan AI, Prof. Kurnianingsih mengingatkan adanya persoalan yang jauh lebih mendasar.

Teknologi, menurutnya, tetaplah alat. Jika digunakan tanpa memperhatikan kehidupan manusia, nilai kebajikan, serta batas hukum, teknologi justru dapat menimbulkan persoalan baru.

“Kecerdasan hanyalah alat untuk memecahkan masalah. Bila alat itu digunakan tanpa mempertimbangkan kebiasaan hidup yang sehari-hari, nilai kebajikan, dan batas hukum, penggunaannya mudah menimbulkan bencana yang tidak terkendali,” ujarnya.

Karena itu, pengembangan AI harus tetap dikembalikan pada tujuan utama teknologi, yakni membantu manusia.

“Karena itu, seluruh kerangka yang saya paparkan hari ini bermuara pada satu hal, yaitu manusia,” tegasnya.

Polines Dorong Lahirnya Lebih Banyak Guru Besar

Direktur Polines, Dr. Garup Lambang Goro, S.T., M.T., menyambut bertambahnya guru besar di lingkungan kampus.

Menurutnya, Polines akan terus mendorong dosen, terutama dosen muda, untuk meningkatkan kualifikasi akademik hingga jenjang doktor.

Pasalnya, pendidikan doktor menjadi salah satu tahapan penting untuk menuju jabatan akademik profesor.

“Kami bersyukur sekali, jadi ada satu tambahan guru besar. Kami selalu mendorong seluruh dosen, khususnya juga yang muda-muda, untuk segera menempuh S3 doktor karena profesor itu harus S3 dulu,” kata Garup.

Dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktor juga didorong untuk memenuhi berbagai persyaratan menuju jabatan guru besar.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya Polines meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat tradisi riset di kampus.

AI Mulai Masuk Pembelajaran di Polines

Garup mengatakan pemanfaatan AI di Polines saat ini tidak hanya dilakukan dalam penelitian.

Teknologi tersebut juga mulai diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Penggunaannya pun tidak terbatas pada Jurusan Teknik Elektro.

“Di khususnya di Jurusan Elektro, tapi juga tidak terbatas Elektro. Di bidang lain ini sudah, baik riset maupun pengabdian masyarakat maupun pengajaran, itu sudah kita terapkan,” ujarnya.

Dengan bertambahnya guru besar, Polines berharap pengembangan riset dan kualitas pendidikan semakin kuat.

Garup mengatakan saat ini Prof. Kurnianingsih menjadi guru besar ketujuh Polines.

Untuk pengajuan guru besar berikutnya, kampus masih mendorong para dosen memenuhi persyaratan yang kini semakin ketat.

Bagi Polines, pengukuhan guru besar baru bukan sekadar penambahan jumlah profesor.

Lebih jauh, momentum tersebut menjadi dorongan untuk memperkuat riset dan pendidikan, termasuk dalam bidang teknologi AI yang semakin menentukan masa depan berbagai sektor kehidupan. (*)