Kemarau Panjang Bikin Sumur Mengering, IJTI Muria Raya Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Kudus

Kemarau panjang membuat sumur warga Desa Setrokalangan, Kudus, mengering. IJTI Korda Muria Raya menyalurkan 20 ribu liter air bersih ke 16 titik toren untuk membantu warga. (Dok IJTI Muria Raya)

SOROTJATENG.ID, KUDUS – Kemarau panjang mulai membuat warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, kesulitan mendapatkan air bersih.

Sejumlah sumur warga bahkan mulai mengering sehingga kebutuhan sehari-hari tak lagi bisa dipenuhi dengan mudah.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi masyarakat. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya bersama sejumlah pihak menyalurkan 20 ribu liter air bersih kepada warga Desa Setrokalangan, Selasa (22/9/2026) sore.

Air bersih tersebut didistribusikan dengan mengisi sejumlah toren atau penampungan air yang telah tersedia di berbagai titik desa. Warga kemudian dapat mengambil air dari lokasi penampungan terdekat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Mifthakhudin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari bakti sosial IJTI Muria Raya untuk membantu masyarakat yang terdampak krisis air bersih.

Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan, seperti Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini, bantuan menyasar warga Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus.

“Alhamdulillah untuk hari ini kami dari IJTI Korda Muria Raya kembali melaksanakan kegiatan bakti sosial membagikan air bersih. Sebelumnya kita membagikan di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini kita di Kabupaten Kudus dengan total membawa 20 ribu liter air,” ujar Iwhan.

Menurut Iwhan, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang.

Kegiatan sosial ini juga melibatkan sejumlah pihak, di antaranya PT Pura dan PT Djarum. Penyaluran air bersih tersebut sekaligus menjadi bagian dari momentum memperingati Hari Jadi Kudus ke-477.

“Kegiatan ini kami harapkan bisa sedikit membantu warga masyarakat sehingga mereka bisa memanfaatkan air yang kami bawa. Kami juga berharap kemarau ini tidak berkepanjangan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Air Disalurkan ke 16 Titik Toren

Iwhan menjelaskan, penyaluran air bersih dilakukan dengan mengisi toren yang tersebar di sejumlah titik di Desa Setrokalangan.

Sistem tersebut dipilih karena dinilai lebih memudahkan warga. Masyarakat tidak perlu mengambil air terlalu jauh dan bisa memanfaatkan penampungan yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

“Pemerintah daerah sudah menyiapkan penampungan atau toren di beberapa titik. Jadi sistemnya kita mengisi toren-toren yang tersebar di desa ini. Kalau membutuhkan air bersih, warga bisa langsung ke titik-titik toren atau penampungan,” jelasnya.

Kepala Desa Setrokalangan, Didik Handono, mengatakan dampak kekeringan di wilayahnya semakin meluas karena hujan belum juga turun.

Menurutnya, sebagian besar sumber air warga yang mengandalkan sumur dalam mulai mengering. Kondisi itu membuat masyarakat terpaksa mengandalkan pasokan air bersih dari pemerintah desa maupun bantuan dari berbagai pihak.

“Kondisi kekeringan di desa ini memang belum ada hujan atau kemarau yang panjang. Intinya yang terdampak ini bertambah dari hari ke hari. Itu dikarenakan sumber air warga dari sumur dalam memang sudah tidak ada,” ungkap Didik.

Di Desa Setrokalangan, terdapat sedikitnya 16 titik toren atau penampungan air. Kapasitas masing-masing penampungan bervariasi, mulai dari sekitar 2.000 hingga 5.200 liter. Namun, sebagian besar toren memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter.

Kekeringan mulai dirasakan warga sejak awal Agustus. Seiring kondisi yang semakin sulit, masyarakat kini mengandalkan bantuan air dari pemerintah desa maupun pihak luar.

“Sebagian warga memang mengandalkan bantuan dari luar dan juga dari pemerintah desa. Pemdes juga berinisiatif akan ada pengeboran sumur dari Polres,” katanya.

Warga Ambil 12 Ember Air Setiap Hari

Kesulitan mendapatkan air bersih dirasakan langsung oleh warga. Aziz, warga RT 04/RW 01 Desa Setrokalangan, mengaku sudah sekitar dua pekan mengalami kesulitan mendapatkan air.

Ia mengatakan sumur warga mulai mengering sehingga pompa air tidak lagi dapat digunakan secara normal.

“Kekurangan sudah ada dua mingguan. Sehari-hari kalau ada sanyo malam, kalau pagi dan sore mati. Jadi sumur-sumur pada kering semua,” ujar Aziz.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aziz bersama warga lainnya kini mengandalkan air dari toren bantuan.

Dalam sehari, keluarganya bisa mengambil sekitar 12 ember air yang dilakukan pada pagi dan sore hari. Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk mandi dan memasak.

“Kebutuhan sehari-hari nunggu bantuan. Alhamdulillah ada bantuan untuk mandi, untuk masak alhamdulillah bisa lancar. Setiap hari sekitar 12 ember, pagi dan sore ambil di toren,” pungkasnya.

Bagi warga Desa Setrokalangan, pasokan air bersih di tengah kemarau menjadi kebutuhan yang sangat penting. Bantuan tersebut setidaknya membantu masyarakat bertahan memenuhi kebutuhan dasar sambil menunggu hujan kembali turun. (*)